Terkait Kegiatan Militer di Uighur,  AS Blacklist 33 Perusahaan asal Tiongkok
Ilustrasi perseteruan AS dan Tiongkok. (REUTERS/Jason Lee)
News

Terkait Kegiatan Militer di Uighur, AS Blacklist 33 Perusahaan asal Tiongkok

Beijing disinyalir melanggar hak asasi manusia

Sabtu, 23 Mei 2020 13:15 WIB 23 Mei 2020, 13:15 WIB

INDOZONE.ID - Baru-baru ini, Amerika Serikat (AS) menambah 33 perusahaan dan institusi Tiongkok ke dalam blacklist lini bisnis. Hal itu dilakukan sebagai bentuk teguran untuk Beijing akibat perlakuannya terhadap kaum minoritas Muslim Uighur. 

Departemen Perdagangan AS memberlakukan hal itu untuk menindak perusahaan yang  mendukung kegiatan militer Tiongkok, memata-matai populasi minoritas Uighur hingga berkaitan dengan senjata pemusnah massal. 

Hal itu terjadi ketika penguasa Partai Komunis di Beijing pada hari Jumat (22/5/2020) mengumumkan rincian rencana untuk pemberlakuan undang-undang keamanan nasional Hong Kong. 

"Tujuh perusahaan dan dua institusi terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran yang dilakukan dalam kampanye penindasan di Tiongkok. Penahanan sewenang-wenang secara massal, kerja paksa dan pengawasan terhadap Uighur dengan teknologi tinggi serta lain sebagainya," tertulis dalam pernyataan Departemen Perdagangan AS, seperti dikutip Channel News Asia, Sabtu (23/5/2020).

Sementara itu 24 perusahaan lain, lembaga pemerintah dan organisasi komersil juga diduga mendukung pengadaan barang yang bakal digunakan oleh militer Tiongkok. Kebanyakan, perusahaan-perusahaan yang di-blacklist Amerika Serikat bergerak dalam bidang kecerdasan buatan dan pengenalan wajah. Teknologi itu mirip seperti yang sudah banyak dikembangkan oleh perusahaan terkemuka seperti Nvidia dan Intel. 

Di antara perusahaan-perusahaan itu adalah NetPosa, salah satu perusaan AI paling terkenal di Tiongkok, anak perusahannya terlibat dalam pemantauan minoritas Muslim. 

Lalu Qihoo360, perusahaan cybersecurity besar di Tiongkok yang baru-baru ini mengklaim telah menemukan bukti kalau alat peretas CIA digunakan untuk memantau sektor penerbangan Tiongkok. 

CloudMinds yang didanai oleh Softbank Group juga masuk ke dalam blacklist. Perusahaan ini mengoperasikan sistem berbasis cloud yang bisa menjalankan robot seperti Pepper, robot humanoid yang mampu berkomunikasi. Sejak Maret 2020, Amerika Serikat sudah memblokir transfer teknologi dari AS ke Tiongkok. 

Departemen Perdagangan mengatakan pihaknya akan membatasi penjualan barang-barang dari AS yang dikirim ke Tiongkok, khususnya untuk produk yang sifatnya pengembangan teknologi.

"Hal ini dilakukan sebagai upaya jangka panjang pemerintah AS untuk melarang ekspor ke perusahaan Tiongkok yang terlihat dalam pelanggaran hak asasi manusia atau mendukung militer Tiongkok," kata Kevin Wolf, mantan pejabat Departemen Perdagangan. 

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahmy Fotaleno
Dinno Baskoro