The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Profesor Ini Minta Siapkan Stok Oksigen, Tsunami Covid-19 India Bisa Mendekati Indonesia
Pekerja sibuk mengkremasi pasien meninggal akibat Covid-19 di Bengaluru, India. (Reuters)
News

Profesor Ini Minta Siapkan Stok Oksigen, Tsunami Covid-19 India Bisa Mendekati Indonesia

Rabu, 05 Mei 2021 15:47 WIB 05 Mei 2021, 15:47 WIB

INDOZONE.ID - Indonesia bisa saja mengalami apa yang dirasakan India dengan gelombang tsunami Covid-19 yang meningkat tajam hingga membuat negara sungai Gangga itu kewalahan untuk melakukan kremasi warganya meninggal dunia.

Hal ini diungkapkan Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof dr Zubairi Djoerban melalui akun Twitternya.

Ia juga mengingatkan kita harus melihat apa yang terjadi di Malaysia di mana Covid-19 meningkat signifikan hingga harus menerapkan kebijakan lockdown lagi di beberapa kota.

"Gelombang itu mendekat ke Indonesia? Bisa saja. Lihat Malaysia sekarang. Kasus Covid-19-nya meningkat signifikan. Lockdown pun diberlakukan di beberapa kota. Tolong jangan remehkan ini. Kita tahu apa yang terjadi dengan India. Waspada dan bersiap dengan segala kemungkinan," twit Prof dr Zubairi seperti yang dikutip Indozone, Rabu (5/5/2021).

Untuk itu setiap kemungkinan harus segera dipersiapkan untuk mengantisipasi hal terburuk yang bisa terjadi. Termasuk mendorong pemerintah untuk menyiapkan pasokan oksigen saat menghadapi keadaan darurat.

"Bukan berharap yang buruk. Tapi ada baiknya kita dorong pemerintah menyiapkan stok oksigen untuk keperluan darurat. Seperti mendesentralisasi stok di beberapa daerah sehingga segera tersedia jika suplai terganggu. Semoga kita punya mitigasi untuk hal ini. Terima kasih," bebernya.

Kebutuhan pasokan oksigen itu ternyata sangat diperlukan saat orang-orang terkena gelombang tsunami Covid-19 seperti yang terjadi di India, di mana warga berlomba-lomba mencari oksigen untuk keluarganya yang terkena virus mematikan tersebut.

"Lockdown pun diberlakukan di beberapa kota. Tolong jangan remehkan ini. Kita tahu apa yang terjadi dengan India. Waspada dan bersiap dengan segala kemungkinan," tuturnya.

Diketahui gelombang infeksi kedua yang mematikan di India merupakan lonjakan infeksi virus corona terbesar di dunia.

Negara itu membutuhkan waktu lebih dari empat bulan untuk menambahkan 10 juta kasus, dibandingkan lebih dari 10 bulan untuk 10 juta kasus pertama. Saat ini, India memiliki 3,45 juta kasus aktif COVID-19.

Pasien meninggal akibat Covid-19 di India. (Reuters)
Pasien meninggal akibat Covid-19 di India. (Reuters)

Pada Selasa, India melaporkan 357.229 kasus baru selama 24 jam terakhir, sementara kematian naik 3.449 dengan korban 222.408, berdasarkan data kementerian kesehatan setempat.

Pakar medis mengatakan angka kasus sebenarnya di India bisa lima hingga 10 kali lebih tinggi daripada yang dilaporkan.

Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi enggan memberlakukan penguncian nasional karena jatuhnya ekonomi, tetapi beberapa negara telah memberlakukan berbagai batasan sosial.

Lonjakan kasus COVID-19 varian India yang sangat menular telah membebani sistem kesehatan, menguras pasokan oksigen medis yang penting untuk kelangsungan hidup bagi mereka yang terinfeksi. Banyak pasien meninggal di ambulans dan tempat parkir di luar rumah sakit.

Barisan tumpukan kayu pemakaman di taman dan tempat parkir mobil digunakan untuk kremasi mayat-mayat korban COVID-19.

Modi telah dikritik karena tidak bergerak lebih cepat untuk membatasi gelombang infeksi terbaru dan karena membiarkan jutaan orang yang sebagian besar tidak bermasker menghadiri festival keagamaan dan rapat umum politik yang ramai selama Maret dan April.

"Apa yang diungkapkan beberapa pekan terakhir adalah bahwa baik pusat maupun negara bagian sangat tidak siap untuk gelombang kedua," demikian editorial Times of India pada Selasa.

Menawarkan secercah harapan, kasus virus corona di beberapa daerah tidak berubah, kata seorang pejabat kementerian kesehatan pada Senin.

Pemodelan pemerintah menunjukkan kasus dapat mencapai puncaknya pada Rabu pekan ini (5/5), beberapa hari lebih awal dari perkiraan sebelumnya, karena virus telah menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan.

Artikel menarik lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay
JOIN US
JOIN US