The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Presiden Jokowi: Pengendalian COVID-19 Jadi Kunci Bergeraknya Ekonomi
Presiden Joko Widodo. (Instagram/@jokowi)
News

Presiden Jokowi: Pengendalian COVID-19 Jadi Kunci Bergeraknya Ekonomi

Rabu, 21 April 2021 09:10 WIB 21 April 2021, 09:10 WIB

INDOZONE.ID - Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pengendalian kasus COVID-19 menjadi kunci bergeraknya perekonomian Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi mencatatkan angka yang optimistis. Sementara tren kasus harian COVID-19 terus menurun,” kata Presiden Joko Widodo di Jakarta, Selasa (20/4), seperti dilansir Antara.

Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 minus 2,1 persen.

“Kita hanya kalah dari RRT yang plus. Yang lainnya, AS, Jepang, Jerman, Italia, Prancis itu minus banyak semuanya,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengatakan, saat ini angka kasus harian COVID-19 berada di kisaran 4.000 hingga 5.000, atau jauh menurun bila dibandingkan pada Januari-Februari lalu yang masih di atas 10 ribuan.

“Penerapan pembatasan kegiatan masyarakat skala Mikro masih menjadi kunci pengendalian COVID-19” ujar Presiden.

Maka dari itu, Presiden berharap kondisi ini dapat dijaga dan ditingkatkan terus sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terus bergerak ke arah positif.

Sehubungan dengan hal itu, dalam menyambut momentum Hari Raya Idul Fitri 2021 ini, Presiden  meminta masyarakat untuk benar-benar mematuhi larangan mudik yang sudah ditetapkan pemerintah.

Presiden Jokowi mengatakan, larangan mudik ini dinilai penting demi mencegah lonjakan kasus seperti yang terjadi pada Januari-Februari 2021 lalu.

“Pertumbuhan ekonomi kita sudah bagus, jangan diganggu COVID-19 lagi," kata Presiden.

Lebih lanjut, Presiden mengatakan, belajar dari pengalaman sebelumnya, peningkatan mobilitas masyarakat di masa libur telah menyebabkan terjadinya peningkatan angka kasus harian COVID-19.

Maka dari itu, Presiden Joko Widodo pun mendorong larangan mudik ini terus disuarakan berkali-kali kepada masyarakat.

“Ini (larangan mudik) diperlukan karena menurut survei yang kita lakukan,  ada 11 persen masyarakat yang masih berkeinginan untuk mudik tahun ini," jelas Presiden.

Bila dikonversi, angka survei 11 persen itu sama dengan 17 juta jiwa, Presiden menambahkan

“Kalau mudik tidak dilarang, hitung-hitungan kami bakal ada lonjakan angka menjadi 120 ribu hingga 140 ribu kasus COVID-19 per hari. Jadi memang harus kita tekan terus,” tutup Presiden.

TAG
Zal
Zal

Zal

Editor
JOIN US
JOIN US