The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Heboh Buku yang Dibaca Anies, Reaksi Wagub Jakarta Mengejutkan, 'Nggak Usah Berlebihan'
Kolase foto Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria (Indozone) dan Gubernur Anies Baswedan (Instagram @aniesbaswedan)
News

Heboh Buku yang Dibaca Anies, Reaksi Wagub Jakarta Mengejutkan, 'Nggak Usah Berlebihan'

Selasa, 24 November 2020 17:08 WIB 24 November 2020, 17:08 WIB

INDOZONE.ID - Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria meminta masyarakat bijak menyikapi foto Gubernur Anies Baswedan yang sedang membaca buku.

Buku berjudul 'How Democracies Die' itu seperti diketahui menuai sorotan usai diunggah Anies melalui akun media sosialnya, Minggu (22/11/20200.

"Pak Anies dan banyak pemimpin lainnya biasa baca buku. Judulnya macam-macam. Mulai dari judul soal agama sampai seni budaya. Jadi, saya kira, kita sikapi secara bijak. Nggak usah berlebihan," kata Riza dilansir dari ANTARA, Selasa (24/11/20200.

Menurut Riza, membaca buku merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh para pemimpin dengan berbagai topik dan judul.

"Pemimpin membaca buku itu biasa. Sesuatu yang baik dengan berbagai judul. Jadi, tidak usah ditafsirkan berlebihan," ujar Riza.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membagikan foto sedang bersantai sembari membaca buku berjudul How Democracies Die. Foto tersebut kemudian diunggah ke berbagai platform media sosial Anies.

Unggahan inipun menuai beragam tanggapan. Sebab dinilai sebagai perwakilan situasi saat ini, bagi sebagian orang. 

"Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," tulis Anies dalam keterangan unggahannya.

Pada foto yang dibagikan, Anies terlihat mengenakan kemeja putih lengan pendek. Sedangkan untuk bawahan dia memilih pakai sarung hingga menunjukkan kesan santai. Penampilannya semakin mantan ditunjang aksesoris jam di pergelangan lengan kiri.

Sembari duduk, dia fokus membaca buku bersampul hitam yang judulnya menuai sorotan.

Analis politik Exposit Strategic, Arif Susanto, menjelaskan, konteks isi buku How Democracies Die mengacu pada terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

"Tapi tidak semata-mata membahas Amerika Serikat," kata dia dilansir dari ANTARA, Senin (23/11/2020).

Arif memaparkan, kedua penulis How Democracies Die menyuguhkan pandangan berbeda. Kedua penulis, Daniel Ziblatt and Steven Levitsky menunjukkan fenomena terkini bahwa, demokrasi bisa berakhir tidak dengan cara runtuh.

“Demokrasi bisa juga runtuh pelan-pelan." Fenomena ini disebut Ziblatt dan Levitsky dengan baby step.

Arif merangkum tiga pemikiran Ziblatt dan Levitsky. Pertama, ancaman terhadap demokrasi bisa berasal dari sebuah pemerintahan yang terpilih lewat pemilu. Kedua, demokrasi terancam pelan-pelan, salah satunya dengan menghalangi kebebasan.

Ketiga, demokrasi berpeluang melahirkan demagog atau pemimpin yang berlagak memihak kepada rakyat (populis), tapi justru menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Sehingga, masyarakat terpolarisasi, dalam bahasa mudah diadu domba.

"Mirip dengan di Indonesia dalam dua pemilu terakhir," tuturnya.

Lihat unggahan Anies selengkapnya di bawah ini:

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Nanda Fahriza Batubara
JOIN US
JOIN US