The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Bukan Jual Mobil, Mayat yang Dibuang ke Jurang Disiksa saat Ditagih Uang Kalah Judi Online
Lisa menangis menghadapi kematian suaminya, Asiong (kanan). (Ist)
News

Bukan Jual Mobil, Mayat yang Dibuang ke Jurang Disiksa saat Ditagih Uang Kalah Judi Online

Rabu, 23 September 2020 11:32 WIB 23 September 2020, 11:32 WIB

INDOZONE.ID - Terungkap sudah motif pembunuhan Jefri Wijaya (38 tahun) alias Asiong yang mayatnya dibuang ke jurang di Jalan Medan-Berastagi, tepatnya di KM 54-55, Desa Ndaulu, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo.

Ternyata, setelah kasus ini ditangani oleh Polda Sumatera Utara, korban diketahui disiksa dan dibunuh saat ditagih uang kalah judi online.

Menurut laporan yang disampaikan oleh Polda Sumut kepada Pangdam I Bukit Barisan, yang laporannya diterima Indozone.id, diketahui kalau korban kalah judi online dari salah seorang pelaku penyiksaan bernama Edi.

Berdasarkan kronologi yang tertuang dalam laporan tersebut, penyiksaan itu terjadi pada hari Kamis, 17 September 2020. 

Mulanya, Koptu S diajak oleh Edi, yang menang judi online atas korban, pada pagi hari. Siang harinya, Koptu S dan lima orang lainnya menemui korban yang saat itu mengenderai mobil Terrios warna hitam miliknya. Adapun plat mobil itu dibuang oleh Koptu S di daerah pintu tol Bandar Selamat, Medan.

Selanjutnya, di dalam mobil korban, Koptu S dan kawan-kawannya menuju Marelan. Di dalam mobil itu, dalam kondisi melaju di jalan, mereka mengintimidasi korban. Mereka kemudian berhenti di suatu tempat yang merupakan tanah garapan, lalu masuk ke sebuah gudang tembakau milik seorang pelaku lainnya bernama Welli.

Di gudang tersebut, korban dipukuli dengan menggunakan selang, tangan diikat, mata ditutup lakban, serta diinjak pada bagian dada dan perut. Korban berteriak keras, namun tak ada yang menolongnya.

Sore harinya, korban dibawa dengan mobil Terrios miliknya ke rumah sebuah kontrakan yang berjarak 1 Kilometer dari gudang tembakau. Di rumah itu, lagi-lagi korban disiksa oleh pelaku lainnya, antara lain dengan memasukkan air ke mulut korban secara paksa dengan gayung.

Disiksa seharian, korban akhirnya tidak bergerak lagi. Lantas, para pelaku penyiksaan di rumah kontrakan itu menyampaikan kepada Koptu S yang berada di luar rumah. Selanjutnya Koptu S masuk ke dalam untuk memeriksa korban yang sudah meninggal.

Pukul 18.30 WIB, jasad korban dibawa dengan mobil Terrios ke daerah hutan di Tanah Karo, kemudian dibuang ke jurang sekitar 50 meter dari pinggir jalan.

Mobil Terrios milik korban lantas disembunyikan oleh Koptu S di bengkel mobil di Jalan Karya Jaya Medan Johor, milik seseorang bernama Mukhri, teman Koptu S.

Setelah menghabisi nyawa korban, Koptu S menerima uang Rp3 juta dari salah satu pelaku bernama Hendi.

Kasus ini kini tengah ditangani oleh Polda Sumut. Laporannya pun telah disampaikan oleh Direskrimum Poldasu Kombes Pol Anwar dan Kabid Propam Poldasu Kombes Pol Donald Simanjuntak kepada Pomdam I/BB, bahwa Koptu S, yang bernomor anggota Nrp 31950342140474 Ta Gakkumwal Denpom I/5 Medan, terlibat pembunuhan.

Atas kasus ini, Polda Sumut telah menetapkan Koptu S sebagai tersangka. Sedangkan 9 pelaku lainnya, yakni  Edi, Welli, Hendi, Dendy Syahputra, Selamat Nurdin alias Tuta, Bagus Hariyanto, Kecot, Boys, dan Lae, sejauh ini masih berstatus sebagai saksi. Adapun enam pelaku lainnya sampai saat ini belum ditangkap.

Ngaku Jual Mobil ke Istri

Berdasarkan penuturan istrinya, Lisa, Jefri Wijaya alias Asiong pergi dari rumah pada Kamis, 17 September 2020. Lisa bilang, Asiong pergi untuk menjual mobil mereka, berjenis Daihatsu Terrios. 

"Siangnya jam 12 dia keluar dari rumah. Saya telfon, 'Lu ke mana?'. 'Ada yang mau beli mobil,' katanya," tutur Lisa.

Ist
Lisa, istri Asiong, bersama salah satu anaknya.

Asiong bahkan sempat menelepon balik Lisa satu jam kemudian dan meminta Lisa untuk berdoa agar mobilnya laku terjual.

"'Cepat sembahyang dulu, Badut, biar lewat (terjual) Terrios ini,' katanya. Aku bilang, oke," sambung Lisa.

Di hari ketika Asiong pergi, di rumah mereka sedang ada renovasi atap kanopi. Renovasi selesai pukul 15.00 WIB.

"Udah gitu, udah selesai renovasinya jam 3, tukangnya kan minta duit (upah jasa). Saya telepon (suami), enggak diangkat dua kali. Terus anak kami yang paling besar chat papinya (suami saya), 'Pi, itu tukang kanopinya udah selesai, mau bayar berapa?' Lima ratus ribu, katanya. Terus aku telfon, kok aku telepon dan chat gak dibalas. Udah agak lama, jam 4 itu, dia balas, 'Lagi lobi lho'," kata Lisa.

Pada pukul 16.30 WIB, Asiong sempat pulang ke rumah. Namun pada saat itu, Lisa sedang tidur siang di lantai atas rumahnya, dan baru terbangun pukul 18.10 WIB. Ketika dia bangun, Asiong sudah pergi lagi.

"Jam 7, mertua telfon, tanya, 'Anak-anak siapa yang jemput?' Aku telfon dulu Asiong. Kutelfon gak angkat. Itu kalau gak salah jam 19.15. Online di WA jam 18.45. Setelah itu aku hubungi gak angkat sampai jam 01.00 WA dan hp mati semua. Sampai sekarang," katanya.

Pada tanggal 18 September 2020, Lisa sempat merasa kalau Asiong pulang larut malam, sekitar pukul 03.00 WIB. Namun, karena kantuk berat, dia tak sempat memastikan kepulangan Asiong.

"Tanggal 18, jam 3, ada suara dia lagi nangkap nyamuk pakai raket listrik. Dia kebiasaanya nangkap nyamuk dulu baru masuk kamar. Dalam hatiku udah pulang. Kutunggu terus, kok gak naik ya? Terus perasaanku dia ada buka pintunya. Tapi kok gak ada dia. Gak ada masuk. Terus aku lanjut lagi tidur," katanya.

Perasaan itu Lisa anggap sebagai petanda kalau arwah Asiong hendak memberitahunya soal kematiannya.

"Mungkin itulah aku dikasih tanda bahwa dia udah pulang tapi udah tidak dengan raganya lagi," katanya.

Lisa pun menangis histeris saat mengetahui kabar Asiong tewas dalam kondisi mengenaskan pada Sabtu, 19 September 2020.

Seorang temannya, yang mendapat kabar dari sebuah grup WhatsApp penggemar badminton, memberitahunya soal penemuan mayat laki-laki di jurang yang berada di Jalan Medan-Berastagi, tepatnya di KM 54-55, Desa Ndaulu, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo. Mayat itu sendiri ditemukan warga pada hari Jumat (18/9/2020) sekira pukul 11.30 WIB.

Merasa bahwa ciri-ciri mayat itu mirip dengan ciri-ciri Asiong, antara lain terdapat kutil sebesar biji kacang di punggungnya dan bekas operasi di perutnya, Lisa pun mendatangi RSU Kabanjahe, Brastagi, untuk mengecek.

Dan ternyata benar. Mayat itu ternyata adalah suaminya, Asiong.

Sempat Dianggap Mayat Mr X

Sebelum terungkap identitasnya, mayat Asiong sempat dianggap sebagai mayat Mr. X, saat ditemukan dalam kondisi tanpa busana oleh warga pada umat (18/9/2020) sekira pukul 11.30 WIB.

Mayat Asiong pertama kali ditemukan oleh Dadang Sukoco, seorang mekanik, saat hendak memperbaiki mobil yang dikemudikan Miswadi (35) yang bermuatan pupuk kompos kotoran ayam, yang mogok tidak jauh dari lokasi.

Setelah mengecek kerusakan mobil, Dadang memerintahkan temannya untuk membeli suku cadang yang diperlukan ke kota Brastagi. Namun ketika temannya itu telah pergi, Dadang baru sadar bahwa ada komponen lainnya yang juga perlu dibeli.

Karenanya, dia menelepon temannya itu. Akan tetapi, saat hendak menelepon, Dadang kesulitan mencari sinyal, sehingga ia bergeser ke arah lokasi mayat Asiong. Saat menguji sinyal di ponselnya, Dadang melihat sesosok mayat.

Ist
Mayat Asiong.

Dari situ kemudian dia memberitahu temannya, Jeri Ronaldo Ginting, soal mayat yang dilihatnya.

Lantas, polisi dan pihak Puskesmas Brastagi mengevakuasi mayat tersebut, dibantu oleh warga Desa Doulu.

Pukul 13.00 WIB, mayat itu kemudian dibawa dengan ambulans Puskesmas Brastagi ke RSU Kabanjahe.

“Ciri-ciri korban diperkirakan berusia 35 tahun. Korban mengalami luka-luka diduga akibat penganiayaan karena di tubuh korban ditemukan luka lebam pada bahagian wajah (mata), badan bagian punggung belakang luka lebam, tangan serta kaki korban sebelah kanan lebam dan kulit ada yang terkelupas, korban ditemukan tanpa busana,” ungkap Kapolsek Berastagi Kompol L. Marpaung.

Dibakar Hidup-hidup

Dari keterangan Lisa, Asiong diduga mengalami penyiksaan sebelum dibunuh. Salah satunya dibakar hidup-hidup.

"Suami saya disiksa, dibakar hidup-hidup, di bagian pahanya. Dalam badannya hancur, kepalanya juga," kat Lisa.

Lisa menduga pembunuh suaminya adalah orang yang dia kira membeli mobilnya.

"Mungkin berkaitan dengan orang-orang yang mencari dia di tanggal 16 (September) di tempat hiburan itu," katanya.

Lisa tak dapat menahan tangisnya saat menceritakan bahwa dia punya tiga anak yang masih kecil, anak yang masih butuh kasih sayang seorang ayah.

"Saya berharap polisi cepat temukan siapa pelakunya. Hukum seberat-beratnya. Saya berharap kepada pihak kepolisian, ungkap terus kasus ini, gak boleh didiamkan. Saya mohon sekali. Anak kami masih kecil-kecil ada tiga," Lisa menambahkan.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US