The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

NTT Berduka Diterjang Banjir Bandang, Korban Tewas Kini 68 Orang, 70 Orang Hilang Terseret
Warga mengevakuasi korban akibat banjir bandang di Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Senin (5/4/2021). ANTARA FOTO/Pion Ratuloli.
News

NTT Berduka Diterjang Banjir Bandang, Korban Tewas Kini 68 Orang, 70 Orang Hilang Terseret

Senin, 05 April 2021 17:37 WIB 05 April 2021, 17:37 WIB

INDOZONE.ID - Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah berduka. Bencana banjir bandang melanda sebagian besar wilayah provinsi tersebut pada Minggu dini hari (4/4/2021), sejak pukul 01.00 WITA.

Banjir bandang terbesar terjadi di wilayah Pulau Adonara (Kabupaten Flores Timur) dan Kabupaten Lembata.

Sementara itu, Kabupaten Malaka, Kabupaten Alor, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Sumba Timur, juga cukup parah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Senin siang (5/4/2021), sedikitnya 68 orang meninggal dunia.

Jumlah tersebut masih memungkinkan bertambah karena masih ada 70 orang yang dinyatakan hilang terseret arus banjir.

"Ini masih dalam proses pendataan, jadi ini masih sangat dinamis sekali dari yang kami himpun dari semua wilayah yang terdampak. Ada 68 orang meninggal dunia," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, dalam konferensi pers daring di Jakarta, Senin.

Ist
Tim SAR gabungan mengevakuasi korban meninggal dunia dalam peristiwa banjir bandang di Adonara, Kabupaten Flores Timur, Senin (5/4/2021) (Antara /HO-Basarnas Maumere)

68 korban meninggal itu tersebar di beberapa wilayah. 44 orang di antaranya di Kabupaten Flores Timur, 11 orang di Kabupaten Lembata, 2 orang di Kabupaten Ende, dan 11 orang lainnya di Kabupaten Alor.

Di samping korban jiwa, sedikitnya 15 orang mengalami luka-luka, dengan rincian 9 orang di Flores Timur, satu orang di Kabupaten Ngada, dan 5 orang di Kabupaten Alor.

Untuk 70 orang yang dinyatakan hilang, rinciannya yakni 26 orang di Flores Timur, 16 orang di Kabupaten Lembata, dan 28 orang di Kabupaten Alor.

Dampak dari bencana banjir ini, kata Raditya Jati, sedikitnya 938 keluarga atau 2.655 jiwa ikut terdampak.

"BMKG telah menerbitkan peringatan dini terkait bahaya gelombang tinggi yang berlaku dari tgl 5 - 6 April 2021 dengan ketinggian gelombang 2,5 - 4 meter. Tidak hanya terdampak di wilayah timur, tapi juga di wilayah barat," terang Raditya.

Raditya menyebutkan, peringatan dini BMKG siklon tropis seroja terkait bahaya gelombang tinggi 2,5 - 4 meter itu meliputi perairan Bengkulu, perairan selatan Jawa Tengah - Pulau Sumba, Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan, Samudera Hindia Selatan Jawa Timur-NTB, Selat Sumba bagian barat, perairan Selatan Flores, Selat Ombai, Laut Flores.

Selanjutnya, ketinggian gelombang sangat tinggi 4 - 6 meter ada di daerah perairan barat Lampung, Samudera Hindia barat Bengkulu-Lampung, Selat Sunda bagian barat dan selatan, Perairan selatan Banten-Jawa Barat, Samudera Hindia selatan Banten-Jawa Tengah, perairan Pulau Sawu, perairan Kupang-Pulau Rotte, dan Laut Sawu.

Sementara itu, ketinggian gelombang ekstrem lebih dari 6 meter yakni dari Samudera Hindia selatan NTT.

"Peringatan dini itu sangat penting terkaitnya aktivitas masyarakat," kata Raditya.

BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi untuk waspada dan siaga.

"Kapal atau perahu kecil diimbau untuk tidak memaksakan aktivitas pelayaran," jelas Raditya.

Artikel Menarik Lainnya:


TAG
Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor
JOIN US
JOIN US