The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Marak Klaim Penemuan Obat Covid-19, Ini Tanggapan YLKI
Ilustrasi vaksin corona. (Pexels/Cottonbro)
News

Marak Klaim Penemuan Obat Covid-19, Ini Tanggapan YLKI

Didasari berbagai faktor.

Senin, 10 Agustus 2020 11:32 WIB 10 Agustus 2020, 11:32 WIB

INDOZONE.ID - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersuara terkait maraknya klaim penemuan obat untuk menyembuhkan virus Corona atau Covid-19. YLKI berpendapat, klaim tersebut selain didasari oleh faktor ekonomi, tekanan psikologis yang dirasakan banyak orang terkait adanya Covid-19 juga membuat hal itu menjadi perhatian banyak orang. 

Sebagaimana diketahui, beberapa pihak mengklaim telah menemukan obat atau vaksin untuk penyembuhan virus Corona. Selain BUMN Bio Farma yang disebut tengah merampungkan uji klinis terkait vaksin Covid-19, publik juga belakangan dihebohkan oleh kasus Hadi Pranoto yang mengklaim menemukan obat herbal untuk penyembuhan penyakit mematikan tersebut. 

"Masyarakat juga mengalami tekanan ekonomi yang sangat dalam, karena pendapatannya turun, gaji dipotong, dirumahkan, bahkan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK)," kata Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi dalam dalam konferensi pers hari ini, Senin (10/8/2020). 

Tulus mengatakan, lemahnya literasi masyarakat terhadap produk obat, jamu, dan herbal, kemudian dimanfaatkan oleh orang untuk mengklaim bahwa mereka berhasil menemukan obat tersebut. 

Terlebih lagi, pihak berwenang juga belum optimal melakukan penegakan hukum terkait hal itu. Tulus sendiri menyoroti soal banyaknya over klaim oleh jamu tradisional atau herbal di media sosial, seperti klaim anti kanker, darah tinggi, asam urat dan lainnya. Kasus-kasus yang sudah masuk ke ranah hukum mengenai produk herbal yang tidak mengantongi izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hanya divonis hukuman ringan dan tidak memberi efek jera bagi pelakunya. Hal ini yang kemudian memicu kasus ini terus berulang. 

"Jalan keluar yang saya rekomendasikan memperbarui politik manajemen penanganan wabah, tak bisa atasi pandemi jangan mimpi ekonomi akan membaik. Mendorong peningkatan literasi masyarakat konsumen terhadap produk obat, jamu tradisional, dan herbal," tuturnya. 

Tulus juga menilai, pemerintah masih terlalu fokus pada aspek ekonomi dan cenderung lemah dalam penanganan masalah kesehatan. Hal ini bisa dilihat dari rendahnya angka serapan stimulus kesehatan yang dianggarkan pemerintah untuk mengatasi dampak Covid-19. 

Tulus pun menilai Pemerintah keliru karena mengutamakan aspek ekonomi, dibanding aspek Kesehatan, padahal penanganan pandemi Covid-19 adalah dasar utama yang harus diselesaikan lebih dulu.

"Pejabat-pejabat publik memberikan contoh yang buruk dalam merespon pandemi juga turut mempengaruhi banyak bermunculannya obat virus corona. Mulai dari nasi kucing anti corona, doa anti corona, sampai kalung eucalyptus oleh Kementerian Pertanian. Artinya selevel pejabat publik kok bisa memberikan contoh yang tidak baik dan tidak produktif," pungkasnya.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG
TERKAIT DENGAN INI

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US