Tak Terima Hasil Riset Harvard, Menkes Terawan: Ayo WHO ke Sini Saja

- Selasa, 11 Februari 2020 | 15:27 WIB
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. (ANTARA/Fransiska Ninditya).
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. (ANTARA/Fransiska Ninditya).

Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Terawan Agus Putranto menanggapi hasil riset Harvard University terkait dugaan virus korona yang tidak terdeteksi dan seharusnya sudah masuk ke Indonesia.

Menkes Terawan membantah dugaan adanya kasus virus korona yang tidak terdeteksi. Menurut dia, Kementerian Kesehatan sudah melakukan berbagai tes dan deteksi sesuai standar internasional.

"Apa yang sudah kita kerjakan itu sesuai standar internasional, semua sudah dicek. Peralatan kita kemarin sudah di-fixed-kan dengan Kedutaan Besar AS, kita menggunakan kit (peralatan) dari Amerika," kata Menkes Terawan usai mengikuti rapat koordinasi bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Gedung Grand Kebon Sirih Jakarta, Selasa (11/2/2020) mengutip Antara.

Menkes Terawan itu mempersilakan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) dan pihak-pihak lain yang ingin mengetahui prosedur Kemenkes dalam mendeteksi keberadaan virus korona di Indonesia.

"Silakan dari WHO, pun dari Amerika juga kita persilakan untuk ikut melihat prosesnya dengan alat yang mereka punya. Kalau kita terbuka kok, tidak ada yang ditutup-tutupi," tambahnya.

Penelitian terhadap virus korona dilakukan Kemenkes di Laboratorium BSL 3 (Biosafety Level 3). Laboratorium tersebut juga pernah digunakan untuk meneliti virus MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang disebabkan oleh virus korona.

"Prinsipnya kita sangat transparan, silakan yang mau memeriksa Laboratorium BSL 3 kita. Wong negara lain sudah mengakui, WHO juga sudah mengakui; kalau ada yang mau survei, riset dan menduga ya silakan saja, tapi jangan mendiskreditkan suatu negara," tegas Menkes Terawan.

Sebelumnya diberitakan bahwa Lima peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Harvard University melakukan riset terhadap penyebaran 2019 Novel Coronavirus (2019-nCov) yang awalnya ditemukan pada Desember 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.

Kasus penyakit akibat virus korona itu meningkat drastis hingga mencapai lebih dari 75.000 kasus pada 25 Januari 2020 dan menyebabkan Kota Wuhan diisolasi. 

Penelitian tersebut menggunakan model Poisson, dengan menghitung jumlah kasus 2019-nCoV yang terkonfirmasi di luar daratan Tiongkok terhadap jumlah penumpang penerbangan internasional langsung dari Bandara Wuhan ke negara lain.

Diskusi hasil penelitian tersebut menunjukkan korelasi positif antara jumlah penumpang yang melakukan perjalanan udara dari Wuhan terhadap meningkatnya kasus korona di negara lain.

Negara-negara yang memiliki penerbangan langsung dari Wuhan diperkirakan terdapat kasus virus korona dengan lebih dari penghitungan 95 persen interval prediksi (PI). Termasuk Indonesia yang harusnya sudah ada ada pasien positif virus korona.

"Di Indonesia dan Kamboja, yang memiliki penerbangan langsung dari Wuhan selama wabah korona merebak, jumlah kasusnya berada di bawah batas 95 persen PI dan dilaporkan satu sampai nol kasus hingga kini," demikian ditulis dalam hasil riset tersebut.

Penelitian tersebut merekomendasikan Indonesia dan Kamboja untuk memperketat pengawasan dan pengendalian, untuk memastikan kasus virus korona bisa terdeteksi.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X