The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Fenomena Orang Berbondong-bondong ke Mal Meski PSBB, Ini Kata Psikolog
Warga berbelanja beragam kebutuhan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (20/5/2020). (INDOZONE/Arya Manggala)
News

Fenomena Orang Berbondong-bondong ke Mal Meski PSBB, Ini Kata Psikolog

Tak pedulikan masalah kesehatan.

Sabtu, 23 Mei 2020 10:53 WIB 23 Mei 2020, 10:53 WIB

INDOZONE.ID - Idul Fitri tinggal menunggu hari, sebagai tradisi masyarakat Indonesia, para kaum hawa saat ini tengah fokus untuk mempersiapkan berbagai masakan khas lebaran, dan tentu saja hal ini tidak lepas dari kebutuhan untuk pergi ke pasar atau mal, untuk berbelanja kebutuhan.

Belum lagi soal tradisi lebaran yang identik dengan baju baru, hal ini juga mendorong masyarakat untuk berbondong-bondong pergi ke pusat perbelanjaan, untuk sekedar membeli baju dan kebutuhan rumah tangga, hingga hanya untuk sekedar makan-makan bersama keluarga. 

Di satu sisi, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga masih belum berhenti. Sebab, jumlah pasien positif virus corona juga masih terus bertambah dan belum ada tanda-tanda berhenti. 

Menyikapi fenomena ini, Psikolog Mira Amir menyebut kondisi diabaikannya PSBB, atau bahkan tidak dipedulikannya masalah kesehatan oleh masyarakat, adalah akibat dari tradisi perilaku yang sudah turun temurun.

Fenomena Orang Berbondong-bondong ke Mall Meski PSBB, Ini Kata Psikolog
Warga berbelanja beragam kebutuhan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (20/5/2020). (INDOZONE/Arya Manggala)

Menurut Mira, tradisi inilah yang kemudian membuat orang berani mengabaikan faktor kesehatan, atau bahkan menentang aturan pemerintah yang sudah disusun sedemikian rupa untuk melindungi masyarakat agar selamat dari paparan penyakit. 

"Kita ini kan masyarakat Indonesia yang namanya menyambut Idul Fitri itu kan sudah ingatan kita bukan setahun dua tahun, tetapi itu seperti ingatan kolektif. Kalau di psikologi kita ada pakar yang menyebut itu ingatan kolektif, sudah turun menurun," ujar Mira kepada Indozone, saat dihubungi pada Sabtu (23/5/2020). 

Menurut Mira, karena ingatan kolektif tersebut, seperti halnya kita yang diceritakan oleh orangtua kita, atau orangtua kita yang juga diceritakan oleh orangtuanya dahulu soal kebiasaan atau tradisi merayakan Idul Fitri, maka perilaku itu tidak dapat dihilangkan begitu saja. Sebab, hal itu sudah menjadi pola rutin dan terus berulang setiap tahun. 

"Contohnya sampai misalnya ada pemikiran, Lebaran itu gak bisa kalau tanpa adanya bunga sedap malam, maka itu (bunga sedap malam), dikejar terus sampai ke Rawa Belong (pasar bunga di Jakarta Barat), mau dia motoran kesana (menggunakan motor), atau sekarang sudah bisa order online, itu mesti ada itu bunga sedap malam. Padahal situasi saat ini, siapa yang mau datang kerumah? Jadi intinya ada yang datang atau tidak, bunga sedap malam itu tetap harus ada. Pemikiran sudah terpatri disana," tuturnya. 

Mira pun menjelaskan lebih lanjut, fenomena seperti ini, di mana ingatan kolektif bisa mengalahkan rasa takut akibat paparan virus corona, bisa terwujud karena adanya ego sentris dari tiap diri manusia. 

"Karena memang manusia itu dari kecil, untuk menguatkan dan membentuk kepribadian kita, mau gak mau ada spek ego sentris dalam diri kita. Itu untuk mengukuhkan kepribadian kita," pungkasnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Susi Fatimah
Yulia Marianti
Sigit Nugroho

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US