Mahasiswa Indonesia di New York Amerika Ungkap Kondisi Pandemi Corona di Sana
Kiri, Mehulika Sitepu. (photo/Instagram/@mehulika) Kanan, Seorang polisi sedang mengamankan jalanan ditengah pandemi covid-19 di New York. (photo/EUTERS/Brendan McDermid)
News

Mahasiswa Indonesia di New York Amerika Ungkap Kondisi Pandemi Corona di Sana

Sabtu, 04 April 2020 00:36 WIB 04 April 2020, 00:36 WIB

INDOZONE.ID - Pandemi virus corona atau covid-19 kini menjadi momok yang menakutkan di seluruh dunia, bahkan Indonesia.

Hingga kini kasus covid-19 telah menyentuh angka 1.067.325 kasus di seluruh dunia, data dari Worldmeter.com, Jumat (3/4/2020).

Dari data tersebut, Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang paling terpukul dari virus corona. Dilansir dari Worldmeter.com, AS dilaporkan terdapat 259.750 kasus, dengan 6.603 orang meninggal dunia.

Seorang Mahasiswa Indonesia di Kota New York, Amerika Serikat pun membagikan kisah pengalaman tinggal di kota dengan jumlah orang positif virus corona tertinggi di negara itu.

covid-19
Seorang polisi sedang mengamankan jalanan ditengah pandemi covid-19 di New York. (photo/EUTERS/Brendan McDermid)

Dilansir dari akun Instagram @voaindonesia, Mehulika Sitepu (@mehulika) merupakan mahasiswi Indonesia yang berada di Kota New York.

Dia harus bertahan seorang diri di kota terpadat di Amerika itu di tengah wabah virus corona. Di Kota New York sendiri ada 47.439 kasus positif, dengan jumlah kematian 1.374 jiwa.

"Penah suatu saat, saya lagi mandi, agak sulit napas itu sampai serangan kecemasan, sampai langsung ke luar kamar mandi buru-buru dan buka jendela selebar mungkin, parnoan banget bawaannya kalau ada apa-apa," ungkap kecemasan Mehulika Sitepu dalam video yang di unggah oleh Voa Indonesia.

Ia menceritakan bahwa kota yang dirinya tinggali merupakan kota dengan kasus corona atau covid-19 tertinggi di Amerika Serikat.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by VOA Indonesia (@voaindonesia) on

Karena kondisi tersebut membuat Mehulika Sitepu sering kali merasakan panik karena sering mendengarkan suara sirene ambulan yang lewat.

"Tiap 10 menit, pasti ada suara sirene dan itu sampai tengah malam," ujar dirinya.

Saking cemasnya Mehu dikondisi tersebut, membuat dirinya sering terbangun karena mendengar suara sirene. Apa lagi didalam kondisi tersebut ia merupakan anak rantau yang hidup sendirian di kota New York.

Menhu sendiri merupakan seorang Mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang berkuliah di Columbia University dengan meraih beasiswa S2 Administrasi Publik.

ambulan covid-19 new york
Seorang pasien diangkut dengan ambulan karena covid-19 di New York, Rabu (1/4) (photo/REUTERS/Jefferson Siegel)

Karena wabah corona di AS semakin meluas Menhu juga sempat berpikir ingin kembali ke Indonesia. Namun hal itu tak ia lakukan karena Indonesia saat ini sama parahnya dengan di AS.

"Tingkat kematian di Indonesia sekitar 10%, di kota New York itu masih sekitar 2%. tuturnya.

Ditengah wabah tersebut Mehu juga sering berbagi tentang kondisi satu sama lain dengan teman yang berasal dari Indonesia di AS.

Di Kota New York sendiri telah dilakukan aturan physical distance, untuk mencegar tertularnya virus corona. Menhu dan warga setempat harus tetap di rumah, mereka diizinkan keluar juga ada sesuatu yang penting seperti membeli obat-obatan atau kebutuhan sehari-hari.

Untuk membeli kebutuhan sehari-hari Mehu juga sering kali mencoba untuk membeli di supermarket online, namun seringkali kehabisan stok.

mengantri ditengah wabah corona
Suasana warga saat mengantri untuk membeli kebutuhan sehari-hari di New York. (photo/REUTERS/Eduardo Munoz)

"Ini sudah coba tiga supermarket online, tapi semuanya sudah ngak ada slot, ujar Mehu.

Untuk itu Mehu terpaksa untuk mebeli kebutuhan sehari-hari di supermaket terdekat. Hampi seluruh tempat terlihat sepi, bahkan untuk membeli sesuatu setiap orang harus menjaga jarak sekitar 2 meter.

Selama virus corona masih mewabah di AS, kuliah juga diterapkan secara online, bahkan sistem nilai mata kuliah juga diubah menjadi 'lulus atau tidak lulus', tidak lagi menggunakan nilai 'huruf A-F'.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Mehulika Sitepu (@mehulika) on

Kuliah daring di Columbia University akan berlangsung hingga akhir semester atau bulai Mei mendatang. Mau tidak mau Mehu tetap akan mengikuti kelas onlinenya.

"Ya, sempat kecewa awalnya, bagaimanapun, nilai huruf bikin kita lebih semangat untuk ngejar nilai kan?" kata dia.

"Proses belajar-mengajar di AS ini yang sangat menyenangkan sebenarnya, karena bisa langsung nanya sama profesornya tanpa harus takut," lanjut Mehu.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Kana
Kana

Kana

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US