Demi Bisa Sekolah Daring, Pelajar Tapin Kalsel Cari Sinyal Internet di Atas Bukit

- Kamis, 9 September 2021 | 23:38 WIB
 Pelajar di Desa Pipitak Jaya Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan belajar di sebuah pondok di atas bukit untuk sekolah daring. (ANTARA/Muhammad Fauzi Fadilah)
Pelajar di Desa Pipitak Jaya Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan belajar di sebuah pondok di atas bukit untuk sekolah daring. (ANTARA/Muhammad Fauzi Fadilah)

Hampir dua tahun sejak pembelajaran tatap muka (PTM) dihentikan, pelajar di Desa Pipitak Jaya, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, terpaksa harus pergi ke bukit atau dataran tinggi demi mendapatkan sinyal untuk mengikuti kegiatan sekolah secara daring (online).

Salah satu murid SMKN 1 Tapin Selatan M Farizal Arliandi di Tapin, Kamis (9/9), mengungkapkan setiap hari dirinya dan teman-temannya, sekolah di atas dataran tinggi yang dikenal dengan nama bukit Pamujaan di Desa Pipitak Jaya.

"Biasanya dari pukul 08.00 WITA sampai pukul 16.00 WITA ada aja kawan-kawan. Kalau pagi hadir semua di sini, lebih 20 orang hanya untuk absensi, membuka materi atau mengumpulkan tugas," ujar pelajar kelas XI Jurusan Audio dan Video itu.

Dikatakannya, hal yang paling membuat para pelajar kesal yaitu ketika listrik mati, jaringan internet hilang total hingga tidak bisa mengikuti kegiatan belajar.

Baca juga: MA Menolak Gugatan Pegawai KPK Terkait Peraturan Soal TWK

Setiap hari jadwal sekolah harus mengerjakan tugas rata-rata lima mata pelajaran. Bermodal buku dan smartphone setelah mendapatkan materi pembelajaran dari guru langsung mengerjakan tugas yang diberikan di sebuah pondok beratapkan terpal.

"Komunikasi dengan guru menggunakan aplikasi whatsapp dan ketika belajar mengajar dan mengumpulkan tugas melalui google class room," ujarnya.

Pernyataan itu senada dengan pelajar lain Ahmad Faqih (16) murid kelas X di SMKN 1 Tapin Selatan jurusan perikanan dan Muhammad Aria (14) murid kelas IX di SMPN 1 Piani.

Banyak pelajaran yang diberikan sekolah tidak dapat dipahami dengan metode belajar daring seperti saat ini. Dengan gaya pembelajaran seperti cepat mendatangkan kejenuhan.

Dalam lima hari untuk belajar daring rata-rata para pelajar memerlukan paket internet sebanyak dua GB seharga Rp15 ribu, untuk mengirim tugas, belajar di youtube dan jelajah web.

Sementara Camat Piani Arie Wijaya mengungkap sinyal itu didapat dari pemancar milik Telkomsel di sekitar kecamatan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari tempat pelajar itu mendapatkan sinyal.

"Dari delapan desa ada lima desa yang full blank spot (tidak ada sinyal), tiga desa lainnya sebagian ada yang kena sinyal, tidak merata," ujarnya.

Artikel Menarik Lainnya:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X