The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Jadi Tersangka KPK, KY Sesalkan dan Bakal Periksa Etik Hakim Agung Gazalba Saleh
Hakim Agung Gazalba Saleh (ANTARA/Puspa Perwitasari)
News

Jadi Tersangka KPK, KY Sesalkan dan Bakal Periksa Etik Hakim Agung Gazalba Saleh

Selasa, 29 November 2022 13:15 WIB 29 November 2022, 13:15 WIB

INDOZONE.ID - Komisi Yudisial (KY) angkat bicara soal Hakim Agung Gazalba Saleh yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KY sangat menyayangkan dugaan suap yang melibatkan aparatur pengadilan,termasuk hakim. 

Diketahui Gazalba Saleh menjadi tersangka baru dalam kasus dugaan suap pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA). 

“Namun, di sisi lain, KY mengapresiasi proses penegakan hukum yang sedang dilakukan oleh KPK untuk membuat terang benderang rangkaian kasus ini,” kata Juru Bicara KY Miko Ginting melalui keterangan tertulis, Rabu (29/11/2022).

Miko menegaskan, pihaknya terus mendukung KPK untuk mengusut tuntas persoalan korupsi di sektor peradilan (judicial corruption). Sekaligus mengembalikan kepercayaan publik kepada integritas hakim.

Lebih lanjut Miko mengungkapkan, KY bakal melakukan pemeriksaan etik terhadap para hakim yang terlibat suap. Dia menyebut, pemeriksaan etik bisa dilakukan bersamaan maupun setelah proses penyidikan KPK rampung.

“Apakah bersamaan atau setelah proses penegakan hukum akan dikoordinasikan dengan KPK. Hal ini untuk menjaga agar proses penegakan hukum oleh KPK tidak terganggu oleh proses etik oleh KY, melainkan saling melengkapi satu dengan yang lain,” tutur Miko. 

Di luar domain etik, diungkapkan Miko, KY menyerahkan sepenuhnya kepada KPK soal proses hukum Gazalba Saleh. 

“Untuk tersangka Hakim Gazalba Saleh, sampai tahap ini KY memperhatikan dan menyerahkan sepenuhnya kepada proses penegakan hukum di KPK," tandas Miko.

Kasus yang menjerat Hakim Agung Gazalba Saleh merupakan pengembangan kasus dugaan suap pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA). 

Dalam kasus ini, KPK menetapkan tiga tersangka baru. Mereka yakni Hakim Agung Gazalba Saleh, Hakim Yustisial, panitera pengganti pada Kamar Pidana MA sekaligus asisten Hakim Agung Gazalba Saleh, Prasetio Nugroho dan Staf Hakim Agung Gazalba, Redhy Novarisza.

"KPK menemukan kecukupan alat bukti mengenai adanya dugaan perbuatan pidana lain dan ditindaklanjuti ke tahap penyidikan dengan menetapkan dan mengumumkan tersangka," kata Deputi Penindakan KPK, Karyoto dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK Jakarta, Senin (28/11/2022). 

Baca Juga: MA Enggan Berkomentar soal Hakim Agung Gazalba Saleh Gugat KPK Lewat Praperadilan

Sebelumnya, KPK lebih dulu menetapkan Hakim Agung Sudarajad Dimyati sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan perkara. Sudrajad diduga menerima suap senilai Rp 800 juta melalui hakim yustisial atau panitera pengganti MA, Elly Tri Pangestu.

Selain Sudrajad, KPK juga turut menetapkan Elly Tri Pangestu dan delapan orang lainnya sebagai tersangka. Ke delapan orang itu di antaranya Desy Yustria (DY) selaku PNS pada Kepaniteraan MA; Muhajir Habibie (MH) selaku PNS pada Kepaniteraan MA; PNS MA, Redi (RD); dan PNS MA, Albasri (AB). Kemudian, Yosep Parera (YP) selaku pengacara; Eko Suparno (ES) selaku pengacara; serta dua Debitur Koperasi Simpan Pinjam Intidana, Heryanto Tanaka (HT) dan Ivan Dwi Kusuma Sujanto (IDKS).

Perkara yang menjerat Gazalba Saleh bermula pada awal tahun 2022, terkait adanya perselisihan di internal koperasi simpan pinjam Intidana. Kemudian ada pelaporan perkara pidana dan gugatan perdata yang berlanjut hingga proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. 

Yosep Parera dan Eko Suparno ditunjuk oleh Heryanto Tanaka sebagai pengacara untuk mendampingi selama dua proses hukum tersebut berlangsung. Terkait perkara pidana, Heryanto melaporkan Budiman Gandi Suparman selaku Pengurus KSP Intidana, karena adanya pemalsuan akta dan putusan di tingkat pertama pada Pengadilan Negeri Semarang dengan terdakwa Budiman Gandi Suparman dinyatakan bebas. 

"Langkah hukum selanjutnya yaitu Jaksa mengajukan upaya hukum kasasi ke MA RI. Agar pengajuan kasasi Jaksa dikabulkan, Heryanto menugaskan Yosep dan Eko Suparno untuk turut mengawal proses kasasinya di Mahkamah Agung," papar Karyoto.

Baca Juga: Jadi Tersangka KPK, MA Belum Nonaktifkan Hakim Agung Gazalba Saleh

Yosep dan Eko diduga telah mengenal baik dan biasa bekerjasama dengan Desy Yustria sebagai salah satu staf di Kepaniteraan MA untuk mengkondisikan putusan, maka digunakanlah jalur Desy dengan adanya kesepakatan pemberian uang sejumlah sekitar SGD 202.000 (setara dengan Rp 2,2 miliar). 

"Untuk proses pengondisian putusan, Desy turut mengajak Nurmanto Akmal yang juga selaku staf di Kepaniteraan MA dan Nurmanto selanjutnya mengkomunikasikan lagi dengan Redhy Novarisza selaku staf Hakim Agung Gazalba Saleh dan Prasetio Nugrohoselaku asisten sekaligus sebagai orang kepercayaan," ungkap Karyoto.

Sebab, Gazalba Saleh salah satu hakim yang ditunjuk untuk memutus perkara terdakwa Budiman Gandi Suparman. Karena itu, HT, YP dan ES berkeinginan terkait pengondisian putusan kasasi terpenuhi dengan diputusnya Terdakwa Budiman Gandi Suparman dinyatakan terbukti bersalah dan dipidana penjara selama 5 tahun. 

"Dalam pengondisian putusan kasasi tersebut sebelumnya juga diduga telah ada pemberian uang pengurusan perkara melalui DY yang kemudian uang tersebut diduga dibagi diantara DY, NA, RN, NP dan GS. Sumber uang yang digunakan YP dan ES selama proses pengondisian putusan di MA berasal dari HT," ujar Karyoto.

Sebagai realisasi janji pemberian uang, YP dan ES juga menyerahkan uang pengurusan perkara di Mahkamah Agung tersebut secara tunai sejumlah sekitar SGD 202.000 melalui DY. 

"Sedangkan mengenai rencana distribusi pembagian uang SGD 202.000 dari DY ke NA, RN,  NP dan GS masih terus dikembangkan lebih lanjut oleh Tim Penyidik," pungkas Karyoto.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Edi Hidayat
Hendry Kurniawan
Asep Bidin Rosidin
JOIN US
JOIN US