Angka Kekerasan Fisik di Sekolah Turun Sih, Tapi Telan Korban Jiwa
Ilustrasi murid (Pexels/Artem Beliaikin)
News

Angka Kekerasan Fisik di Sekolah Turun Sih, Tapi Telan Korban Jiwa

Tidak punya strategi komprehensif

Senin, 09 Desember 2019 14:21 WIB 09 Desember 2019, 14:21 WIB

INDOZONE.ID - Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat kekerasan fisik yang terjadi dilingkungan sekolah selama Januari-Oktober 2019 mencapai 21 kasus. 

Riciannya adalah tingkat SD/MI sebanyak 4 kasus, SMP 5 Kasus, SMA/MA 3 kasus dan SMK sebanyak 4 kasus. Dari 21 kasus kekerasan, 65 siswa jadi korban dan sedangkan guru yang menjadi korban sebanyak 4 orang.  

Lalu siapa saja pelakunya? mulai dari kepala sekolah hingga orang tua siswa. Kasus kekerasan guru/kepala sekolah ke peserta didik sebanyak 8 kasus (38,10 persen), murid ke siswa ada 2 kasus (9,52 persen), orangtua siswa ke guru ada 2 kasus (9,52 persen) dan kekerasan murid terhadap murid lain ada 8 kasus (38,10 persen)

Menanggapi data tersebut, psikolog sekaligus pemerhati pendidikan Najeela Shihab menjelaskan, saat ini yang perlu menjadi catatan adalah bagaimana pelaku kekerasan juga mendapatkan porsi perhatian yang sama.

"Kita enggak bisa bicara penanganan terhadap korban, karena pelakupun butuh bantuan. Kita masih punya banyak tantangan, karena pelaku saat ini hanya kepada hukuman dan tindakan reaktif." ungkap Najeela dalam catatan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah sepanjang tahun 2019, di Hotel Rivoli, Senin (9/12).

Najeela Shihab, Psikolog dan Pemerhati Pendidikan (Indozone/Nani Suherni)
Najeela Shihab, Psikolog dan Pemerhati Pendidikan (Indozone/Nani Suherni)

Najeela menyayangkan sering kali, pemangku pendidikan tidak punya strategi yang komprehensif soal kekerasan yang terjadi pada anak. 

Ditempat yang sama, KPAI melalui komisionernya mengatakan, meskipun angkanya turun, tetapi kasus kekerasan fisik tahun ini sudah menelan korban jiwa.

"Kalau kekerasan fisik angkanya menurun, tapi juga agak mengerikan karena sudah mencapai level korban jiwa. Seperti guru yang ditikam 14 kali, ada juga murid yang disuruh lari akhirnya dia meninggal, karena ternyata jantungnya lemah," tuturnya. 

Sementara kasus yang terbaru adalah, murid yang dipukul dengan rotan karena tidak bisa mengerjakan soal matematika. Diman satu korban siswa rupanya mengalami kerusakan syaraf dibagian belakang lulut. 

"Ini anak yg lain belum diketahui, dia baru dipukul sekali sudah 7 syarafnya putus, ya makin enggak bisa matematika dong kalau dipukulin seperti itu," ungkapnya.

Artikel Menarik Lainnya: 

TAG
Indozone
Nani Suherni
Bela

Bela

Writer
Nani Suherni

Nani Suherni

Reporter

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU