Ketahui Taktik & Ciri Grooming, Modus Pelecehan Seksual Pada Anak
photo/Ilustrasi/gurudacidade.com.br
News

Ketahui Taktik & Ciri Grooming, Modus Pelecehan Seksual Pada Anak

Sabtu, 27 Juli 2019 14:38 WIB 27 Juli 2019, 14:38 WIB

INDOZONE.ID - Nampaknya, orang tua harus semakin waspada dengan maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak. Khusus perlindungan anak dari pelecehan seksual, semestinya orang tua tidak hanya mengajari putra-putrinya agar tidak melanggar norma agama dan sosial. Lebih dari itu, anak-anak juga perlu penjelasan dan gambaran tentang perilaku penyimpangan seksual serta pengetahuan sejenis lainnya.

Belakangan ini, muncul pula istilah 'grooming', modus baru pelecehan seksual, terutama yang menyasar kepada anak-anak. Menurut National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), grooming adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi, dan melecehkan mereka. 

Lewat modus pelecehan seksual ini, pelaku yang disebut 'groomer', meyakinkan korbannya untuk segera mengirimkan gambar maupun video telanjang dan alat kelamin, melalui direct message media sosial atau lewat pesan WhatsApp (WA).

Kasus grooming ini pun sudah beberapa kali terjadi di Indonesia. Seperti belum lama ini, pihak kepolisian mengungkap tersangka pelecehan seksual terhadap anak-anak berinisial TR (25). Pelaku yang kini mendekam di tahanan Surabaya ini melakukan aksi grooming dengan taktik menggunakan akun palsu untuk mendapatkan foto ataupun video korbannya.

"Setelah komunikasi, tersangka memerintahkan kepada anak untuk melakukan kegiatan, untuk melakukan apa yang diperintahkan, apa yang diperintahkan, yaitu membuka pakaian. Kemudian, lebih dari itu, si anak disuruh menyentuh bagian intimnya," kata Wadirtipid Siber Bareskrim Polri Kombes Asep Safrudin di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (22/7).

Kasus ini terungkap dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang adanya seorang guru yang mengadu akun media sosialnya dipalsukan. Dari penyelidikan polisi, diketahui bahwa akun guru tersebut dipalsukan oleh tersangka TR.

"Hasil penelusuran, lebih dari 1.300 dalam akun e-mail-nya tersangka ada 1.300 foto dan video, semua anak tanpa busana. Yang sudah teridentifikasi ada 50 anak dengan identitas berbeda," ungkap Asep.

Mengenal Lebih Dekat tentang Grooming

Menurut kamus, kata 'grooming' memiliki makna afeksi dalam hubungan antar makhluk hidup (baik manusia ataupun hewan) melalui sentuhan fisik. Dalam konteks sosial, grooming dilakukan oleh mereka yang memiliki kedekatan dan ikatan demi membentuk struktur sosial.

Pelaku grooming atau disebut groomer melakukan aksinya pada anak-anak. Seorang groomer tidak hanya dari lingkungan luar (orang lain), tetapi juga bisa berpotensi muncul dari lingkungan keluarga sendiri.

photo/Ilustrasi/gurudacidade.com.br
photo/Ilustrasi/gurudacidade.com.br

Groomer kerap menyerang anak-anak yang tertutup, tidak populer, kurang kasih sayang, tidak percaya diri, terisolasi dari khalayak, sering menghabiskan waktu sendiri, kurang diawasi orang tua dan mengalami masalah keluarga. 

Proses grooming ini bisa dilakukan dalam waktu singkat atau lama. Awalnya, groomer akan menampilkan kesan positif terhadap anak. Mereka menunjukkan ketertarikan pada anak kecil dan kerap menyenangkan hati mereka. Ini adalah cara mereka untuk mendekati korban secara perlahan.

Hubungan atau kedekatan yang dibangun oleh seorang groomer bisa beragam. Seorang groomer bisa bergaya seperti seorang mentor atau sosok yang diidolakan oleh sang anak. Biasanya, dalam menjalankan aksi, groomer menggunakan berbagai platform, mulai dari situs media sosial, e-mail, WhatsApp, atau chat forum.

Taktik Grooming

photo/Ilustrasi/Daily
photo/Ilustrasi/Daily Times

Menurut seorang ahli tumbuh kembang anak, Donna L. Stewart, Ph.D, ada beberapa langkah-langkah yang dilakukan seorang pelaku grooming dalam aksinya. Di antaranya, sebagai berikut:

  • Membangun kepercayaan dan meruntuhkan pertahanan diri seorang anak
  • Berpura-pura berbagi ketertarikan, latar belakang, pengalaman dan lain hal yang serupa
  • Memberi hadiah sebagai cinderamata pertemanan
  • Mengajak bermain-main
  • Memberi tumpangan kendaraan
  • Memberi akses berharga, hal pribadi, keleluasaan atau melakukan aktivitas tanpa batas.
  • Menjadi pendengar yang baik dan memberi simpati
  • Berusaha meyakinkan keluarga
  • Melakukan hubungan dekat dengan orang tua (orang tua tunggal atau keluarga berantakan adalah target utama)
  • Berupaya memperoleh kepercayaan atau mengambil keuntungan kepercayaan orang tua si anak atau pengasuh anak
  • Berperilaku sebaik dan sewajar mungkin untuk menghilangkan kemungkinan dicurigai
  • Meningkatkan kontak fisik secara tidak wajar seperti memeluk, menyentuh area tubuh tidak berbahaya (tangan, menggosok punggung, menggaruk rambut, dan lainnya)
  • Berpura-pura tidak sengaja menyentuh atau bertubrukan dengan si bocah
  • Memposisikan fisik berdekatan dengan calon korban (tidur di ranjang sama)
  • Melibatkan anak dalam perilaku non-seksual yang tidak tepat (merokok, minum alkohol, dan sebagainya)
  • Menyentuh atau mengelus di bagian tubuh anak secara tak wajar
  • Melakukan hubungan diam-diam dengan anak
  • Mengatakan pada anak bahwa sentuhan antara mereka adalah baik dan hubungan mereka spesial
  • Memberi tahu anak ada konsekuensi jika mereka melaporkan perilaku tersebut. Contoh: "kalau kejadian ini sampai diketahui, maka kamu akan dibenci oleh keluargamu"
  • Berupaya membuat si anak patuh
  • Meningkatkan intensitas perilaku seksual berkali-kali
  • Memanipulasi anak untuk melakukan atau membolehkan mereka melakukan aktivitas seksual yang anak-anak suka
  • Mengancam melukai korban atau seseorang yang dekat dengan korban jika mereka tidak menurut

Ciri-ciri Anak yang Terindikasi Korban Grooming

photo/Ilustrasi/kidspot.com.au
photo/Ilustrasi/kidspot.com.au

Nah, ciri-ciri seorang anak yang terindikasi menjadi korban grooming bisa terlihat, seperti berikut ini:

1. Sangat Tertutup, Mudah Tertekan, dan Sensitif

Biasanya, anak yang menjadi korban grooming akan menjadi sangat tertutup. Bahkan untuk hal-hal yang biasanya lazim diketahui orang lain, termasuk kepada orang tuanya sendiri. Selain tertutup, anak yang terindikasi korban grooming akan mudah tertekan dan menjadi sensitif. 

2. Memiliki Barang Baru dan Uang Berlebih

Buat para orang tua, coba sesekali perhatikan tingkah laku anak, apakah dia memiliki barang baru dan uang berlebih. Jika iya, bisa jadi si anak merupakan korban grooming. Maka, cobalah lakukan pendekatan lebih agar anak mau terbuka dan segera laporkan kepada pihak berwenang.

3. Punya Pacar Lebih Tua

Ini sangat terlihat. Jika pergaulan anak tidak seperti anak-anak seusianya, seperti memiliki banyak teman yang lebih tua, atau bahkan memiliki pacar yang lebih tua. Kalau itu terjadi, bisa jadi si anak telah menjadi korban grooming.

TAG
Rizka
Rizka
Rizka

Rizka

Writer
Rizka

Rizka

Reporter

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU