Dua Jurnalis Pengungkap Virus Corona di Tiongkok Menghilang
Kiri: Fang Bin (screenshoot/YouTube). Kanan: Chen Qiushi (screenshoot/YouTube)
News

Dua Jurnalis Pengungkap Virus Corona di Tiongkok Menghilang

Sabtu, 15 Februari 2020 15:33 WIB 15 Februari 2020, 15:33 WIB

INDOZONE.ID - Dua pria bernama Fang Bin dan Chen Qiushi yang juga merupakan jurnalis pengungkap "kebenaran" soal virus corona, menghilang tiba-tiba dan tidak diketahui keberadaannya.

Sebelum menghilang, keduanya kerap membagikan sejumlah video di media sosial, yang memperlihatkan foto dan beragam kisah dramatis di Kota Wuhan yang kini terisolasi.

Kedua pria ini diketahui nekat masuk ke kota tempat penyebaran virus corona, untuk membagikan informasi tentang kondisi sebenarnya di Kota Wuhan kepada dunia.

Namun, kini media sosial keduanya tak lagi ramai dengan netizen yang ingin menyaksikan kondisi Wuhan. Media sosial mereka mendadak sepi. Para pengikut keduanya pun merasa khawatir dan takut mereka akan hilang untuk selamanya.

Mengenal Fang Bin

Fang Bin sendiri adalah seorang pria pengusaha di Wuhan. Ia rutin membagikan video tentang virus corona yang terjadi di Wuhan. Fang bahkan berjanji akan memberikan laporan yang terbaik.

Fang pertama kali mengunggah videonya di kanal YouTube pada 25 Januari 2020. Padahal aksinya ini dilarang di Tiongkok, namun Fang mendapatkan akses melalui jaringan pribadi virtual (VPN).

Dalam video pertamanya itu terlihat, Fang tengah berjalan-jalan di kota sambil menunjukkan situasi di berbagai tempat. Lalu, pada 1 Februari 2020 lalu, Fang kembali mengunggah sebuah video yang membuat banyak orang tercengang.

Dalam video itu, Fang memperlihatkan delapan mayat yang ditumpuk di dalam minibus di luar rumah sakit di Wuhan. Tak disangka, videonya ini jadi viral dan menyita perhatian orang-orang.

Namun, di hari yang sama, Fang menuduh aparat kepolisian telah menerobos rumahnya untuk melakukan interogasi terkait video itu. Fang langsung dibawa oleh polisi untuk dilakukan interogasi. Tapi, ia tak sampai ditahan dan dibebaskan oleh polisi.

Meski sempat diinterogasi oleh polisi, Fang tak ingin menyerah begitu saja. Pada 9 Februari lalu, Fang kembali mengunggah sebuah video berdurasi 13 detik dengan menuliskan "Semua orang memberontok- menyerahkan kembali kekuasaan pemerintah kepada rakyat."

Anehnya, setelah mengunggah video itu, akun media sosial Fang menjadi sunyi.

Siapa Chen Qiushi sebenarnya?

Chen Qiushi sebenarnya adalah mantan pengacara hal asasi manusia yang beralih berprofesi menjadi jurnalis video. Chen mulai dikenal sejak membagikan informasi tentang protes yang terjadi di Hong Kong.

Anehnya, saat Chen kembali ke daratan Tiongkok, akun media sosialnya dihapus. Tak ingin tinggal diam, Chen lalu membuat kanal YouTube dan Twitter.

Hingga pada akhir Januari lalu, Chen memutuskan untuk masuk ke dalam Kota Wuhan untuk melaporkan situasi yang terjadi di kota tersebut.

"Saya akan menggunakan kamera saya untuk untuk mendokumentasikan apa yang sebenarnya terjadi. Saya berjanji tidak akan menutupi kebenaran," kata Chen dalam video YouTube pertamanya.

Saat tiba di Kota Wuhan, Chen langsung mengunjungi berbagai rumah sakti di Wuhan. Di sana, Chen melihat kondisi yang terjadi sembari berbicara dengan pasien.

Chen sendiri mengaku bahwa ia sadar tindakannya itu membahayakan dirinya sendiri. Ia juga mengatakan pada wartawan BBC John Sudworth, jika ia tidak tahu kapan aksinya itu masih berlangsung.

"Sensornya sangat ketat dan akun orang-orang ditutup jika mereka membagikan konten saya," ujar Chen.

Kemudian pada 7 Februari lalu, teman Chen yang kini memegang akun Twitter Chen memperlihatkan, bahwa ia Chen menyebut anaknya telah hilang sehari sebelumnya. Dalam sebuah kanal YouTube, teman Chen, Xu Xiadong mengklaim bahwa Chen telah dikarantina secara paksa.

Penjelasan pihak berwenang

chen
Chen Qiushi (screenshoot/YouTube)

Hilangnya Feng dan Chen membuat pihak berwenang diam seribu bahasa. Mereka enggan memberitahu kenapa kedua jurnalis ini bisa menghilang. Patrick Poon yang merupakan seorang peneliti dari Amnesty Internasional mengatakan bahwa mereka belum mengetahui di mana keberadaan Fang dan Chen.

"Pihak berwenang China harus memberi tahu keluarga mereka dan memberi mereka akses memilih dan mendapatkan pengacara. Kalau tidak terjadi maka itu adalah bukti bahwa mereka berisiko disiksa atau diperlakukan sewenang-wenang," ujar Poon dilansir dari BBC.

Alasan Feng dan Chen menghilang

Peneliti Human Right Watch (HRW) menuturkan bahwa saat ini, pihak berwenang Tiongkok tengah fokus untuk membungkam kritik soa penyebaran virus corona.

Sebelumnya, dokter di Wuhan bernama Li Wenling diberi peringatan untuk tidak menyebarkan komentar palsu usai kota tersebut tersebar virus corona. Namun, pada akhirnya, Li terjangkit virus corona dan meninggal dunia.

ruang
Staf medis memantau pasien di ruang rawat (REUTERS/China Daily)

"Pemerintah Cina yang otoriter memiliki sejarah dalam melecehkan dan menahan warga yang berbicara kebenaran atau mengkritik pihak berwenang selama keadaan darurat publik, misalnya, selama SARS pada 2003, gempa Wenchuan pada 2008, kecelakaan kereta Wenzhou pada 2011 dan ledakan kimia Tianjin pada 2015," kata peneliti HRW Yaqiu Wang, dilansir dari BBC.

Menurut Wang, Tiongkok perlu belajar dari pengalaman dan memahami bahwa kebebasan informasi, transparansi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia akan memudahkan pengendalian penyakit, bukan malah menghambatnya.

"Pihak berwenang sendiri melakukan tindakan merugikan dengan [diduga] menghilangnya Fang dan Chen," jelang Wang.
 

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Putri
Putri

Putri

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU