Kemenkes: Bebas Makan Sate Klatak di Gunung Kidul Jangan Takut Antraks
Ilustrasi Sapi (Dok Kementrian Pertanian)
News

Kemenkes: Bebas Makan Sate Klatak di Gunung Kidul Jangan Takut Antraks

KLB Antraks sudah lewat

Selasa, 21 Januari 2020 07:13 WIB 21 Januari 2020, 07:13 WIB

INDOZONE.ID - Pada Januari 2020 dilaporkan kematian pada tiga kambing dan dua sapi yang kelimanya dinyatakan positif antraks melalui uji laboratorium. Namun tata laksana hewan yang mati karena antraks tersebut sudah dilakukan dengan benar untuk mencegah penyebaran kuman.

Kemenkes bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat pun sudah memberikan obat antibiotik pada 579 warga yang terpapar atau memiliki riwayat kontak dengan hewan ternak.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bagi masyarakat yang ingin berwisata ke daerah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bebas makan sate klatak khas Yogyakarta tanpa perlu mengkhawatirkan penyakit antraks yang sempat menjadi kasus kejadian luar biasa (KLB) beberapa waktu lalu.

"Kalau ada ungkapan nggak usah ke Gunung Kidul karena ada antraks itu tidak tepat, boleh makan sate, mau makan sate klatak silakan, tapi pastikan yang sehat," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono di Jakarta, Senin (20/1/2020) seperti mengutip Antara.

Dia menerangkan hal itu karena hingga saat ini kasus kejadian luar biasa (KLB) antraks di Gunung Kidul sudah terlewati. Selain itu pula hingga saat ini sejak tahun 2020 tidak ada laporan kasus antraks baru.

"Kami sepakat tidak ada larangan ke Gunung Kidul, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tapi kewaspadaan perlu ditingkatkan," ujar Anung.

KLB antraks ditetapkan di Gunung Kidul karena dalam waktu dan tempat yang sama terjadi kasus antraks sebanyak 21 kasus dengan satu orang dilaporkan meninggal dunia.

Orang yang meninggal tersebut merupakan warga peternak kambing yang mati pertama kali terkena antraks. Satu orang yang meninggal dikarenakan meningitis, namun tidak bisa dipastikan apakah meningitis yaitu peradangan selaput otak yang disebabkan oleh kuman antraks atau bukan karena tidak dilakukan autopsi.

Kemenkes juga sudah memberikan edukasi pada masyarakat untuk lebih waspada apabila ada hewan ternak yang sakit dan mati, dan memberikan pelatihan pada tenaga kesehatan di Gunung Kidul untuk memiliki kemampuan mendiagnosis dan menangani kasus antraks.

Penyakit antraks tidak ditularkan dari manusia ke manusia, melainkan dari hewan ke manusia. Penularan bisa melalui kontak dengan hewan, memakan daging hewan, dan menghirup spora bakteri antraks yang terbang di udara.

Artikel Menarik Lainnya

TAG
Ade Indra
Ade Indra

Ade Indra

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU