Terbukti soal Tiongkok, Pemenang Nobel Ini Prediksi Virus Corona Segera Reda
Karyawan memakai masker saat beraktivitas di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, Senin (2/3/2020). (INDOZONE/Arya Manggala)
News

Terbukti soal Tiongkok, Pemenang Nobel Ini Prediksi Virus Corona Segera Reda

Angka menurun.

Kamis, 26 Maret 2020 11:05 WIB 26 Maret 2020, 11:05 WIB

INDOZONE.ID - Seorang penerima hadiah Nobel dan ahli biofisika Stanford, Michael Levitt memprediksi virus corona (Covid-19) akan segera berlalu. Sebelumnya, prediksi Levitt tentang jumlah pasien corona di Tiongkok terbukti.

Kali ini, Levit memperkirakan hasil yang sama di Amerika Serikat dan seluruh dunia tentang Covid-19. Meski banyak ahli epidemiologi yang memperingatkan virus corona bisa terjadi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, Levitt tidak sependapat.

"Yang kita butuhkan adalah mengendalikan kepanikan. (Dalam skema besar) kita akan baik-baik saja," ujar Levitt dikutip dari Latimes, Kamis (26/3/2020).

Levitt memerhatikan jumlah kematian di Tiongkok pada 31 Januari lalu. Saat itu, Tiongkok memiliki 46 kasus kematian baru karena virus corona, dibandingkan dengan 42 kematian baru setiap harinya.

Ia mengatakan meski jumlah kematian di Tiongkok sempat meningkat setiap harinya, itu dikarenakan oleh keterlambatan identifikasi kasus, bukan jumlah kasus yang benar-benar baru. Ini disebut sebagai tanda awal bahwa lintasan wabah telah bergeser.

"Ini menunjukkan bahwa level peningkatan jumlah kematian akan lebih melambat selama minggu depan," kata Levitt pada 1 Februari lalu.

Pemenang Nobel Ini Prediksi Virus Corona Segera Berakhir
Petugas medis berpose setelah memulangkan pasien corona dari rumah sakit sementara Wuchang di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, (10/3/2020). (Xinhua/Xiao Yijiu)

Prediksi Tentang Covid-19 di Tiongkok Terbukti

Tiga minggu setelahnya, Levitt mengatakan kepada China Daily News bahwa tingkat pertumbuhan virus telah memuncak. Levitt juga memperkirakan bahwa jumlah total kasus Covid-19 di Tiongkok akan mencapai sekitar 80.000, dengan sekitar 3.250 kematian.

Perkiraan tersebut sangat akurat ketika pada 16 Maret, Tiongkok menghitung total kasus Covid-19. Total kasus mencapai 80.298 dan 3.245 kematian. Jumlah pasien yang didiagnosis pun menurun menjadi sekitar 25 sehari tanpa ada kasus penyebaran.

Pada kasus serupa, Levitt melihat titik balik di negara-negara lain, meski tidak memberlakukan isolasi ekstrem seperti Tiongkok. Dia menganalisis data dari 78 negara yang melaporkan lebih dari 50 kasus Covid-19 baru setiap hari dan melihat tanda-tanda penulihan.

Levitt tidak fokus pada jumlah kasus di suatu negara, tetapi pada jumlah kasus baru yang diidentifikasi setiap harinya.

"Angka-angkanya masih buruk, tetapi ada tanda-tanda jelas pertumbuhan melambat," ujarnya.

Di Korea Selatan, penghitungan harian kasus telah menurun, berada di bawah 200 kasus. Ini menunjukkan wabah mulai mereda. Sementara di iran, jumlah kasus baru per hari relatif datar minggu lalu, naik dari 1.053 pada Senin, lalu menjadi 1.028 pada Minggu.

Meski masih banyak kasus baru, kata Levitt, polanya menunjukkan wabah di sana sudah melewati tanda setengah jalan.

Pandemi virus corona
Pandemi virus corona (REUTERS/Stringer)

Menyerukan untuk Menghindari Pertemuan Besar

Levitt juga menyerukan pada masyarakat untuk menjaga jarak sosial dengan menghindari pertemuan besar. Karena virus ini sangat baru, penduduk belum memiliki kekebalan terhadapnya dan vaksin belum tersedia.

"Ini bukan waktunya untuk pergi minum-minum dengan teman-temanmu," katanya.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Desika Pemita
Utami Evi Riyani

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU