The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Mahathir Mohamad Nyinyir Sekolah di Indonesia Terlalu Banyak Belajar Agama, Ini Faktanya
Ilustrasi - Siswa SD belajar di kelas. (Foto Antara/Budiyanto)
News

Mahathir Mohamad Nyinyir Sekolah di Indonesia Terlalu Banyak Belajar Agama, Ini Faktanya

Senin, 23 November 2020 14:43 WIB 23 November 2020, 14:43 WIB

INDOZONE.ID - Pernyataan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, terkait pendidikan di Indonesia belakangan viral di media sosial.

Dalam pernyataan itu, Mahathir seolah mengatakan bahwa sekolah-sekolah di Indonesia akan tertinggal dalam bidang sains karena terlalu banyak belajar agama. Pernyataan itu disertai sebuah meme berupa foto Mahathir sedang berada di depan mikrofon.

"...PELAN-PELAN anak-anak sekolah negeri di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains. umurnya habis untuk menghafal ayat-ayat dan doa, belajar soal haram, dosa, bidadari, menghitung pahala, mencari dalil, memikirkan akerat. Setelah kalah bersaing lalu memusuhi pemerintah dan mendirikan negara syariah sebagai solusi semuanya..." (Mahatir Muhammad)," demikian tertulis dalam meme tersebut.

ist
Meme pernyataan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, terkait pendidikan di Indonesia.

Salah satu yang membagikan meme tersebut adalah Komisaris PT Garuda Indonesia, Peter Frans Gontha melalui akun Facebook-nya.

"Apa Betul ini tulisan Mahathir?" tulis Peter, yang merupakan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Polandia itu.

Hingga artikel ini ditulis, unggahan Peter sudah disukai lebih dari 1.300 pengguna dan menuai 586 komentar dan dibagikan oleh 144 akun.

Pertanyaannya, benarkah Mahathir ada mengucapkan pernyataan nyinyir tersebut?

Berdasarkan penelusuran Indozone.id, tidak ada fakta yang menyebutkan Mahathir pernah mengucapkan hal itu.

Merujuk artikel yang ditayangkan Tempo.co dengan judul "Mahathir Mohamad Akan Kurangi Silabus Agama di Sekolah Malaysia" pada 22 Desember 2018, Mahathir justru memberikan pernyataan terkait rencana pengrangan silabus pelajaran agama di Malaysia.

Menurut Mahatir, pelajaran agama yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan siswa dalam mata pelajaran lain yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. 

"Seseorang telah mengubah kurikulum di sekolah dan sekolah negara telah menjadi sekolah agama," begitu kata Mahatir yang sebenarnya.

Dengan begitu, kabar yang menyebut Mahathir nyinyir sekolah di Indonesia terlalu banyak belajar agama adalah hoaks atau berita palsu.

Artikel Menarik Lainnya:

Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor
JOIN US
JOIN US