Di Balik Pinjaman "Terselubung" dari Negara China
Pixabay
News

Di Balik Pinjaman "Terselubung" dari Negara China

Rizka
Rabu, 12 Juni 2019 15:50 WIB 12 Juni 2019, 15:50 WIB
Pemberitaan terkait pinjaman China ke negara-negara lain seringkali dirahasiakan. Jumlah utang dicurigai lebih tinggi dari jumlah yang tertera secara resmi.

Profesor Universitas Harvard Carmen Reinhart mengatakan peningkatan China sebagai kreditor global menandakan ada banyak utang yang sengaja ditutupi dan tersembunyi.

"Artinya, negara-negara yang pernah meminjam dari China tetapi pinjaman ini tidak dilaporkan oleh IMF, oleh Bank Dunia," katanya di Singapura, Rabu (12/6).

"Jadi ada kecenderungan untuk berpikir bahwa negara-negara ini memiliki tingkat utang yang lebih rendah daripada yang sebenarnya mereka miliki," lanjutnya.

Hal itu justru menghambat IMF atau Bank Dunia dalam menganalisis keberlanjutan utang, beban utang negara, dan menghasilkan rekomendasi untuk strategi pinjaman yang membatasi risiko kesukaran utang.

Lanjut Reinhart, sejak 2011 ada banyak pinjaman yang diambil negara-negara lain dari China yang perlu dinegosiasi ulang. Negara-negara tersebut termasuk Sri Lanka, Ukraina, Venezuela, Ekuador, Bangladesh dan Kuba.

Seorang analis senior Asia di Verisk Maplecroft, Kaho Yu, mengatakan bahwa situasi utang yang kurang dilaporkan itu bisa menjadi masalah. Meskipun pinjaman Beijing dapat membantu negara-negara berkembang, penumpukan utang yang tidak jelas dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Dia mengatakan China mungkin telah meyakinkan negara-negara berkembang bahwa biaya pinjaman akan ditanggung oleh proyek dalam jangka panjang setelah beroperasi. Akan tetapi, tidak ada jaminan yang diberikan.

Karenanya, negara China dikritik karena membebani banyak negara dengan utang melalui program Belt and Road Initiative. Program itu adalah rencana investasi infrastruktur raksasa untuk membangun jalur kereta api, jalan, laut dan lainnya yang membentang dari China ke Asia Tengah, Afrika, dan Eropa.

Namun, kata Yu, kurangnya transparansi dan akuntabilitas di sekitar pinjaman menandakan ada ketidakpastian tentang seberapa berkelanjutan proyek tersebut. Meskipun akan ada investasi asing langsung di tahap awal proyek, tetap saja defisit akan melebar dalam jangka panjang.

Sebagai contohnya adalah salah satu pinjaman tidak jelas dari China untuk Venezuela yang didenominasi dalam barel minyak. Kemudian, Sri Lanka harus menyerahkan pelabuhan strategis ke Beijing tahun 2017, setelah tidak dapat melunasi utangnya kepada perusahaan-perusahaan China.

Ada banyak negara lainnya yang berutang ke China dipaksa menandatangani penyerahan wilayah nasional atau aset negara jika kemudian hari tidak 
    TAG
    Indozone Media
    Indozone Media

    Rizka

    Editor
    ARTIKEL LAINNYA
    LOAD MORE