BI Turunkan Suku Bunga, Tapi Kok Pertumbuhan Kredit Masih Lambat?
Bank Indonesia (Dok. Indozone)
News

BI Turunkan Suku Bunga, Tapi Kok Pertumbuhan Kredit Masih Lambat?

Tidak langsung dirasakan manfaatnya

Kamis, 24 Oktober 2019 16:50 WIB 24 Oktober 2019, 16:50 WIB

INDOZONE.ID - Bank Indonesia (BI) mencatat sudah empat bulan berturut-turut menurunkan tingkat suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate, dari yang semula 6 persen hingga menjadi hanya 5 persen saja. 

Bahkan, selain kebijakan suku bunga, BI juga sudah mengeluarkan kebijakan pelonggaran DP (Down Payment) atau Loan To Value (LTV) untuk kredit rumah sebesar 5 persen dan kendaraan bermotor sebesar 5-10 persen, namun pertumbuhan kredit yang mencerminkan penguatan konsumsi masih juga berjalan lambat. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, penurunan tingkat suku bunga acuan tidak serta merta diikuti penurunan tingkat suku bunga kredit perbankan. Bahkan, dari 100 basis poin (bps) suku bunga yang sudah diturunkan BI, tercatat baru diikuti penurunan suku bunga kredit perbankan dibawah 30 bps saja. 

"Dari sisi kredit perbankan, Juli sampai September turun 26 basis poin. BI kan menurunkan 100 basis poin, harapannya perbankan juga menurunkan suku bunga kredit lagi," ungkap Perry. 

Perry juga melaporkan, pertumbuhan kredit melambat dari 9,58 persen secara tahunan atau year on year (yoy) di Juli 2019 menjadi hanya 8,59 persen yoy di Agustus 2019.

Sementara itu rata-rata bunga deposito juga turun. Tercatat sebesar 6,57 persen di September 2019. 

"Suku bunga kredit turun juga terutama kredit investasi dan modal kerja. Masing-masing tercatat 10,11 persen dan 10,33 persen," tuturnya. 

Perry berharap, dengan diturunkannya kembali suku bunga acuan BI pada hari ini menjadi hanya 5 persen saja, maka sektor-sektor ekonomi bisa meningkat dan mendorong laju konsumsi hingga tercapai angka pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. 

"Kedepannya kami harapkan meningkat lebih cepat lagi (Penurunan suku bunga kredit) di perbankan karena biasanya ada jetlagnya. Ini yang kita harapkan bisa topang pertumbuhan ekonomi lebih tinggi menuju titik tengah 5,3 persen," tuturnya. 

Sementara itu, Ekonom Indef Tauhid Ahmad saat dihubungi terpisah mengatakan, penurunan tingkat suku bunga acuan BI memang tidak akan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, butuh waktu bagi perbankan nasional untuk menurunkan tingkat suku bunga pinjamannya. 

Adapun penurunan suku bunga BI pada Juli 2019 yang lalu sendiri baru direspon oleh perbankan pada bulan Oktober. Hal itulah yang menurutnya kemudian menyebabkan tingkat konsumsi seperti melambat meski suku bunga acuan BI sudah diturunkan. 

"Penurunan suku bunga sendiri kan baru terasa efeknya 3-4 bulan. Jadi tidak akan langsung terasa di level masyarakat," tuturnya. (SN)

Artikel Menarik Lainnya: 

TAG
Bela
Indozone News
Bela

Bela

Writer
Indozone News

Indozone News

Reporter

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU