The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Polri Sebut Penyelidikan Kasus Pinjol Punya Karakter Berbeda
Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Helmy Santika (tengah) memberikan penjelasan dalam ekspose pengungkapan kasus jaringan pinjaman online ilegal di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (15/10/2021). (ANTARA/Laily Rahma
News

Polri Sebut Penyelidikan Kasus Pinjol Punya Karakter Berbeda

Jumat, 15 Oktober 2021 21:15 WIB 15 Oktober 2021, 21:15 WIB

INDOZONE.ID - Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol Helmy Santika menyebutkan bahwa penyelidikan kasus pinjaman 'online' (pinjol) ilegal memiliki karakter yang berbeda sehingga dalam pengungkapannya terkesan lambat.

"Fintech peer to peer (p2p) lending atau pinjol ini mempunyai karakter tertentu sehingga pola penyelidikan harus dilakukan tepat dan benar," kata Helmy dalam konferensi pers pengungkapan sindikasi jaringan pinjol ilegal di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (15/10), seperti dilansir Antara.

Helmy mengungkapkan bahwa Bareskrim Polri dan jajaran kepolisian di daerah selama kurun waktu 2020 sampai 2021 sudah menerima 371 laporan polisi terkait pinjol ilegal.

Dari jumlah itu baru 91 perkara yang terungkap dan ada yang sudah dalam tahap persidangan sebanyak delapan kasus, selebihnya masih dalam pengembangan penyelidikan, katanya.

"Bareskrim Polri mem-'framing' pinjol itu secara utuh, mulai dari sms "blasting" sampai penagihan dan "desk collection". Tidak parsial melihat pinjam-meminjamnya saja, tapi utuh," ujarnya.

Maka dari itu, Helmy mengatakan bahwa penindakan terhadap pinjol ini dilakukan secara bersama karena layanan jasa keuangan nonperbankkan secara elektronik ini menggunakan teknologi sangat mudah bagi pelaku untuk berpindah-pindah, bahkan bisa di-"remote" (dikendalikan-red) di tempat lain.

Seperti halnya pengungkapan tindak pindana sindikasi pinjol ilegal yang dilakukan hari ini. Tujuh tersangka yang diamankan merupakan operator yang bertugas sebagai "desk collection" atau penagih utang dengan menyebar sms "blasting" mengandung unsur kesusilaan.

Sedangkan pelaku yang mendanai dan mementori para "desk collection" tersebut masih berstatus DPO atau buron yang kini tengah diburu aparat kepolisian, ujarnya.

Lebih lanjut, Helmy menyebutkan bahwa dalam menangani perkara pinjol ilegal, Bareskrim Polri bekerja sama dengan Satgas Waspada Investigasi (SWI).

Bareskrim Polri menerima laporan bahwa sudah ada 3.000 lebih akun pinjol ilegal yang di "takedown" (ditutup-red) oleh SWI.

"Namun, karena sifatnya IT, teknologi, di mana akun-akun itu sudah ditutup perlu waktu untuk dieksplore. Jadi berpengaruh pada lambatnya pengungkapan. Ini jadi tantangan, tapi kami tetap bekerja," kata Helmy.


TAG
Zal
Zal

Zal

Editor
JOIN US
JOIN US