Kilas Balik Rekonsiliasi Kubu Pemerintah dan Oposisi di Indonesia
Makan siang bersama Jokowi Prabowo di Senayan. (Antara/Akbar Nugroho Gumay)
News

Kilas Balik Rekonsiliasi Kubu Pemerintah dan Oposisi di Indonesia

Rekonsiliasi, mempertemukan ke dua kubu yang saling bertikai

Astrid
Minggu, 14 Juli 2019 11:35 WIB 14 Juli 2019, 11:35 WIB

Belakangan kata rekonsiliasi muncul setelah pemilihan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. 

Dalam satu dekade terakhir kata rekonsiliasi lebih banyak muncul saat Joko Widodo yang berpasangan dengan Jusuf Kalla terpilih dalam Pilpres 2014. 

Rekonsiliasi adalah memulihkan pertikaian ke dua belah pihak untuk kembali pada pos masing-masing. Rekonsiliasi tidak harus dihubungkan dengan politik. Utamanya, rekonsiliasi harus didahului oleh komunikasi, sehingga dari komunikasi akan ada pemahaman dan kebersamaan.

Dalam sejarahnya Rekonsiliasi digagas oleh Nelson Mandela, pasca penerapan sistem Apartheid. Rekonsiliasi dibentuk untuk mengobati luka bangsa Afrika Selatan akibat pelanggaran HAM di bawah pemerintahan Apartheid oleh kulit putih selama 48 tahun. Setelah Nelson menjadi Presiden dibentuklah komisi kebenaran dan rekonsiliasi. 

Di Indonesia rekonsiliasi lebih tertuju untuk menggabungkan kembali dua relawan dari masing-masing kubu. Pada Pilpres 2014 masyarakat terbelah menjadi dua kepentingan. Masyarakat yang bekepentingan untuk memenangkan Jokowi-Kalla dan masyarakat yang berkepentingan memenangkan Prabowo-Hatta Rajasa.

Hasilnya adalah, Jokowi-JK memperoleh 70.997.833 (53,15 persen). Sementara itu, pasangan Prabowo-Hatta, mendapat 62.576.444 (46,85 persen). Geliat pertarungan antar kubu saat pilpres 2014 surut setelah Jokowi menemui Prabowo di Hambalang. 

Gelombang permintaan untuk rekonsiliasi kembali muncul pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 antara Anies Baswedan-Sandiaga Uno melawan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. 

Hasil suara untuk pasangan Ahok-Djarot memperoleh jumlah 2.350.366, sedangkan pasangan Anies-Sandi memperoleh suara 3.240.987. Berdasarkan itu, pasangan Anies dan Sandiaga pun resmi memenangkan pilkada DKI Jakarta.

Saat Pilkada 2017 ini, kepentingan masyarakat lebih besar dibandingkan Pilpres 2014. Kepentingan masing-masing kubu mendukung salah satu calon lebih menonjol bahkan ada saja masyarakat di luar Jakarta yang ikut berpartisipasi dalam kepentingan mendukung salah satu calon. Setelah rekonsiliasi antara pertai pendukung Paslon bertemu, perang kepentingan dukung mendukung perlahan surut.

Efek Pilkada 2017, seakan membuat rekonsiliasi menjadi salah satu jawaban setelah Pilpres 2019 berakhir. Geliat pertarungan kedua kubu antara Prabowo-Sandi dan Jokowi- Ma'ruf Amin akhirnya sedikit reda setelah proses rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo di MRT pada Sabtu (13/7/2019).

    Indozone Media
    Indozone Media

    Astrid

    Editor