The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Heboh Fenomena Awan Mirip Tsunami di Aceh, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Penampakan awan badai seperti gelombang Tsunami di langit Meulaboh, Aceh Barat, Senin (10/8/2020). (Foto: Istimewa)
News

Heboh Fenomena Awan Mirip Tsunami di Aceh, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Fenomena tersebut dinamakan awan Arcus.

Selasa, 11 Agustus 2020 08:45 WIB 11 Agustus 2020, 08:45 WIB

INDOZONE.ID - Deputi bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Guswanto menjelaskan secara ilmiah fenomena awan hitam memanjang mirip tsunami yang terjadi di Meulaboh, Aceh, pada Senin 10 Agustus 2020. Menurut dia, fenomena itu murni akibat dinamika atmosfer, bukan pertanda akan terjadi gempa bahkan tsunami.

"Keberadaan awan ini murni merupakan fenomena pembentukan awan yang terjadi akibat adanya kondisi dinamika atmosfer dan tidak ada kaitannya dengan potensi gempa atau tsunami maupun hal-hal mistis," ungkap Guswanto seperti dikutip dari Antara, Selasa (11/8/2020).

Secara ilmiah dalam dunia Meteorologi, fenomena awan mirip tsunami dinamakan awan Arcus. Fenomena tersebut sebenarnya lazim terjadi meskipun frekuensi kejadiannya jarang.

Dia menerangkan, Awan Arcus memiliki tinggi dasar awan yang rendah, serta formasi pembentukannya horizontal memanjang seolah-olah seperti gelombang. Fitur awan Arcus dapat ditemukan di antara jenis awan Cumulonimbusdan Cumulus.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by INDOZONE - #KAMUHARUSTAU (@indozone.id) on

Guswanto menambahkan, fenomena awan Arcus terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer disepanjang pertemuan massa udara yang lebih dingin dengan massa udara yang lebih hangat serta lembab sehingga membentuk tipe awan yang memiliki pola pembentukan horizontal memanjang.

Kondisi tersebut, kata dia, dapat terjadi salah satunya karena adanya fenomena angin laut dalam skala yang luas mendorong massa udara ke arah daratan. Fenomena Awan Arcus dapat menimbulkan angin kencang dan hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir di sekitar pertumbuhan awan.

"Untuk itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi kondisi cuaca buruk dan dapat selalu mengupdate informasi cuaca dari BMKG," pungkasnya.

 Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fiddy Anggriawan
JOIN US
JOIN US