The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Review Film 'Penyalin Cahaya': Susahnya Jadi Korban Pelecehan, Serba Salah dan Disalahkan
Para pemain Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).
Movie

Review Film 'Penyalin Cahaya': Susahnya Jadi Korban Pelecehan, Serba Salah dan Disalahkan

Minusnya, penulisnya tersandung kasus.

Senin, 17 Januari 2022 17:53 WIB 17 Januari 2022, 17:53 WIB

INDOZONE.ID - Terlepas dari kontrovesi salah satu kru film yang terlibat kasus pelecehan seksual, film 'Penyalin Cahaya' (Photocopier) tetap bisa dinikmati dan mendapatkan banyak apresiasi dari penonton. 

Tak hanya bagus secara visual, sinematografi, akting dan cerita, film ini juga cukup membuka mata kita bila banyak orang di negeri ini masih belum memihak korban pelecehan  seksual.

Bila diibaratkan, para korban seperti makan buah simalakama, yang dalam artian serba salah. Bila melaporkan dirinya harus siap malu dan tidak digubris, namun bila tidak dlaporkan diri kita tersiksa dan pelaku bebas melenggang.

Hal itu yang benar-benar tergambar dalam film ini. Semua pesan dan makna itu tertangkap dari jalan cerita dan ekpresi dan dialog dlam film tersebut. 

Kisah seorang mahasiswa baru yang terjebak dalam jebakan. 

Sosok Sur dalam Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).
Sosok Sur dalam Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).

Sur (Shenina Cinnamon), adalah mahasiswi baru yang tergabung dalam klub teater Mata Hari yang bertugas membuatkan situs untuk klub tersebut. Atas keberhasilan klub tersebut akan dikirim ke Jepang, mereka membuat pesta di rumah salah satu anggota teater dan menghabiskan malamnya dengan minuman keras.

Celakanya, Sur bangun di pagi hari saat dirinya harus melakukan presentasi beasiswa di depan petinggi kampus. Namun, bebasiswanya tidak diterima karena foto-fotonya saat ia mabuk beredar di media sosial. Sur yang tak tahu menahu harus kehilangan muka, diusir orang tua, tanpa bisa mengingat siapa yang sebenarnya telah mengantarkannya pulang dan menyebarkan fotofoto selfinya.

Investigasi amatir bersama tukang fotokopi.

Sosok Sur dalam Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).
Sosok Sur dan Amin dalam Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).

Untuk mengetahui siapa yang mengantarkannya pulang dan menyebarkan fotonua saat mabuk, ia pun meminta bantuan Amin (Chicco Kurniawan), teman masa kecilnya yang menjaga tempat fotokopi kampus. Di tempat itulah, Sur mendadak menjadi detektif untuk menemukan siapa pelaku dengan mencuri data dari para anggota teater yang datang ngeprint fotokopi.

Sayangnya, meski telah menemukan bukti, Sur kesulitan untuk mengadukannya sang tersangka. Apalagi pihak kampus dianggap tak becus mengusut kasus tersebut. 

Akting yang luar biasa dengan bahasa yang lugas, plot yang rapi tak berlubang.

Akting para pemain Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).
Akting para pemain Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).

Sebagai sutradara, Wregas benar-benar tahu cara mengambil sudut kamera yang tepat dan mengarahkan ekspresi dari para pemainnya. Hal itu juga ditunjukkan dengan kemampuan dua tokoh utama.

Shenina memerankan sosok mahasiswi yang datang dari keluarga menengah yang benar-benar kesulitan saat harus menerima kenyataan beasiswanya ditolak dan ketika dirinya tak bisa berkutik karena permintaannya untuk mengusut kasus tersebut tak kunjung digubris. Eskpresi tersiksanya bisa terlihat saat adegan dirinya bersama sang ibu (Ruth Marini) di atas sepeda motor.

Belum lagi akting dari Chicco Kurniawan sebagai Amin, tukang fotokopi yang gayanya cuek. Secara gestur dan gerakan tubuhnya, Chicco bermain secara natural sebagai seorang penjaga tukang fotocopy yang doyan ngerokok dan pelihara cupang.

Kritik kepada aparat dan penegakan hukum.

Meski film ini hanya seputar kampus, namun bentuk sindiran terhadap ketidakbecusan pihak berwenang dinilai sangat tepat dialamatkan ke aparat yang lebih besar. Dalam hal ini kepolisian dan lembaga lainnya.

Mulai dari ketidakbecusan dan tak mau ikut campur pihak kampus saat Sur melaporkan untuk pertama kalinya dengan dalih yang kurang lengkap. Bentu penolakan ini juga menggambarkan bila aparat kita seolah enggan untuk menerima laporan seperti itu dengan berbagai alasan.

Belum lagi kerahasian pelapor tidak dijaga oleh pihak kampus. Sehingga ketika sang tersangka membawa pengacara dan siap menuntut korban karena laporannya. Hal ini terjadi di dunia sekitar kita, sehingga wajar banyak korban yang ogah melapor ke aparat.

Simbol semiotik fogging dan mesin fotocopy.

Akting para pemain Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).
Akting para pemain Penyalin Cahaya. (Instagram/@penyalincahaya).

Ada beberapa hal menarik dalam film ini yang seolah dijadikan simbol oleh para sineas. Salah satunya selalu munculnya adegan pengasapan (fogging) demam berdarah. Dengan banyaknya asap fogging seperti itu, visual dibuat menjadi kabur. Hal ini menggambarkan susahnya mengungkapkan kasus pelecehan yang samar dan berkabut.

Adegan fogging juga menggambarkan sang pelaku. Kalimat tagline fogging menguras, menutup, dan mengubur merupakan upaya pelaku menutup kejahatannya.

Simbol lain dalam film ini bisa terlihat dari mesin fotokopi yang disebut penyalin cahaya. Bila fogging demam berdarah itu seolah menggabrkan pelaku, mesin fotokopi digambarkan sebagai korban yang ingin mengungkap kebenaran. Bisa dilihat, sepanjang cerita Sur menginap di tempat fotokopi untuk mengungkapkan kebenaran, termasuk tidur di atas mesin untuk menemukan bukti yang akan memberatkan pelaku.

Bahkan di akhir cerita, mesin fotokopi menjadi alat pembantu terakhir saat usaha Sur gagal karena ulah pelaku. Sebagaimana mesin fotokopi yang digunakan menyalin dan menduplikasi, ending film ini ditutup dengan adegan saling menduplikasi.

Seandainya tak ada kejadian di balik layar terkait salah satu krunya, film ini tentu akan lebih megah dan nyaman dinikmati tanpa perlu overthingking.

Artikel Menarik Lainnya:


 

TAG
M Fadli
M Fadli

M Fadli

Editor
TERKAIT DENGAN INI
JOIN US
JOIN US