The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Cak Imin Dimarahi Istri Gegara Tak Rasakan Dampak Dana Bantuan COVID-19
Cak Imin. (Instagram/@cakiminow)
News

Cak Imin Dimarahi Istri Gegara Tak Rasakan Dampak Dana Bantuan COVID-19

Padahal, menurutnya anggarannya mencapai trilliunan rupiah.

Rabu, 12 Agustus 2020 22:15 WIB 12 Agustus 2020, 22:15 WIB

INDOZONE.ID - Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin mengaku dimarahi istrinya, Rustini Murtadho karena alokasi dana bantuan penanggulangan COVID-19 sebesar Rp695,2 triliun seperti tidak terasa dampaknya.

"Istri saya, kebetulan ikut juga hari ini, selalu ke mana-mana, mana (bantuan) triliunannya, kok, enggak terasa, begitu. Seolah-olah saya pemegang kendali triliunan itu dimarahi sama istri saya," kata Cak Imin di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, seperti dilansir Antara, Rabu (12/8/2020).

Dalam kesempatan itu, Cak Imin sudah berupaya menjelaskan kepada istrinya jika alokasi dana tersebut sudah dibagi-bagikan ke berbagai sektor. Contohnya, untuk kesehatan sekian triliun rupiah, untuk perlindungan sosial sekian triliun rupiah, kemudian untuk sektoral K/L dan pemda, dukungan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), pembiayaan korporasi, dan insentif usaha.

Akan tetapi, sang istri tetap sewot.

"Terasa pun tidak," kata Cak Imin meniru ucapan istrinya.

Lebih lanjut, Cak Imin mencontohkan di bidang pendidikan. Ketika Cak Imin mengajak istrinya keliling desa-desa, mereka bertemu aktivitas anak sekolah di desa yang katanya libur lima bulan.

"Ketika kami keliling desa, kami lihat anak-anak di desa sudah libur lima bulan. Libur, bayangkan, libur tanpa pakai program. Kalau libur pakai program masih lumayanlah. Ini libur tanpa arah," kata Cak Imin.

Lebih lain lagi beritanya di Jombang, tempat kelahiran Cak Imin. Kabarnya, di sana ada sebuah kabar menarik tentang siswa didik yang mencari sinyal internet sampai dapatnya di kuburan.

Gara-gara itu, Cak Imin jadi teringat sebuah guyonan tentang adanya sinyal di kuburan.

"Ketika wifi belum ditemukan, itu memang menggunakan kuburan untuk mengambil sinyal langit," kata Cak Imin.

Beda di Jombang, ternyata beda lagi rupanya cerita sekolah daring di Nusa Tenggara Barat (NTB). Cak Imin mengatakan di salah satu daerah di sana, ada siswa yang mencoba mendapatkan sinyal dengan menaiki pohon.

"Ini darurat pendidikan Indonesia seperti ini, saya bilang kepada Telkomsel. Waktu itu Menteri BUMN mau bikin pemancar, apa itu istilahnya, ya, base transceiver station (BTS)," kata Cak Imin.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Edi Hidayat
Edi Hidayat

Edi Hidayat

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US