The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Jokowi Ungkap Jerman Hingga Tiongkok Kucurkan Stimulus Fiskal, Tapi PDB Tetap Terkontraksi
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato pengantar RUU APBN tahun anggaran 2021 beserta nota keuangannya pada masa persidangan I DPR tahun 2020-2021 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2020). (Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)
News

Jokowi Ungkap Jerman Hingga Tiongkok Kucurkan Stimulus Fiskal, Tapi PDB Tetap Terkontraksi

Meski stimulus fiskal dikucurkan, banyak negara tatap resesi

Jumat, 14 Agustus 2020 15:16 WIB 14 Agustus 2020, 15:16 WIB

INDOZONE.ID - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato nota keuangan pengantar RUU APBN 2021 mengatakan, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, telah menjadi bencana kesehatan dan kemanusiaan di abad ini yang berimbas pada semua lini kehidupan manusia.

Berawal dari masalah kesehatan, dampak pandemi Covid-19 telah meluas ke masalah sosial, ekonomi, bahkan ke sektor keuangan.

Penanganan yang luar biasa juga disebut telah dilakukan oleh banyak negara, terutama melalui stimulus fiskal. Namun demikian, meski stimulus fiskal dikucurkan, banyak negara ternyata tak bisa lepas dari jurang resesi.

"Jerman mengalokasikan stimulus fiskal sebesar 24,8% PDBnya, namun pertumbuhannya terkontraksi minus 11,7% di kuartal kedua 2020. Amerika Serikat mengalokasikan 13,6% PDB, namun pertumbuhan ekonominya minus 9,5%. Tiongkok mengalokasikan stimulus 6,2% PDB, dan telah kembali tumbuh positif 3,2% di kuartal kedua, namun tumbuh minus 6,8% di kuartal sebelumnya," ungkap Jokowi, Jumat (14/8/2020).

Presiden Jokowi mengatakan, hal serupa berupa pemberian stimulus fiskal juga dilakukan oleh pemerintah. Bahkan, melalui Undang-undang No. 2 tahun 2020, pemerintah antara lain memberi relaksasi defisit APBN dapat diperlebar di atas 3% selama tiga tahun. Bahkan untuk tahun 2020, APBN telah diubah dengan defisit sebesar 5,07% PDB dan kemudian meningkat lagi menjadi 6,34% PDB.

"Pelebaran defisit dilakukan mengingat kebutuhan belanja negara untuk penanganan kesehatan dan perekonomian meningkat pada saat pendapatan negara mengalami penurunan," tuturnya.

Jokowi mengatakan, pemerintah saat ini  fokus mempersiapkan diri menghadapi tahun 2021. Menurutnya, ketidakpastian global maupun domestik masih akan terjadi di 2021, maka itu, program pemulihan ekonomi akan terus dilanjutkan bersamaan dengan reformasi di berbagai bidang.

"Kebijakan relaksasi defisit melebihi 3% dari PDB masih diperlukan, dengan tetap menjaga kehati-hatian, kredibilitas, dan kesinambungan fiskal," jelasnya.

Adapun rancangan kebijakan APBN 2021, lanjut Jokowi, diarahkan untuk pertama mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19, kedua, mendorong reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing ekonomi, ketiga, mempercepat transformasi ekonomi menuju era digital, serta keempat, pemanfaatan dan antisipasi perubahan demografi.

"Karena akan banyak ketidakpastian, RAPBN harus mengantisipasi ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia, volatilitas harga komoditas, serta perkembangan tatanan sosial ekonomi dan geopolitik, juga efektivitas pemulihan ekonomi nasional, serta kondisi dan stabilitas sektor keuangan," tuturnya.

"Pelaksanaan reformasi fundamental juga harus dilakukan reformasi pendidikan, reformasi kesehatan, reformasi perlindungan sosial, dan reformasi sistem penganggaran dan perpajakan," pungkasnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Edi Hidayat
Sigit Nugroho

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US