Asmara dan Warisan Jadi Motif Pembunuhan Korban yang Jasadnya Dicor
ANTARA FOTO/Zumrotun Solichah
News

Asmara dan Warisan Jadi Motif Pembunuhan Korban yang Jasadnya Dicor

Putri
Jumat, 08 November 2019 12:28 WIB 08 November 2019, 12:28 WIB

INDOZONE.ID - Terkait dengan kasus pembunuhan dan pengecoran jenazah Sugiono alias Surono, Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal mengatakan bahwa istri korban yang berinisial BS (47) dan anaknya, BR (27) telah ditetapkan sebagai tersangka. Seperti yang diketahui, jasad Sugiono dicor di bawah lantai mushalla rumahnya di Desa Sumbersalak, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

"Kedua tersangka melakukan pembunuhan secara berencana yang dilakukan pada akhir Maret 2019 dengan barang bukti sebuah linggis yang diduga digunakan untuk membunuh korban," katanya saat pers rilis di Mapolres Jember, Kamis (07/11).

Menurut Alfian, korban Sugiono meninggal karena mengalami kekerasan dari benda tumpul. Korban dipukul dengan linggis di pipi dan rahang sebelah kiri hingga hancur. Tak hanya itu, Sugiono juga mengalami pendarahan hebat hingga sesak napas dan darah masuk ke pernapasan hingga korban meninggal dunia.

mati
ANTARA/HO/Humas Polres Jember

"Kedua tersangka merencanakan pembunuhan tersebut, namun yang melakukan eksekusi membunuh korban dengan linggis yakni anaknya BR dan istri korban mengetahui kejadian itu," tuturnya.

BR lalu mengubur jasad ayahnya di selatan sebelah rumah dengan atasnya diberi semen, beberapa hari kemudian semen tersebut pecah-pecah dan dicor setinggi 25 cm sekaligus dibuat untuk mushalla dan dapur.

"Setelah membunuh bapaknya, tersangka BR membawa tas korban yang berisi uang Rp6 juta dan sepeda motor korban yang dijualnya sekitar Rp19 juta, kemudian BR kembali bekerja di Pulau Bali," ungkapnya.

Kedua tersangka kata Alfian awalnya memberikan keterangan yang berbelit-belit kepada penyidik. Istri dan anak korban saling menuduh siapa yang menjadi pelaku pembunuhan Sugiono.

"Kami memeriksa delapan saksi dalam kasus pembunuhan korban yang jasad dicor di bawah lantai mushalla di Desa Sumbersalak, sehingga hasil pemeriksaan tersebut mengarah pada dua orang tersangka yakni istri dan anak korban yang sudah kami tahan di Mapolres Jember," ujarnya.

Dari proses pemeriksaan diketahui bahwa motif keduanya melakukan ini dilatarbelakangi oleh urusan asmara dan warisan.

jasad
ANTARA/HO/Humas Polres Jember

"Untuk motif pembunuhan yakni asmara dan warisan, serta dendam, sehingga kedua tersangka tega membunuh korban saat yang bersangkutan tertidur pulas di rumahnya," kata Alfian Nurrizal.

"Terkait asmara, BS mengaku cemburu dengan seorang perempuan berinisial I yang diduga sebagai selingkuhan suaminya dan saat diminta keterangan I mengakui kedekatannya dengan Sugiono, namun ia juga mengaku dekat dengan BS yang menjadi istri korban," katanya.

Selain itu, BS dan BR juga mengatakan bahwa, mereka ingin menguasai harta korban yang sehari-hari menjadi petani kopi dengan penghasilan sekitar Rp90 juta per tahun.

"Sementara untuk motif warisan, kedua tersangka tergiur untuk menguasai harta korban dari hasil panen kebun kopinya sebesar Rp90 juta hingga Rp100 juta per tahun, sehingga mereka merencanakan untuk membunuh korban pada akhir Maret 2019," ucap Alfian.

Sementara itu, BS juga diketahui telah menikah siri dengan pria berinisial J, sebulan setelah Sugiono meninggal. Pernikahan ini disaksikan oleh anaknya sendiri, BR. Namun selama pernikahan, J tidak mengetahui bahwa BS telah membunuh Sugiono dan jasadnya dikubur di bawah lantai mushalla yang dicor.

jasad
ANTARA/HO/Humas Polres Jember

Di sisi lain, motif BR ikut dalam perencanaan pembunuhan ini ialah dendam. BR merasa sakit hati pada Sugiono yang tidak memberinya uang dalam jumlah banyak. Terlebih saat ia tahu bahwa sang ayah memiliki penghasilan yang cukup besar dari hasil panen kebun kopinya seperti Agustus 2019, yang pendapatannya mencapai Rp100 juta.

"Yang merencanakan ide pembunuhan korban yakni kedua tersangka (ibu dan anak) yang memiliki peran masing-masing, sehingga bersekongkol membunuh korban dan menguburnya di bawah lantai mushalla yang dicor," ujarnya.

Namun, setelah proses pembunuhan berlangsung dan bagi warisan. BR mendapat bagian yang tidak sebanding, harta milik ayahnya justru lebih banyak dinikmati oleh ibu dan suaminya sirinya, J. Inilah yang membuat BR menuduh J membunuh Sugiono. Hal ini diungkapkan dalam salah satu keterangan kepada penyidik.

"BR merupakan residivis kasus penganiayaan berat yang korbannya adalah Bu Nyai di desa setempat, sehingga pernah dipenjara selama 2 tahun 8 bulan," ucapnya.

Dari hasil penyelidikan, polisi mengamankan barang bukti di antaranya, celana pendek korban, baju korban, sarung korban, sprei, palu, cangkul, dan linggis yang sudah dibawa oleh penyidik Polres Jember.

jasad
ANTARA/HO/Humas Polres Jember

Atas perbuatan keji ini, kedua tersangka dijerat pasal 340 KUHP sub pasal 338 KUHP jo pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana mati atau seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara.

Kasus pembunuhan ini baru terungkap saat warga Jember menemukan jasad kerangka manusia yang terkubur dalam cor-coran semen. Jasad ini berada di mushalla belakang sebuah rumah BS yang terletak di Dusun Joruju, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Minggu (3/11).

Penemuan itu berawal dari laporan masyarakat adanya warga bernama Sugiono yang hilang sekitar 7 bulan lalu dan diduga korban dikuburkan dengan tidak wajar di belakang rumahnya yang kini sudah dibangun mushalla dengan dapur dan kamar mandi lengkap.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Putri
Putri

Putri

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU