The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Soal Indikator Kematian Covid-19, Mungkinkah Ada Pejabat Negara yang Nggak Percaya Covid?
Ilustrasi pemakaman korban Kematian karena Covid-19. (ANTARA FOTO/Indrayadi TH/).
News

Soal Indikator Kematian Covid-19, Mungkinkah Ada Pejabat Negara yang Nggak Percaya Covid?

Kata anggota DPR ini

Jumat, 13 Agustus 2021 10:45 WIB 13 Agustus 2021, 10:45 WIB

INDOZONE.ID - Wakil Ketua Fraksi PKS, Sukamta menilai langkah pemerintah yang mengeluarkan angka kasus kematian dari indikator penanganan Covid-19  adalah keputusan yang berbahaya. Semestinya pemerintah membuat kebijakan berdasarkan data, riset dan pendapat ahli.

"Jika selama ini Pak Luhut menyatakan kebijakan penanganan Covid sudah berdasar masukan para ahli, apakah mengeluarkan angka kasus kematian dari indikator penanganan Covid-19 juga saran dari para ahli? Saya ragu ini adalah saran ahli. Saya pikir ini hanya akal-akalan pemerintah untuk menutupi sengkarut manajemen data Covid dari pusat hingga daerah," kata Sukamta kepada Indozone dikutip Jumat (13/8/2021).

Sukamta memandang  pemerintah sudah tidak sabar untuk menurunkan level PPKM karena tuntutan kepentingan ekonomi. Beberapa ahli epidemiologi sudah mengingatkan kecerobohan pemerintah dalam penanganan Covid, bisa mengarah kepada pandemic trap atau situasi pandemi yang tidak berkesedahan.

"Jika ini terjadi, tidak hanya berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia, Indonesia juga akan semakin terpuruk ekonominya," tegas Sukamta.

Baca Juga: Viral Truk Hajar Pembatas Jalan di Underpass Senen, Begini Kronologinya

Di sisi lain Sukamta juga khawatir dikeluarkannya angka kasus kematian dari indikator penanganan Covid-19 merupakan cerminan ada sebagian pejabat pemerintah yang punya pikiran tidak percaya dengan Covid-19 dan mengganggapnya sebagai sebuah konspirasi.

"Jangan-jangan masih ada pejabat pemerintah yang juga tidak percaya Covid. Yang punya pikiran seperti ini mestinya jangan masuk dalam Gugus Tugas Covid, karena akan merusak kerja penanganangan pandemi," tanya dia.

"Kan ada sebagian masyarakat yang terpapar hoaks menganggap Covid itu konspirasi, sehingga takut ke RS nanti dicovidkan. Ada yang menolak anggota keluarganya yang meninggal dinyatakan covid, sehingga terjadi perebutan jenazah di beberapa daerah," imbuh Sukamta.

Menurut Sukamta semestinya pemerintah segera melakukan perbaikan data Covid, bukan malah mengeluarkan salah satu indikator pentingnya. Karena angka kasus kematian ini adalah adalah indikator utama keselamatan.

Dilanjutkan Sukamta banyaknya kematian bisa menunjukkan adanya kelemahan dan masalah yang harus segera ditangani dan diantisipasi supaya tidak bertambah jumlah kematian.

"Banyak laporan dari lembaga independen yang mengkritisi data pemerintah masih belum mencakup data kondisi riil di lapangan. Saya kira akan lebih baik jika data dikelola secara transparan dan jujur. Karena ini terkait dengan nyawa manusia dan masa depan anak bangsa. Belum ada kata terlambat untuk segera melakukan pembenahan data Covid," tandas dia.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Edi Hidayat
M Fadli
Harits Tryan Akhmad
TERKAIT DENGAN INI
JOIN US
JOIN US