Enam Tokoh Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada ahli waris dari enam orang tokoh (ANTARA/Desca Natalia)
News

Enam Tokoh Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Jokowi

Penghargaan dan penghormatan tinggi atas jasa-jasa besar

Indozone News
Jumat, 08 November 2019 14:38 WIB 08 November 2019, 14:38 WIB

INDOZONE.ID - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam orang tokoh. 

Mereka adalah Ruhana Kudus dari Provinsi Sumatera Barat, Sultan Himayatuddin Oputa Yii Ko dari Provinsi Sulawesi Tenggara, Prof M Sardjito dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Abdoel Kahar Moezakir dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Alexander Andries (AA) Maramis dari Provinsi Sulawesi Utara, dan KH Masykur dari Provinsi Jawa Timur.

Pemberian gelar pahlawan nasional ini terjadi menjelang peringatan Hari Pahlawan, pada 10 November. 

"Presiden Republik Indonesia menganugrahkan gelar pahlawan nasional sebagai penghargaan dan penghormatan tinggi atas jasa-jasa yang luar biasa, yang semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan polutik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut dan mengisi kenerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa," demikian Sekretaris Militer, Mayor Jenderal TNI Suharyanto, membacakan petikan keputusan presiden di Istana Negara Jakarta, Jumat (8/11)

Keenam tokoh tersebut ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres No 120/TK/2019 tertanggal 7 November 2019.

Jokowi lalu memberikan langsung tanda kehormatan tersebut kepada ahli waris para pahlawan.

Hadir pula dalam pemberian anugerah pahlawan tersebut Wakil Presiden Ma'ruf Amin, para menteri kabinet Indonesia Maju, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjanjanto, Kapolri Jenderal Pol Idham Azis dan pejabat tinggi negara lainnya.

Siapa sajakah pahlawan nasional ini, kenali sosoknya: 

1. Ruhana Kuddus 

Ruhana Kuddus adalah jurnalis perempuan asal Sumatera Barat. Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. 

Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Ketika dibredel pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

2. Sultan Himayatuddin 

Sultan Himayatuddin berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara. La Karambau atau Sultan Himayatuddin diketahui konsisten berjuang dari dalam hutan dalam mengusir VOC Belanda dari tanah Buton melalui perang gerilya sejak 1755-1776.

3. Sardjito 

Sardjito adalah Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) 1950-1961 dan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) 1964-1970. 
Ia dikenal dengan sebutan biskuit Sardjito yakni makanan khusus yang diramu Sardjito untuk bakal tentara Republik yang berada di medan perang. Keberadaan biskuit ini sangat membantu, apalagi kala itu persediaan logistik serba terbatas.

Sementara itu, tiga pejuang Abdoel Kahar Moezakir, AA Maramis dan KH Masykur yang merupakan anggota dari Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)/Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

4. Abdoel Kahar Moezakir 

Abdoel Kahar Moezakir adalah rektor Universitas Islam Indonesia pertama para periode 1945-1948 dan 1948-1960. Beliau lahir di Kotagede, Yogyakarta. 

Muzakkir mengenyam pendidikan di Universitas Kairo, Mesir, dan saat kembali ke tanah air mendirikan Perhimpunan Indonesia Raya pada 1933.

5. AA Maramis 

AA Maramis selain pernah menjadi anggota BPUPKI yang bertugas merumuskan dasar negara. Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan periode 1945-1945 dan 1948-1949. 

Maramis adalah orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama dengan denominasi 1, 5, dan 10 sen ditambah ½, 1, 5, 10, dan 100 rupiah.

6. KH Masykur 

KH Masykur tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta). Masykur juga merupakan Menteri Agama Indonesia pada tahun 1947-1949 dan tahun 1953-1955. 

Selaku Ketua Nahdlatul Ulama cabang Malang, Masykur mengomandoi Laskar Sabilillah untuk menggerakkan semangat perjuangan pesantren dan para kiai dalam pertempuran Arek Suroboyo pada November 1945.

Artikel Menarik Lainnya: 

TAG
Bela
Bela

Bela

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU