The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Ketika Lebah Pembunuh Asia Ancam Invasi Inggris
Sarang lebah pembunuh Asia. (Foto: bbka.org.uk)
News

Ketika Lebah Pembunuh Asia Ancam Invasi Inggris

Senin, 06 Juli 2020 16:00 WIB 06 Juli 2020, 16:00 WIB

INDOZONE.ID - Seorang ahli pengontrol hama mengatakan, pemerintah Inggris saat ini kurang merespons keberadaan lebah Asia yang mematikan. Padahal, tawon tersebut berpotensi menginvasi.

Sebelum hal itu terjadi, ahli pengontrol hama mengingatkan pemerintah agar mengambil tindakan drastis.

Dilansir dari The Mirror, lebah berukuran besar itu bermigrasi dari Prancis ke Inggris. Sembilan sarang telah diidentifikasi dan musnahkan sejak 2016 lalu. Mereka bersarang di wilayah Kepulauan Channel.

Robert Moonang merupakan orang Inggris pertama yang menjadi pengendali hama berkualitas di negara ini. 

Dia pindah ke Prancis pada tahun 2006 lalu setelah negara tersebut dikepung oleh lebah Asia sejak 2004. 

Gelombang pertama invansi ini menghantam Bordeaux. 

Sepuluh tahun kemudian, lebah-lebah ini mulai muncul di Centre Region, tempat Robert tinggal. Daerah ini berada lebih dari 400 kilometer dari tempat para lebah itu pertama kali terlihat.

Robert telah memusnahkan "les frelons asiatiques" selama enam tahun dan telah menjadi ahli untuk hama berkaki kuning.

"Mereka seperti tawon yang lebih besar, mereka tidak terlalu agresif tetapi mereka akan mempertahankan sarang mereka," kata Robert kepada Daily Star Online.

"Kita perlu mengedukasi masyarakat, bukan menakuti para bejeezus dari merek," sambungnya.

Menurut Robert, masyarakat mesti diedukasi agar tidak menimbulkan masalah baru, yakni tidak sengaja membunuh serangga lain.

"Inggris panik setiap kali seseorang melaporkan penampakan lebah. Orang-orang akan menangkap lebah atau sepasang sh*gging moths dan berteriak, 'Ini lebah Asia!'" katanya.

lebah invasi Inggris
Lebah pembunuh Asia. (Foto: POOL/AFP via Getty Images)

Robert mempersoalkan cara Departemen Lingkungan, Pangan dan Urusan Pedesaan (DEFRA) Inggris menangani lebah sejauh ini. Dia yakin mereka kurang terpadu sehingga membuat Inggris rentan terhadap invasi lebah di masa yang akan datang.

"DEFRA mengatakan hanya pengontrol hama yang memenuhi syarat yang bisa mendekati lebah, tetapi belum ada yang memenuhi syarat di Inggris," katanya. 

"Pengendalian hama Inggris kurang diatur (daripada di Perancis). Akan bagus jika DEFRA menyiapkan pengontrol hama, itu adalah tanggung jawab mereka untuk menghancurkan lebah."

"Peternak lebah tampaknya telah mengambil alih kontrol ketika itu seharusnya mendapat pendekatan penuh, dengan aksi kepercayaan dan pengendali hama. "

Peternak lebah di Inggris secara khusus termotivasi untuk membasmi lebah karena mereka dianggap mampu membunuh dan memakan lebah madu. 

Tetapi, menurut Robert, ini adalah kesalahan. Yakni membiarkan 'para ahli yang ditunjuk sendiri' ini mengambil alih seluruh proses.

"Peternak lebah bukan pengontrol hama dan mereka bukan ahli dalam mengendalikan lebah Asia," katanya.

"Mereka dapat memonitor ancaman, tetapi lebah harus dihancurkan oleh pengendali hama," sambung Robert.

Robert dikenal memiliki 'blazing rows' dengan sejumlah peternak lebah Jersey. Di kota ini, lebah dianggap masalah nyata.

Bahkan, para 'pemburu lebah' pernah menandai dan melepaskan serangga untuk melacak lebah-lebah itu. 

"Dengan hanya tinggal di belakang dan memantau sarang, mereka membiarkan serangga itu membunuh lebah," katanya. 

"Saya punya tiang yang bisa merawat lebah Asia sejauh 25 meter di pepohonan. Saya meracuni sarang dengan produk alami yang membunuh lebah dengan cepat. Di Jersey mereka harus menemukan pendaki, pemetik ceri, ada banyak yang mengacaukan," sambungnya.

Robert menambahkan, populasi lebah berkembang dari enam menjadi lebih dari 100 sarang kurun setahun. Hal ini membuktikan metode mereka 'jelas tidak berfungsi'. 

Robert berharap Inggris memperhatikan kesalahan Prancis yang bertarung dengan dengan lebah Asia selama 16 tahun. Jika tidak, Inggris juga mengalami nasib serupa dan berpotensi merusak ekosistem.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Nanda Fahriza Batubara

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US