The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

LBM Eijkman Punya Mesin Baru yang Bisa Periksa 1.000 Sampel dalam Sehari
Ilustrasi sample virus corona digunakan untuk penelitian. (Freepik)
News

LBM Eijkman Punya Mesin Baru yang Bisa Periksa 1.000 Sampel dalam Sehari

Banyak kelebihannya.

Kamis, 16 Juli 2020 16:55 WIB 16 Juli 2020, 16:55 WIB

INDOZONE.ID - LBM Eijkman hari ini meresmikan pengoperasian mesin deteksi virus corona (Covid-19) dengan pendekatan molekuler/NAAT (Nucleid Acid Amplification Testing). Mesin tersebut adalah Cobas 6800 Fully Automated Molecular System.

Mesin ini memiliki sistem otomatisasi tertutup untuk ekstraksi RNA dan amplifikasi PCR sampel klinis. Kapasitas mesin tersebut dikatakan mampu melakukan pengujian 1.000 sampel dalam waktu 24 jam. Selain itu, kelebihan dari sistem tersebut adalah meminimalisir kesalahan pre-analitik selama proses pemeriksaan Covid-19 serta mengurangi jumlah SDM yang dibutuhkan jika dibandingkan dengan proses pemeriksaan PCR Covid-19 secara manual.

"Mesin ini kelebihannya karena otomatisasi tidak ada intervensi manusia saat proses pemeriksaannya berjalan jadi meningkatkan keamanan operator. Fully automatic, semuanya terkendali, kualitas terjamin, dan lebih cepat makanya bisa seribu sehari," ujar Kepala LBM Eijkman Prof Amin Soebandrio dalam konferensi pers online, Kamis (16/7/2020).

Pengoperasian mesin Cobas 6800 di LBM Eijkman mendapat dukungan dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN). Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro mengaku bangga dengan terobosan yang dilakukan LBM Eijkman. Sebab hal itu bisa meningkatkan pemeriksaan sampel untuk mengidentifikasi Covid-19.

"Penggunaan mesin ini bisa meningkatkan kapasitas menjadi seribu sampel per hari dari sebelumnya dengan metode PCR biasa hanya sekira 400 sampel. Tentunya akan sangat membantu target dari presiden untuk memeriksa 30 ribu sampel per hari," ujar Menristek/BRIN Bambang dalam kesempatan yang sama.

Meningkatnya jumlah sampel yang diperiksa juga bisa membantu mengejar target dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dikatakan oleh Menristek/BRIN Bambang, Indonesia menjadi sorotan karena dianggap tes yang dilakukan kurang masif sehingga jumlah data yang terinfeksi, sembuh, dan meningga saat ini belum representatif. Di sisi lain, pengoperasian mesin juga bisa membantu LBM Eijkman untuk berkonsentrasi pada pengembangan vaksin dan whole genome sequencing.

"Kehadiran mesin selain meningkatkan jumlah tes, yang paling penting memudahkan manajemen SDM LBM Eijkman sehingga ada tim yang bisa konsetrasi penuh pada vaksin dan whole genom sekuensing. Target whole genome sequencing 100, kalau sekarang baru 10 berarti masih butuh banyak," pungkas Menristek/BRIN Bambang.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US