The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Wanita Ini Berbagi Cerita "Pedihnya" Terpapar Covid-19, Masih Mau Menyepelekan?
Wanita ini membagikan pengalaman pedihnya terpapar Covid-19. (TikTok/@putriduyung14)
News

Wanita Ini Berbagi Cerita "Pedihnya" Terpapar Covid-19, Masih Mau Menyepelekan?

Salah satunya hadapi stigma masyarakat.

Jumat, 14 Agustus 2020 17:32 WIB 14 Agustus 2020, 17:32 WIB

INDOZONE.ID - Seorang wanita membagikan cerita dan pengalamannya terpapar virus corona (Covid-19). Dia membagikan, betapa tidak enaknya menjalani perawatan Covid-19 di ruang isolasi sebuah rumah sakit.

Kreator TikTok @putriduyung14 membagikan cerita mengenai pengalamannya bisa terkena virus Covid-19 dan suka dukanya mengalami perawatan di ruang isolasi.

"Gue pengen cerita bagaimana bisa kena penyakit ini. Intinya beberapa minggu lalu gue ketemu sama bokap dan nyokap dan setelah balik ke Lampung. Dan ternyata mereka, positif corona dan harus karantina di rumah sakit di sana," tutur Putri dalam ceritanya di TikTok.

Putri mengaku sempat merasakan demam dan batuk tak henti-henti setelah bertemu orangtuanya. Singkatnya, saat itu dia berobat dan sembuh. Waktu dia sembuh, Putri mendapat kabar orangtuanya didiagnosa terpapar corona.

Setelah orangtuanya terpapar corona, Putri mengaku, tak dilakukan tracing oleh dinas kesehatan setempat. Padahal, adik dan kakaknya semua difasilitasi rapid test dan tes swab dari rumah sakit setempat.

"Gue bingung kok gak ada petugas kesehatan yang tracing gue. Soalnya kakak dan adik gue difasilitasi tes swab dan rapid gratis. Akhirnya gue rapid dan swab tes sendiri. Saat nunggu hasil swab tes gue ngerasa sakit kaya orang gila, parah sih itu gue gak bisa jelasin rasa sakitnya," urai Putri sambil memegang lehernya.

Dia pun mempertanyakan kenapa hasil tes swabnya sempat lama sekali keluarnya. Sehingga, membuatnya tetap melakukan isolasi mandiri dan takut keluar rumah kos, karena khawatir jadi orang tanpa gejala (OTG).

"Akhirnya gue inisiatif datang ke rumah sakitnya dan tanya hasilnya. Saat itu gue kayak gak bisa berdiri, batuk aja sampe kayak meringkuk gitu. Di situ gue merasa kehilangan indra perasa dan penciuman, badan panas dan pilek. Naik tangga aja pengap banget ada diare juga. Tapi gue mau positif thingking. Dan gue suruh ketemu dan tanya hasilnya ke dokternya," urai Putri.

Akhirnya, Putri bertemu dengan dokter. Saat itu, dokter tersebut menyatakan jika hasil swab tes dari tenggorokan dan hidung ternyata positif Covid-19. Putri pun dianjurkan untuk menjalani perawatan.

"Karena gue tinggal sendiri, dokternya jadi tidak yakin. Apalagi, gue masuk gejala menengah. Jadi ya harus dirawat. Terus dokternya bilang kamu gak usah takut ini bakal jadi tanggungan negara," kata dia menirukan ucapan dokter.

Kemudian, Putri menjelaskan apa saja yang dilakukannya selama menjalani perawatan Covid-19 di rumah sakit. Dia menceritakan, ruang karantinanya berukurang kecil walau dilengkapi pendingin ruangan dan air hangat di toilet.

Namun, hal yang paling menyakitkan saat menjalani perawatan Covid-19 adalah saat obat dimasukkan ke dalam tubuh melalui "three way" melalui nadi di tangannya. Dia merasa, itu rasanya sakit sekali.

"Alhamdulillah hari ini sudah dicabut. Jadi obat masuknya lewat sini (menunjuk nadi di tangannya) dan gak tau kenapa itu pedih banget. Biasanya obat kan 3 kali sehari, itu pertama-pertama  gue  minum bisa sekali 7. Terus swab tes yang sangat-sangat tidak nyaman. Kalian mana sih yang nyaman hidung, tenggorokan dirogoh-rogoh," ulasnya. 

Dari kesemuanya itu, Putri menekankan hal yang paling tidak mengenakan saat tepapar virus corona dan harus dirawat di ruang isolasi rumah sakit adalah adanya perang batin. Sebab, dirinya tidak bisa beraktivitas normal dan bertemu orang-orang yang disayanginya. 

"Belum lagi stigma masyarakat yang jelek. Mungkin gue gak merasakan ini karena di sini tinggal sendiri. Cuma hal ini dirasakan bokap nyokap gue yang tinggal di Lampung," kata dia.

Putri memang mengetahui jika Covid-19 merupakan virus yang berbahaya. Namun, karena dia masih muda jadi agak menyepelekan dan yakin bisa sembuh.

"Ternyata tidak gitu juga. Dari penyakit ini gue belajar, apalagi kondisi paru-paru gue gak kayak dulu lagi dan gue gak sebebas dulu menikmati sinar matahari. Gue sampe kangen banget kena sinar matahari dan udara segar," celetuknya.

Dia pun berpesan kepada teman-teman seumurannya untuk tidak menyepelekan virus corona. Terutama, masih sehat karena bisa merasakan sinar matahari dan udara tanpa menggunakan alat bantu apapun.

"Jaga kesehatan kalian," pesan Putri.

Artikel Menarik Lainnya:


TAG
Fiddy Anggriawan

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US