Sri Mulyani Jawab Ramalan Defisit APBN Tembus 5,7%
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: ANTARA/Reno Esnir)
News

Sri Mulyani Jawab Ramalan Defisit APBN Tembus 5,7%

Pemerintah terbitkan Perpu yang mengatur tambahan anggaran

Rabu, 01 April 2020 16:07 WIB 01 April 2020, 16:07 WIB

INDOZONE.ID - Pemerintah secara resmi menerbitkan Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 yang mengatur tentang tambahan anggaran di dalam APBN 2020 senilai Rp405,1 triliun. Tambahan anggaran tersebut akan digunakan sebagai social savety net, untuk meredam dampak ekonomi dan sosial akibat pandemi virus Corona (COVID-19) di Indonesia. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Perppu tersebut juga berfungsi sebagai landasan hukum bahwa pemerintah diperbolehkan untuk melebarkan devisit anggaran menjadi diatas 3% akibat adanya penambahan anggaran tersebut. Sebagaimana diketahui, dalam Undang-Undang Keuangan Negara nomor 17 tahun 2003, batas maksimum defisit anggaran sebenarnya ditetapkan maksimal sebesar 3%. 

"Perpu ini dikeluarkan untuk merespons kondisi dari situasi yang dihadapi oleh Indonesia yang saat ini sudah luar biasa terkait wabah covid-19. Kita tahu bahwa covid-19 telah menyebar lebih dari 200 negara dan sebabkan krisis kesehatan kemanusiaan," kata Sri Mulyani dalam video confference, Rabu (1/4/2020). 

Menteri Keuangan,Sri Mulyani,Virus Corona
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: ANTARA/Dhemas Reviyanto)

Menurut Menkeu Sri Mulyani, negara-negara lain di dunia juga melakukan hal serupa seperti Indonesia. Bahkan persentase defisit anggaran di beberapa negara tersebut lebih besar seperti di Australia sebesar 9,7% dari PDB.

Kemudian di Kanada sebesar 6% dari PDB, Singapura 10,9% dari PDB dan Amerika Serikat sebesar 10,5% dari PDB. Negara-negara tersebut terus menerbitkan stimulus fiskal sesuai kemampuannya masing-masing demi mencegah dampak buruk dari wabah corona. 

"Italia tidak bisa keluarkan lebih besar karena mereka sudah di atas 100%, lalu Singapura yang biasanya prudent tapi kali ini enggak karena ekonomi Singapura sangat terdampak. Di seluruh dunia dilakukan langkah exstraordinary tidak hanya dari sisi fiskal tapi juga moneter, bank-bank sentral juga melakukan kebijakan yang non konvensional," tuturnya. 

Di Indonesia sendiri, dengan penambahan APBN Rp405,1 triliun tersebut, Indonesia diprediksi akan mengalami pelebaran defisit keuangan hingga 5,07% dari PDB. 

"Ini hanya 3 tahun sesudah shock covid ini maka pemulihan akan mulai 2021- 2022 sehingga pada 2023 akan kembali defisit maksimal 3 persen sesuai Undang-undang. Untuk batasan pinjaman tidak diubah tetap 60 persen," ungkapnya. 

Adapun rincian stimulus fiskal berupa penambahan belanja dan pembiayaan untuk penanganan wabah corona yang didasarkan pada Perpu tersebut yaitu sebanyak Rp75 triliun untuk intervensi penanggulangan wabah dan kesehatan. Diantaranya adalah untuk pemberian insentif bagi garda terdepan seperti petugas medis. Kemudian sebanyak Rp110 triliun akan digunakan untuk perluasan social safety nett. 

Lebih lanjut sebanyak Rp70,1 triliun digunakan untuk memberikan dukungan pada sektor industri seperti pajak dan bea masuk ditanggung pemerintah dan juga stimulus Kredit Usaha Rakyat (KUR). Yang terakhir adalah sebesar Rp150 triliun untuk dukungan pembiayaan anggaran untuk penanganan wabah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Edi Hidayat
Sigit Nugroho

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US