The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Derasnya Capital Outflow Jadi Penyebab Rupiah Terus Melemah
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (INDOZONE/Sigit Nugroho)
News

Derasnya Capital Outflow Jadi Penyebab Rupiah Terus Melemah

Dampak Pandemi Virus Corona

Rabu, 01 April 2020 19:23 WIB 01 April 2020, 19:23 WIB

INDOZONE.ID - Kurs rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan. Tercatat dalam sebulan terakhir, atau sejak pertama kali Presiden Jokowi mengumumkan pasien pertama virus Corona (COVID-19) di Indonesia, rupiah telah terdepresiasi atau melemah hingga 16,54%. 

Seperti terlihat pada penutupan perdagangan capital market hari ini, Rabu (1/4/2020), rupiah mengalami penurunan 140 poin atau setara 0,86% ke level Rp16.450/US$. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, depresiasi rupiah tersebut terjadi akibat derasnya capital outflow atau arus modal keluar. Bahkan ia mengungkap, sepanjang periode pandemi Corona sejak 20 Januari hingga 30 Maret 2020 kemarin, terjadi capital outflow di portofolio investasi senilai Rp167,9 triliun. 

"Sebagian besar adalah dalam capital outlow SBN (Surat Berharga Negara) yang jumlahnya Rp153,4 triliun, demikian juga untuk saham Rp13,4 triliun," ungkap Perry dalam paparannya, Rabu (1/4/2020). 

Virus Corona,Rupiah,Gubernur BI
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (FOTO: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Menurut Perry, capital outflow sendiri terjadi di seluruh negara. Hal ini diakibatkan kekhawatiran terhadap pandemi virus Corona yang saat ini sudah menyebar ke lebih dari 200 negara di dunia. 

"Ini yang kemudian terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang juga menjadi penyebab pelemahan nilai tukar rupiah. Ini didorong oleh kepanikan Global akibat cepatnya pewabahan covid di berbagai dunia," tuturnya. 

Bank Indonesia, kata Perry, sudah melakukan upaya intervensi guna meredam tekanan terhadap rupiah, salah satunya melalui pembelian SBN yang dijual investor asing di pasar sekunder. 

"Sejauh ini kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder sejumlah Rp166 triliun, itu yang kami lakukan," ungkapnya. 

"Langkah ini yang kami lakukan di antara kami dengan Bu Menteri Keuangan untuk menjaga bersama stabilitas nilai tukar rupiah dan juga pasar SBN, dengan Pak Wimboh (Ketua Komisioner OJK)," imbuhnya. 

Upaya lainnya, lanjut Perry, Bank Indonesia juga telah melakukan injeksi likuiditas dalam jumlah yang besar pada pasar keuangan. BI, kata dia, bekerjasama dengan OJK untuk terus mendorong perbankan agar bisa terus melakukan pembiayaan. 

"Kami sejauh ini sudah menginjeksi likuiditas hampir Rp300 triliun, Bentuknya apa tadi. Kalau kami membeli SBN dari pasar SBN, kami membeli dan sekaligus jadi injeksi likuiditas, jadi injeksi likuiditas melalui pembelian SBN di pasar sekunder kurang lebih tahun ini Rp166 triliun," jelasnya. 

Selain itu, BI juga menurunkan giro wajib minimum valas bank-bank dari 8% menjadi 4%. Hal ini dikatakan Perry menambah likuiditas dolar sekitar US$ 3,2 miliar. 

"Kami juga melakukan menyediakan kepada perbankan yang mempunyai SBN, ya bisa datang ke Bank Indonesia kepada kami melakukan repo, repurchase agreement," ungkapnya. 

"Demikian juga kami juga menurunkan giro wajib minimum rupiah sebesar 50 basis poin, sekitar Rp22 triliun, ditambah yang awal tahun kami sudah kendorkan sekitar 100 basis poin, kurang lebih menambah likuiditas Rp50 triliun," pungkasnya.

Artikel Menarik lainnya:

TAG
Edi Hidayat
Sigit Nugroho

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US