The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Divonis Hukuman Mati, Istri Hakim PN Medan Beberkan Kelakuan Suaminya Suka Main Perempuan
Zuraidah Hanum (41), terpidana mati pembunuhan Hakim PN Medan, Jamaluddin. (Foto: Instagram)
News

Divonis Hukuman Mati, Istri Hakim PN Medan Beberkan Kelakuan Suaminya Suka Main Perempuan

Kamis, 02 Juli 2020 13:29 WIB 02 Juli 2020, 13:29 WIB

INDOZONE.ID - Dengan air mata yang berderai, Zuraidah Hanum, istri almarhum Hakim Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin, mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan hakim yang memvonisnya dengan hukuman mati, pada sidang putusan yang digelar Rabu (1/7/2020).

Zuraidah kecewa karena dia merasa keterangannya yang disampaikannya selama persidangan, terutama soal alasannya membunuh suaminya dengan terencana, tidak didengar oleh hakim. Keterangan yang dia maksud adalah soal kelakuan suaminya yang dia katakan sering mengkhianatinya dengan selingkuh dengan perempuan lain.

Jamaluddin semasa hidup, kata dia, sering "main perempuan" dan bahkan membiayai perempuan-perempuan lain, membelikan mobil dan mentransfer uang.

"Padahal sudah cukup sakit saya dibikinnya. Polisi sudah memanggil beberapa perempuan-perempuannya itu. Memang di persidangan gak ada mereka dipanggil, tapi polisi tahu nama-nama perempuan yang dia pakai, yang dia belikan mobil. Yang dia biayai, yang dia sering transfer uang," ujar Zuraidah sambil menangis.

Zuraidah pun merasa hukum yang berlaku sangat patriarkis dan misoginis karena suaranya selama persidangan seolah tidak dipertimbangkan.

"Kecewa saya pada putusan ini. Mereka lebih melihat ke jabatan dia tanpa mempertimbangkan naluri saya sebagai seorang perempuan. Mereka juga lahir dari rahim perempuan, tapi mereka tidak bisa sedikit saja punya nurani, seolah saya paling bersalah di sini tanpa sebab apapun," katanya.

Banding

Onan Purba, pengacara Zuraidah, juga kecewa berat atas putusan hakim yang memvonis kliennya dengan hukuman mati. Menurutnya, keputusan hakim tidak memperhatikan seluruh kepentingan di dalam perkara tersebut, di antaranya menyangkut kedudukan Zuraidah sebagai ibu dari anak Jamaluddin. Seperti diketahui, buah hati Zuraidah dan Jamaluddin masih berusia 5 tahun.

"Kita hargai putusan pengadilan, tapi kami tidak sependapat dengan putusan itu hingga kami lakukan banding dalam waktu dekat. Produk hukum jangan menimbulkan korban bagi orang lain. Kalau dia dihukum mati, anaknya itu kan masih ada. Dia sudah tidak punya ayah lagi karena sudah meninggal, kasih sayang ibu pun tidak dinikmatinya. Apa tidak pelanggaran hukum," ujar Onan kepada Indozone.id, Kamis (2/7/2020).

Ditegaskan Onan, anak berhak mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan memvonis Zuraidah dengan hukuman mati sama dengan menyingkirkan hak anak Jamaluddin.

"Apa itu tidak pelanggaran hukum dan melanggar hak azasi manusia bagi anaknya yang masih kecil itu. Kapan lagi dia berinteraksi dengan mamaknya," kata Onan.

Libatkan Pacar

Seperti diketahui, dalam membunuh suaminya, Zuraidah melibatkan pacarnya, Jefry Pratama (eksekutor), dan Reza Fahlevi (pembantu eksekutor).

"10 tahun saya menikah dengan Jamaluddin, saya merasa dikhianati. Sakit yang rasakan sulit digambarkan. Sakitnya sudah melewati batas. Dari awal kami menikah, saya berniat jadi istri yang baik untuk dia. Saya pernah minta cerai, tapi saya dicekiknya. Jamal bilang 'jangan kau minta cerai, saya seorang hakim, jangan kau bikin malu saya'," ungkap Zuraidah dalam persidangan pada pertengahan Mei lalu.

Zuraidah sendiri menjanjikan Jefry hadiah umrah, mobil Pajero, uang Rp 100 juta, membangunkannya kantor advokat, serta akan membelikannya rumah di kawasan Citra Wisata Medan jika Jamaluddin telah terbunuh.

Itu semua karena dia tak tahan lagi dengan pengkhianatan dan kekejaman yang dilakukan Jamaluddin semasa hidup. Jamaluddin, katanya, terang-terangan selingkuh di hadapannya.

"Suami saya, Jamaluddin itu, juga pernah menganiaya saat saya sedang hamil, dan melukai bagian muka saya dengan benda tajam," ujar Zuraidah, seperti dilansir Antara.

"Jadi inilah salah satu penyebab saya berniat untuk membunuh Jamal dengan cara meminta bantuan kepada Jefry Pratama dan Reza Fahlevi serta menjanjikan mereka imbalan," imbuh Zuraidah.

Jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Medan Parada Situmorang, dalam dakwaannya di PN Medan menyebutkan, korban Jamaluddin dihabisi di dalam rumahnya di Kompleks Perumahan Royal Monaco Blok B nomor 22, Medan Johor, tanggal 29 November 2019 sekitar pukul 03.00 WIB.

Jamaluddin dibunuh oleh Reza Fahlevi, Jefry Pratama, Zuraida Hanum, dengan cara dibekap hidung dan mulutnya dengan menggunakan kain sarung bantal hingga lemas dan akhirnya meninggal dunia.

Selanjutnya, mereka bertiga membuang jasad Jamaluddin ke jurang yang ada di Dusun II Namo Rindang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumut, Jumat (29/11/2019).

Jasad Jamaluddin ditemukan warga di dalam mobil Toyota Land Cruiser Prado bernomor plat BK 77 HD warna hitam. Saat ditemukan jenazah Jamaluddin sudah membiru dengan kondisi terbaring di bangku belakang.

Jefry Pratama sendiri divonis hukuman seumur hidup. Sedangkan Reza, divonis hukuman 20 tahun penjara.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US