The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Belanja Pemerintah Jadi Satu-satunya Cara Selamatkan Indonesia dari Resesi
Ilustrasi kurva ekonomi. (Pexels/Energepic.com_
News

Belanja Pemerintah Jadi Satu-satunya Cara Selamatkan Indonesia dari Resesi

Kontraksi cukup dalam.

Rabu, 05 Agustus 2020 15:20 WIB 05 Agustus 2020, 15:20 WIB

INDOZONE.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II-2020 yang mengalami kontraksi hingga -5,32% secara tahunan (year on year/yoy) dan 4,19% secara kuartalan (q to q).

Salah satu penyebab ekonomi Indonesia bisa terjerembab ke zona negatif karena beberapa indikator perekonomian, salah satunya tingkat konsumsi rumah tangga, mengalami kontraksi hingga -2,96%, dibandingkan pada saat kondisi normal yang berada di atas 5%.

Melihat situasi ini, pemerintah memandang perlu melakukan penyelamatan ekonomi, agar pada kuartal III-2020 nanti, angka pertumbuhan ekonomi tidak lagi negatif dan menimbulkan resesi. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh saat ini adalah dengan mendorong konsumsi belanja pemerintah, untuk menstimulus seluruh sektor agar bisa segera bangkit.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan oleh Kemenko Perekonomian, Rabu (5/8/2020).

"Diharapkan dalam kuartal III bisa meningkat penyerapannya. Kita membutuhkan kira-kira per kuartal minimal Rp800 triliun," kata Airlangga.

Airlangga memahami, persoalan yang terjadi saat ini terkait belanja pemerintah, yakni realisasinya yang berjalan cukup lambat. Hal itu juga seringkali dikeluhkan oleh Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan.

Sebagai informasi, angka serapan anggaran setiap kementerian lembaga untuk penanganan Covid-19 sampai saat ini baru mencapai 20% dari total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 695 triliun.

Airlangga pun bertekad untuk mengakselerasi dengan maksimal di sisa kuartal tahun ini agar perekonomian Indonesia kembali bangkit.

"Diharapkan dengan belanja bantuan sosial dan cash diharapkan daya beli terungkit dan kemungkinan untuk mempersempit gap diperlukan agar sinyal naik ke atas, menandakan bottom di kuartal II dan pertaruhan di kuartal III curve ke atas," tuturnya.

Meski Indonesia mengalami kontraksi ekonomi cukup dalam, namun ia menegaskan bahwa kondisi Indonesia masih jauh lebih baik ketimbang negara lain di dunia, terutama negara maju. Ia berharap, dengan penanganan yang optimal dan terstruktur seperti dalam rumusan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), perekonomian Indonesia di Kuartal III-2020 bisa positif dan menghindarkan Indonesia dari risiko krisis.

"Indonesia masih relatif tidak sedalam yang lain. Kita berharap ada efek perekonomian global baik Tiongkok dan negara lain yang terecover terlebih dahulu," pungkasnya.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Edi Hidayat
Utami Evi Riyani
Sigit Nugroho

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US