The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Cerita Pilu Pedagang yang Pasrah Saat PPKM Darurat Hingga Kibarkan Bendera Putih
Puluhan pedagang kuliner malam gelar aksi kibarkan bendera putih sebagai tanda protes terhadap kebijakan PPKM, di Jalan Williem Iskandar, lebih tepatnya pasar MMTC, Kota Medan, Sumatra Utara, Sabtu (24/7/2021). (Foto/WhatsApp Grup Wartawan)
News

Cerita Pilu Pedagang yang Pasrah Saat PPKM Darurat Hingga Kibarkan Bendera Putih

Sabtu, 24 Juli 2021 20:22 WIB 24 Juli 2021, 20:22 WIB

INDOZONE.ID - Berbagai pilu pedagang di kemas dengan pasrah di tengah pandemi Covid-19. Apalagi di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Pilu itu pun semakin berat, karena sunyinya pembeli.

Pilu itu tidak dirasakan oleh pedagang makanan saja tetapi penjahit di Kota Bandung pun mengeluhkan hal yang sama. Satu di antaranya Yusuf, seorang konveksi atau penjahit yang merupakan warga asli Bayuwangi dan menetap di Bandung.

Sebelum pandemi menerpa bangsa Indonesia, ia mengatakan penghasilan sehari-hari dari menjahit lumayan baik. Semuanya lancar dan berjalan normal.

"Alhamduilillah untuk pengahasilan sehari-sehai sebelum pandemi juga lumayan untuk kehidupan kita. Kalau sebelum pandemi penghasilan sehari-hari sempai Rp 400 ribuan," ucapnya dengan terbata-bata, seperti yang dikutip Indozone, Sabtu (24/7/2021).

Namun, di saat masa pandemi ini, ia katakan untuk mencari Rp 50 ribuan dalam sehari saja begitu sulit.

Keluhan itu tak hanya pada penyedia jasa penjahit saja. Namun, keluh kesah itu pun dirasakan seorang pedagang ponsel yang berasal dari Garut, Dedi, menceritakan, dirinya berdagang ponsel di ITC Kebon Kelapa Bandung.

Saat pandemi pengahsilannya berkurang, yang biasanya minimal perhari Rp 150 ribu, kini penghasilannya Rp 25 ribuan hingga Rp 50 ribuan per hari.

"Selama pandem penghasilannya sekitar 50 ribuan dan 25 ribuan perh hari. tergantung orang kasihnya gimana lah gitu," ujarnya.

Begitu juga yang dirasakan para pedagang-pedagang di Kota Medan. Bahkan, dengan adanya PPKM Darurat, para pedagang yang bersatu dalam Forum Pedagang Kuliner Malam menggelar aksi Kibarkan Bendera Putih.

Hal itu tentunya sebagai tanda protes terhadap kebijakan PPKM yang dikeluarkan oleh Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution, di Jalan Williem Iskandar, lebih tepatnya Pajak Kedan MMTC, Kota Medan, Sumatra Utara.

Satu di antara massa aksi, Andi menjelaskan bahwa aksi ini bukan untuk menentang pemerintah. Melainkan untuk menyatakan diri menyerah atas kebijakan PPKM darurat.

"Bendera putih ini sebagai simbol kita menyerah atas kebijakan PPKM Darurat yang membuat usaha kami mati total," ujar Andi, Sabtu (24/7/2021).

Sejak masa pandemi Covid-19, ia katakan, para pedagang tidak bisa berusaha maksimal.

"Mulai dari New normal dibatasi 50 persen artinya omset menurun 50 persen pastinya. Masuk lagi masa PSBB kita kena jam operasional dan bahkan sempat tidak boleh buka," ceritanya.

Menurutnya di masa aturan PPKM Darurat ini para pedagang betul - betul tidak bisa bergerak. Utamanya mereka yang sebelumnya membuka usaha kuliner di malam hari.

"Kita biasanya jam 18.00 WIB baru mau ramai. Tapi ini sekarang jam 17.00 WIB sudah tutup. Jadi kebijakan PPKM darurat ini membuat kita jadi betul - betul tidak bisa bergerak," ujarnya.

"Padahal kami cari makan dapat hari ini dimakan hari ini. Dan rata - rata pedagang ini memang cuma jualan di sini sumber mata pencahariannya," sambungnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan, para pedagang pada dasarnya mendukung program pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Namun, ia dengan teman-teman pedagang yang berdagang malam sudah menyerah dan psarah dengan adanya PPKM Darurat.

Makanya, ia dan teman pedagang lainnya mengibarkan Bendera Putih sebagai bentuk menyerah, bukan bentuk perwalanan kepada pemerintah.  Agar pemerintah dapat memberi ruang bagi pedangan malam berjualan.

TAG
Aqmarul Akhyar

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US