The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Mengerikan! Video 6 Orang Terombang-ambing di Laut Akibat Terjangan Gelombang Tinggi NTT
Cuplikan video manusia terombang-ambing di laut akibat gelombang tinggi yang melanda kawasan Nusa Tenggara Barat sejak Minggu (4/4/2021) (Twitter)
News

Mengerikan! Video 6 Orang Terombang-ambing di Laut Akibat Terjangan Gelombang Tinggi NTT

Senin, 05 April 2021 09:18 WIB 05 April 2021, 09:18 WIB

INDOZONE.ID - Cuaca ekstrem melanda sejumlah kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bahkan, hashtag #prayforNTT menjadi trending topic di media sosial Twitter sejak Minggu (4/4/2021).

Di linimasa media sosial, beredar sejumlah video mengerikan di sejumlah titik. Mulai dari gelombang tinggi air laut, sungai meluap, banjir hingga pepohonan yang tumbang.

"Hello Indonesia, bisakah kalian share energy kalian untuk membantu NTT yang sedang dilanda bencana?" cuit akun @gaudiano_cole.

Pada video pertama yang dibagikan akun itu, terlihat enam manusia terombang ambing di laut. Di dekat mereka juga tampak sebuah kapal yang terseret hingga menerjang tepi.

Sedangkan beberapa orang warga di darat coba membantu orang-orang yang terombang ambing. Namun derasnya ombak menyulitkan upaya. Terdengar suara wanita yang merekam berteriak histeris ketika ombak menghantam kapal.

Berdasar keterangan video, peristiwa mengerikan ini terjadi di Pantai Namosain, Kupang, NTT.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi akibat dampak siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan ketinggian ekstrem lebih dari enam meter.

Perkiraan ini disampaikan oleh Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo di Jakarta, Senin (5/4/2021).

"Siklon tropis Seroja di Perairan Kupang menyebabkan tinggi gelombang laut lebih dari enam meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia Selatan NTT," kata Eko dilansir dari ANTARA.

Peringatan dini tersebut berlaku Senin (5/4/2021) pukul 07.00 WIB hingga Selasa (6/4/2021) waktu yang sama.

Eko menjelaskan, pola angin di wilayah Indonesia bagian utara pada umumnya bergerak dari barat laut-timur laut dengan kecepatan angin berkisar 5-20 knot.

Sedangkan di wilayah selatan umumnya bergerak dari barat daya-barat laut dengan kecepatan angin 5-45 knot.

Selain menyebabkan gelombang ekstrem di NTT, siklon yang berkembang pada Senin dinihari pukul 01.00 WIB tersebut juga menyebabkan gelombang laut dengan ketinggian 4-6 meter yang berpeluang terjadi di Perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Lampung.

Kemudian Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Banten hingga Jawa Barat, Samudra Hindia Selatan Banten hingga Jawa Tengah, perairan Pulau Sawu, perairan Kupang Pulau Rotte dan Laut Sawu.

Sementara itu gelombang dengan ketinggian 2,50-4 meter berpeluang terjadi di Perairan barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu, Samudra Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai, perairan Selatan Jawa Tengah hingga Pulau Sumba dan Selat Bali Lombok-Alas bagian selatan.

Kondisi yang sama juga berpeluang terjadi di Samudra Hindia Selatan Jawa Timur hingga NTB, Selat Sunda bagian barat, perairan selatan Flores, Selat Ombai dan laut Flores.

BMKG juga memprediksikan gelombang dengan ketinggian sedang yaitu 1,25-2,50 meter berpeluang terjadi di perairan utara Sabang, perairan timur Pulau Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, Laut Natuna Utara, Laut Jawa bagian timur, perairan Kepulauan Kangean, Laut Bali, Laut Sumbawa, Selat Lombok bagian utara.

Ketinggian yang sama juga berpeluang terjadi di Selat Makassar bagian selatan, perairan Kepulauan Sabalana hingga Kepulauan Selayar, Teluk Bone bagian selatan, perairan utara Flores.

Lalu perairan selatan Baubau hingga Wakatobi, laut Banda, perairan Kepulauan Sermata Kepulauan Letti, perairan Kepulauan Sangihe hingga Kepulauan Talaud.

Serta di perairan Kepulauan Sitaro, perairan Bitung Likupang, laut Maluku, perairan utara Kepulauan Banggai hingga Kepulauan Sula, perairan utara dan timur Halmahera, laut Halmahera, perairan utara Papua Barat hingga Papua dan Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua.

"Perlu diperhatikan risiko tinggi terhadap pelayaran dan tetap waspada bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi," ujar Eko.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Nanda Fahriza Batubara
JOIN US
JOIN US