The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

BNPT Sebut Ada 1.500 WNI Jadi Teroris Lintas Batas, Ini Penjelasan Lengkapnya
Kepala Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar (ANTARA/HO)
News

BNPT Sebut Ada 1.500 WNI Jadi Teroris Lintas Batas, Ini Penjelasan Lengkapnya

Berikut rinciannya.

Kamis, 27 Mei 2021 15:11 WIB 27 Mei 2021, 15:11 WIB

INDOZONE.ID - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengatakan, ada sekitar 1.500 warga negara Indonesia (WNI) yang telah menjadi teroris lintas batas atau foreign terrorist fighters (FTF), 800 orang di antaranya belum pulang.

"FTF asal Indonesia seperti perkiraan Satgas FTF BNPT total ada 1.500 orang, dengan rincian 800 orang belum pulang, meninggal dunia 100 orang, dideportasi sudah sampai di Indonesia sebanyak 550 orang dan returning 50 orang," kata Boy Rafli dalam Rapat Kerja Komisi III DPR RI seperti dikutip Antara, Kamis (27/5/2021).

Menurut dia, proses hukum sedang dilakukan terhadap 120 deportan dan returning sejak tahun 2015, terkait tindak pidana atau pendanaan terorisme.

Boy menerangkan, deportan dan returning yang tidak menjalani proses hukum, menjalani program deradikalisasi yang melibatkan Balai Rehabilitasi Sosial dan Anak yang memerlukan perlindungan khusus.

Baca Juga: Wamenkes Duga Mutasi Corona yang Ditemukan di Cilacap Menular Lebih Cepat

"Lalu terkait tahap reintegrasi ke masyarakat dilakukan dengan pengawasan terbuka dan tertutup. Pengawasan terbuka dilakukan dengan kunjungan bagi profil yang dianggap kooperatif, dan tertutup dilakukan melalui surveillance berbasis teknologi informasi," urainya.

Dia menuturkan, pelaksanaan pemantauan terhadap profil deportan dan returning akan dievaluasi untuk melihat tingkat radikalisme, target, dan menentukan skala prioritas dalam menentukan target.

Rencananya BNPT akan pergi ke Suriah dan Irak untuk melakukan assessment terhadap WNI yang menjadi FTF, dan dilaporkan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait apakah layak dilakukan repatriasi ke Indonesia.

"Kami seharusnya ke Suriah dan Irak untuk assessment, namun menunggu sinyal karena kondisi pandemi Covid-19," katanya.

Raker Komisi III DPR RI tersebut dipimpin Wakil Ketua Komisi III DPR RI Pangeran Khairul Saleh, dan diikuti para anggota Komisi III DPR yang hadir secara luring dan daring.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fiddy Anggriawan
JOIN US
JOIN US