Apa Sih Bedanya, Halusinasi, Ilusi, Delusi, dan Fantasi?
photo/self.com
News

Apa Sih Bedanya, Halusinasi, Ilusi, Delusi, dan Fantasi?

Rizka
Senin, 21 Oktober 2019 16:13 WIB 21 Oktober 2019, 16:13 WIB

INDOZONE.ID - Kemungkinan besar sebagian orang sudah pernah mendengar istilah 'halusinasi, ilusi, delusi, dan fantasi'. Ya, keempat istilah itu seringkali digunakan untuk menggambarkan kondisi mental seseorang tidak stabil. Penyebabnya bisa karena berbagai hal.

Meski sudah sering mendengar istilah-istilah tersebut, masih banyak juga orang yang tidak tahu membedakannya. Bahkan cenderung disamartikan, padahal secara pengertiannya pun sudah berbeda.

Nah supaya kamu lebih tau, berikut ini ulasan tentang perbedaan halusinasi, ilusi, delusi, dan fantasi, yang dirangkum Indozone dari berbagai sumber, Senin (21/10):

1. Halusinasi

Hallucination
photo/self.com

Halusinasi merupakan gejala saat indera seseorang melihat, mendengar, menyentuh, merasakan, atau mencium sesuatu yang sebenarnya tidak nyata. Halusinasi dapat disebabkan oleh hal-hal di luar penyakit, misalnya keracunan obat-obatan. 

Gejala halusinasi dipicu beberapa hal, di antaranya gangguan mental, penyalahgunaan obat, kekurangan waktu tidur, dan kondisi kesehatan seseorang. Seseorang yang mengalami halusinasi akan menunjukkan perubahan emosi atau perilaku sesuai dengan sensasi yang ia rasakan.

Ada beberapa jenis halusinasi yakni halusinasi visual (indera penglihatan), halusinasi olfactory (indera penciuman), halusinasi gustatory (indera pengecap), halusinasi auditory (mendengar langkah, kaki, ucapan, atau ketukan berulang), dan halusinasi tactile (indera peraba).

Halusinasi bisa ditangani dengan memberi obat-obatan tertentu untuk memperlambat kerja otak. Namun, penanganannya pun harus memperhatikan seberapa besar tingkat keparahan halusinasi.

2. Ilusi

Ilusi
photo/Ilustrasi/Medical News Today

Ilusi disebut juga dengan penginderaan keliru (distorsi indra), yang dapat mengungkapkan bagaimana otak manusia biasanya mengatur dan menafsirkan stimulasi sensorik. Meskipun ilusi mengubah persepsi seseorang tentang realitas, ilusi bisa saja dialami oleh seseorang.

Misalnya, seseorang mendengar suara jam dinding seperti mendengar bom waktu yang akan meledak dan menghantamnya. Atau, merasa ada sosok hantu yang mengganggu setiap kali mendengar suara pintu berderit. 

Biasanya, ilusi tidak berlangsung lama dan sering terjadi karena seseorang terpengaruh obat-obatan, kelelahan atau rasa cemas berlebihan, atau juga karena ada kerusakan otak di bagian tertentu.

3. Delusi

Delusi
photo/Ilustrasi/NationofChange

Berikutnya adalah delusi, jenis gangguan mental yang membuat penderitanya tidak bisa membedakan kenyataan dan imajinasi. Si penderita akan menyakini dan bersikap seperti apa yang ada di pikirannya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi delusi pada seseorang.

Pertama, faktor genetik. Gangguan delusi seperti halnya penyakit skizofrenia bisa menurun kepada anggota keluarga lain. Biasanya, dari orang tua ke anak.

Kedua, faktor biologis. Gangguan delusi kemungkinan terbentuk jika bagian otak untuk proses berpikir (lobus frontal) dan persepsi (lobus parietal) mengalami gangguan seperti pertumbuhan tumor otak.

Ketiga, faktor lingkungan atau psikologis. Gangguan delusi dapat dipicu karena seseorang mengalami stres berlebihan, salah satunya bisa diakibatkan karena penyalahgunaan narkotika. Seseorang yang mengalami kesepian dan terisolasi karena kecacatan indera pendengaran dan penglihatan juga dapat mengalami delusi.

Gangguan delusi bisa ditangani dengan terapi kejiwaan seperti psikoterapi, perilaku kognitif, terapi keluarga dan obat-obatan, mencakup obat neuroleptic dan antipsikotik untuk menekan hormon dopamine dan serotonin.

4. Fantasi

Fantasy
photo/Ilustrasi/The Writing Cooperative

Fantasi merupakan hal yang berkaitan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja. Kata lain untuk fantasi adalah imajinasi.

Bermula dari fantasi, bisa memicu terjadinya ilusi pada seseorang. Fantasi mampu memberikan kepuasan dan mempermudah kehidupan seseorang jika kenyataan hidup yang dirasakan sangatlah berat.

Berbeda dengan ilusi, delusi, dan halusinasi, istilah fantasi bukan untuk menggambarkan gejala penyakit mental yang serius dialami seseorang. Orang normal yang tidak terindikasi gangguan mental pun bisa saja berfantasi kapan saja.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Rizka
Rizka

Rizka

Editor
TERKAIT DENGAN INI
ARTIKEL LAINNYA
LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU