LIPI Temukan Enam Spesies Baru di Indonesia
Katak Tanduk Kalimantan atau Megophrys Kalimantanensis. (Tomohiko Shimada/LIPI.go.id)
News

LIPI Temukan Enam Spesies Baru di Indonesia

Empat diantaranya kelompok Amfibi

Rabu, 09 Oktober 2019 18:45 WIB 09 Oktober 2019, 18:45 WIB

INDOZONE.ID - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil mengidentifikasi 33 jenis spesies baru di Indonesia. 

Diantaranya, yakni Katak Tanduk Kalimantan, tiga spesies baru Kodok Wayang, Cicak Batu Gunung Muria dan Burung Myzomela Prawiradilagae.

Katak Tanduk ditemukan melalui ekspedisi di Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Serawak Malaysia dan Crocker Range National Park atau Gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia.

Sedangkan tiga spesies Kodok Wayang yang baru diidentifikasi ditemukan di hutan dataran tinggi Sumatera, yakni Sigalegalephrynus gayoluesensis di Gayo Lues, Aceh; Sigalegalephrynus burnitelongensis di Gunung Burni Telong, Aceh; dan Sigalegalephrynus harveyi di Gunung Dempo, Sumatera Selatan.

"Genus Sigalegalephrynus memiliki lebih banyak spesies endemik dibandingkan genus kodok lainnya di Indonesia," ujar Peneliti bidang Herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy, seperti diberitakan Antara, Kamis (9/10).

katak tanduk kalimantan
Katak Tanduk Kalimantan. (Tomohiko Shimada/LIPI.go.id)

Sementara Cicak Batu Gunung Muria ditemukan di Pegunungan Muria, Jawa Tengah. cicak dengan nama latin Cnemaspis Muria ini merupakan satwa endemik Jawa. 

Untuk Burung Myzomela Prawiradilagae ditemukan di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Spesies lain yang diidentifikasi peneliti LIPI adalah Litoria Pinocchio atau Katak Pinokio yang merupakan binatang endemik Papua.

Amir menjelaskan Katak Tanduk Kalimantan sangat mirip dengan Katak Tanduk Pinokio (Megophrys nasuta), yang tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.

burung myzomela prawiradilagae
Burung Myzomela Prawiradilagae. (Antara/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Menurut Amir, jenis baru ini memiliki tanduk atau dermal accessory pada bagian moncong dan mata yang lebih pendek jika dibandingkan dengan Katak Tanduk Pinokio.

"Katak Tanduk Kalimantan memiliki sepasang lipatan lateral tambahan pada sayap. Pada katak jantan, lipatan lateral tambahan pada sayap variasinya lebih banyak dan lebih panjang jika dibandingkan dengan Katak Tanduk Pinokio," ujarnya.

Untuk burung Myzomela Prawiradilagae, Amir mengatakan, secara fisik, burung tersebut memiliki kemiripan warna dengan Myzomela Dammermani dari Sumba dan Myzomela Vulnerata dari Timor Leste. Burung itu memiliki bagian warna merah dari kepala hingga sedikit ke leher.

"Hasil penelitian mengenai burung Myzomela Prawiradilagae telah dipublikasikan di Journal of Ornithology pada 24 September 2019," ujar Amir.

Dengan bertambahnya 33 jenis baru fauna tersebut, maka ada total 519 spesies yang telah ditemukan LIPI dari Januari hingga awal Oktober 2019.

Sebanyak 513 spesies baru itu, terdiri atas 52 mamalia, enam burung, 82 ikan, 71 krustasea, 80 moluska dan invertebrata lain, serta 150 serangga dan arthropoda lain. 

spesies baru kodok wayang
tiga spesies baru Kodok Wayang. (Antara/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Terancam Punah

Tiga spesies kodok yang baru diidentifikasi dikategorikan oleh LIPI berstatus kritis atau sangat terancam punah. Tak hanya itu, Katak Tanduk Kalimantan ditetapkan berstatus rentan terhadap kepunahan dan burung Myzomela Prawiradilagae berstatus genting.

Amir menjelaskan ancaman kepunahan spesies baru tersebut lantaran sudah ada yang diperdagangkan secara internasional. Pemerintah juga belum membuat aturan hukum sejumlah spesies baru tersebut. 

"Karena ini dikejar oleh kolektor amfibi seluruh dunia maka kami sarankan untuk segera diatur pedagangannya agar termonitor," ujarnya.

Selain ekspoitasi besar-besaran untuk didagangkan, berkurangnya habitat asli juga membuat ancaman kepunahan tak terhindarkan. Salah satunya yakni alih fungsi lahan dan berkurangnya hutan di Indonesia.

"Kalau hutan semakin habis ya jenis ini pun akan terancam untuk punah," ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cahyo Ramadi menjelaskan setiap jenis baru yang ditemukan, pasti menghadapi status ancaman kepunahan. Hal ini dikarenakan tekanan lingkungan yang menyebabkan perubahan dan kehilangan habitat.

cicak batu gunung muria
Cicak Batu Gunung Muria. (Antara/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Bahkan, menurut Cahyo, kemungkinan besar banyak satwa di Indonesia yang sudah punah sebelum tereksplorasi atau terungkap lantaran tekanan lingkungan seperti konversi lahan dari hutan ke perkebunan sawit serta kebakaran hutan dan lahan.

"Indonesia masih punya banyak spesies yang belum banyak diungkap dan itu masih banyak tersimpan di hutan yang belum banyak disentuh," ujarnya.

Artikel Menarik Lainnya: 

TAG
Indozone
Indozone News

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU