The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Terhimpit Tekanan Ekonomi, Ibu Bunuh 3 Anaknya di Nias Jadi Topik Pamungkas ILC Pamit
Karni Ilyas umumkan ILC pamit dan berhenti tayang. (Instagram/ILC)
News

Terhimpit Tekanan Ekonomi, Ibu Bunuh 3 Anaknya di Nias Jadi Topik Pamungkas ILC Pamit

Selasa, 15 Desember 2020 17:29 WIB 15 Desember 2020, 17:29 WIB

INDOZONE.ID - Topik bahasan pamungkas Indonesia Lawyers Club (ILC) mengulas kasus Ibu tega bunuh 3 anaknya di Kabupaten Nias Utara akibat himpitan ekonomi.

Presenter senior yang merupakan presiden ILC Karni Ilyas mengumumkan kalau programnya ILC pamit dari penyiaran dan berhenti tayang, Selasa (15/12/2020) malam.

Belum diketahui latar belakang dan alasan spesifik kenapa ILC tiba-tiba mengumumkan akan berhenti tayang. Malam nanti merupakan tayang pamungkas dari ILC.

Diskusi pamungkas dari ILC yang akan berlangsung pada Selasa nanti malam mengambil judul: 

"Renungan Akhir Tahun, Dampak Tekanan Ekonomi, Ibu Bunuh Anak, Suami Bakar Istri".

"Selamat menyaksikan. Mohon maaf terlambat mengumumkan #RenunganAkhirTahun," kata Karni dalam Twitternya seperti yang dikutip INDOZONE, Selasa (15/12/2020).

Ada sejumlah fakta menarik kenapa ILC mengangkat topik ibu tega bunuh 3 anaknya di Nias Utara.

Pembunuhan ini pun membuat publik terkejut, saat sang ibu kemudian meninggal dunia setelah bunuh anaknya.

Coba bunuh diri usai gorok anaknya

Marlina Tafona’o (30), ibu yang menggorok tiga anak kandungnya di Dusun II, Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, meninggal dunia usai ditangkap oleh polisi pada 9 Desember 2020.

Marlina dibawa ke RSUD Gunungsitoli untuk dirawat atas luka pada bagian lehernya yang diduga dilakukannya sendiri sebagai upaya bunuh diri.

Ibu kandung bunuh 3 anaknya
Ibu kandung bunuh 3 anaknya

Setelah mendapatkan perawatan medis, ia dibawa ke Unit PPA Sat Reskrim Polres Nias guna dimintai keterangan. Ia ditangkap dengan Surat Perintah Penangkapan Nomor : Sp. Kap / 96 / XII / Res.1.7./ 2020 / Reskrim.

Pada hari Jumat tanggal 11 Desember 2020, sekitar pukul 21.00 WIB, Marlina dibawa ke RSU Bethesda Gunungsitoli karena mengeluh sakit di perut dan di sana ia hanya dirawat jalan.

Keesokan harinya, pada Sabtu (12/12/2020), sekitar pukul 16.00 WIB, Marlina kembali dibawa untuk berobat di RSUD Gunungsitoli karena muntah dan mengeluh rasa sakit di perut.

Pada hari Minggu tanggal (13/12/2020), sekitar pukul 00.30 WIB, Marlina kembali dibawa kembali ke RSUD Gunungsitoli karena mengeluh sakit di perut dan muntah-muntah, lalu disarankan oleh dokter jaga untuk opname. Kemudian ia menjalani perawatan dan opname di RSUD Gunungsitoli.

Setelah berulang kali muntah-muntah, ia meninggal dunia.

Sebelumnya diberitakan, untuk kali yang entah keberapa, kasus seorang ibu kandung membunuh anaknya kembali terjadi di Indonesia. Lagi-lagi penyebabnya sama: stres karena himpitan ekonomi.

Rabu, 9 Desember 2020, saat orang-orang sibuk mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS), melibatkan diri dalam Pilkada 2020 yang digelar serentak di berbagai daerah, mencoblos pasangan calon kepala daerah pilihan mereka, seorang wanita di Dusun II Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, mengakhiri hidup tiga anaknya yang masih balita.

Tragis, wanita berusia 30 tahun itu membunuh ketiga anaknya, yakni  YL (5), SL (4) dan DL (2), dengan cara menggorok leher mereka dengan parang. 

Fakta ini menjadi ironi terhadap kasus korupsi yang menjerat Menteri Sosial Juliari Peter Batubara dan Menteri Perikanan dan Kelautan Edhy Prabowo.

Menurut keterangan yang beredar, MT membunuh ketiga buah hatinya itu ketika suaminya, Nofedi Lahagu, berada di TPS.

Nofedi berangkat ke TPS bersama putri sulungnya, serta ayah dan ibunya atau kakek dan nenek dari anaknya. Sedangkan MT, tidak ikut ke TPS. Dia tinggal di rumah, bersama tiga balitanya.

Pukul 12.00 WIB, putri sulung Nofedi dan MT pulang lebih dulu bersama kakek dan neneknya. Sementara Nofedi, masih berada di TPS, asyik mengobrol bersama temannya.

Tiba di rumah, putri sulung MT terkejut mendapati tiga adiknya bersimbah darah. Di samping jasad ketiga adiknya, ibunya terduduk dengan tatapan hampa, masih memegang parang yang ia pakai untuk menggorok tiga balitanya.

Putri sulung MT dan kakek dan neneknya pun ketakutan melihat MT. Mereka cepat-cepat keluar dari rumah, mencari pertolongan tetangga.

Nofedi sendiri baru pulang ke rumah pukul 16.00 WIB. Ketika sampai di rumah, orang-orang sudah ramai berkumpul.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay
JOIN US
JOIN US