The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Ahli Sebut Virus COVID-19 Pasti Bermutasi, 'Peluangnya Ada 2, Menjadi Ganas atau Tidak'
Ilustrasi sel molekul Coronavirus (ANTARA/Shutterstock/pri.)
News

Ahli Sebut Virus COVID-19 Pasti Bermutasi, 'Peluangnya Ada 2, Menjadi Ganas atau Tidak'

Kamis, 29 April 2021 20:56 WIB 29 April 2021, 20:56 WIB

INDOZONE.ID - Ahli virus Universitas Udayana Bali Prof I Gusti Ngurah Kade Mahardika berharap mutasi virus SARS-CoV-2 di Indonesia tidak menjadi lebih ganas.

Hal ini disampaikan Mahardika dalam dialog bertema Belajar dari India, Tingkatkan Kepatuhan Protokol Kesehatan Sekarang Juga secara daring, Kamis (29/4/2021).

"Mutasi pasti akan terjadi pada virus. Peluangnya ada dua, menjadi ganas dan tidak ganas. Harapan saya virus itu bermutasi menjadi tidak ganas jangan sebaliknya," ujarnya dilansir ANTARA.

Saat ini, Mahardika menyampaikan mutasi virus SARS-CoV-2 di India juga terdapat di 11 negara lainnya di dunia.

Melihat hal itu masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

"Pertama adalah kerumunan masa harus dihindari, kedua pemerintah segera mempercepat coverage vaksinasinya sehingga pandemi segera berlalu," ucapnya.

Tingginya kasus di India, menurut dia, tidak hanya dikontribusi oleh adanya mutasi virus. Melainkan adanya kerumunan masyarakat dan abai terhadap protokol kesehatan.

"Mutasi virus memang kemungkinan berkontribusi terhadap tsunami COVID-19 di India. Tapi ada faktor lain, yakni kerumunan sosial seperti upacara agama dan kampanye politik," kata Mahardika.

Ia menambahkan, faktor lainnya yang memicu tsunami COVID-19 di India yakni euforia vaksinasi yang masih terlalu dini.

"Mudah-mudahan tidak terjadi di Indonesia karena vaksinasi di Indonesia masih sekitar 2,5 persen. Jadi jangan ada euforia vaksin," ucapnya.

Ia mengingatkan, jika masyarakat abai terhadap protokol kesehatan, maka dapat membuka potensi kenaikan kasus aktif dan akhirnya akan diikuti dengan angka kematian.

"Ketika ada kenaikan kasus maka akan diikuti letupan angka kematian, persis seperti yang terjadi di India saat ini," katanya.

Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Ede Surya Darmawan mengharapkan pemerintah tetap memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat untuk menghindari adanya kerumunan.

"Harapannya tetap bertahan ada pembatasan kegiatan, hasil survei terakhir ada penurunan di berbagai wilayah,"  katanya.

Ia mengingatkan bahwa pandemi belum berakhir dan tingkat positif rate COVID-19 di Indonesia juga masih tinggi.

"Karena itu protokol kesehatan tidak boleh ditawar harus disiplin menegakkan protokol kesehatan," ucapnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Nanda Fahriza Batubara
TERKAIT DENGAN INI

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US