The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Astaga! 500 Anak Jadi Perokok Aktif Semenjak Pandemi COVID-19, Ini Penjelasannya
Ilustrasi anak-anak merokok. (Facebook)
News

Astaga! 500 Anak Jadi Perokok Aktif Semenjak Pandemi COVID-19, Ini Penjelasannya

Selasa, 29 September 2020 18:03 WIB 29 September 2020, 18:03 WIB

INDOZONE.ID - Yayasan Arek Lintang menemukan sedikitnya 500 anak telah menjadi perokok aktif selama pandemi COVID-19 berlangsung.

Temuan ini dilakukan Yayasan Arek Lintang bekerjasama dengan Koalisi Stop Child Abuse.

Anak-anak tersebut merokok di tempat-tempat umum seperti warung kopi.

"Kebetulan saat kondisi pandemi anak-anak tidak ada kegiatan sekolah tatap muka, sehingga banyak menggunakan wifi dan belajar daring di warung kopi, tetapi di sana mereka juga merokok," kata Tim Baseline Survey Koalisi Stop Child Abuse Lisa Febriyanto dilansir dari ANTARA, Selasa (29/9/2020).

Lisa mengatakan, temuan ini adalah hasil survei yang dilakukan di 5 Regional State. Yakni Surabaya, Sidoarjo, Malang Raya, Jember-Banyuwangi dan DI Yogyakarta.

Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang Yuliani Umrah mengatakan, prevalensi perokok anak di masa pandemi mengalami kenaikan.

"Kami ingin mengajak berfikir bersama dengan adanya temuan tersebut. Kalau kemudian kami hanya menemukan 500 anak yang menjadi perokok, besar kemungkinan jumlah tersebut lebih dari seribu atau bahkan sepuluh ribu anak yang menjadi perokok," katanya.

Yuliani meminta agar temuan ini ditindaklanjuti.

"Harapan kami ke depan, kita satu suara ke pemerintah pusat bagaimana mengatur kebijakan selanjutnya," ujar Yuliani.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur Adik Dwi Putranto menambahkan, pihaknya terbuka atas temuan Koalisi Stop Child Abuse ini.

"Kalau kita bicara rokok, yang punya pabrik rokok saja tidak ingin anaknya yang kecil merokok. Begitu juga pekerjanya. Termasuk pedagang-pedagang kecil eceran saya pastikan mereka tidak mau anak-anaknya merokok. Tentu ini akan mencari titik temu," katanya.

Wakil Ketua Umum Bidang Cukai dan Pemberdayaan Perempuan Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur Sulami Bahar mengaku tertarik dengan hasil penelitian tersebut.

Ketua Gabungan Pengusaha Rokok Surabaya ini juga membenarkan bahwa prevalensi anak perokok Indonesia terus mengalami kenaikan. 

Di tahun 2018 naik 9,1 persen. Gabungan Pengusaha Rokok sendiri sepakat untuk menurunkannya di tahun ini menjadi 8,4 persen.

"Dari industri kami tidak menghindari adanya kenaikan prevalensi perokok anak karena selama ini kami sudah melakukan aturan yang telah ditentukan. Tetapi kami tidak bisa kontrol keseluruhan rokok kalau sudah ada di market. Tetapi kami selalu memberikan himbauan kepada agen dan penjual agar tidak menjual rokok pada anak," katanya.

Menurut Sulami, asumsi perokok dini dipicu karena harga rokok murah tidak sepenuhnya benar.

Faktor dominan yang menjadi penyebab perokok usia dini adalah latarbelakang keluarga yang juga perokok, pendidikan dan lingkungan sosial.

"Adanya keluarga merokok yang tinggal serumah berpeluang tiga kali menyebabkan anak usia dini mengkonsumsi rokok. Pendidikan ayah yang rendah berpeluang 1,4 kali lebih besar bagi anak usia dini mengkonsumsi rokok," tuturnya.

Artikel Menarik Lainnya:



 

TAG
Nanda Fahriza Batubara

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US