Orang Narsistik Muluk Meyakini Dirinya Lebih Pintar dari Orang Lain
Narsistik identik dengan kecerdasan (Pexels/fauxels)
Life

Orang Narsistik Muluk Meyakini Dirinya Lebih Pintar dari Orang Lain

Superioritas intelektual adalah blok penting mengenai konsep diri

Bela
Jumat, 08 November 2019 15:05 WIB 08 November 2019, 15:05 WIB

INDOZONE.ID - "Aku jauh lebih pintar daripada mereka. Kurasa aku memiliki IQ yang jauh lebih tinggi."

Kutipan tersebut keluar dari mulut Presiden AS, Donald Trump yang dirasakannya sendiri. Ia percaya sebagai seorang Presiden bahwa ia adalah orang yang cerdas dan tentu saja ia tidak takut untuk mengatakan apapun. 

Tetapi, banyak psikolog yang menafsirkan obsesi dengan IQ yang dimilikinya sebagai indikasi dari kepribadian narsistik. 

Baru-baru ini, peneliti menerbitkan Journal of Personality yang meneliti hubungan antara narsisme dan kecerdasan. Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Marcin Zajenkowski dari Universitas Warsawa di Polandia menemukan bahwa beberapa jenis narsistik cenderung memiliki keyakinan  bahwa mereka lebih pintar daripada yang lain.

"Kecerdasan dan narsisme adalah salah satu konstruksi tertua yang dipelajari dalam psikologi kontemporer, masing-masing memiliki lebih dari satu abad tradisi penelitian," kata Zajenkowski dan timnya. 

Penelitiannya saat ini menunjukkan bahwa kepercayaan pada superioritas intelektual adalah blok bangunan penting mengenai konsep diri di antara individu dengan narsisme yang tinggi.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti merekrut 232 individu Polandia untuk mengambil bagian dalam studi secara langsung. 

Dalam percobaan, para peneliti meminta peserta untuk mengisi skala kepribadian yang mengukur dua bentuk narsisme, muluk (tinggi) dan rentan. 

Sekadar informasi, narsisme muluk dipercaya mendominasi interpersonal, meningkatnya harga diri, dan kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemampuan seseorang. 

Sebaliknya, narsisme yang rentan, ditandai dengan sikap menghindar, defensif, dan hipersensitif dalam konteks sosial.

Selanjutnya, para peneliti meminta peserta untuk menyelesaikan serangkaian tes kecerdasan. Kemudian, mereka meminta peserta mengukur tingkat kecerdasan mereka sendiri dengan menanggapi pernyataan. 

"Tiap orang memiliki tingkat yang berbeda dengan kecerdasan mereka ada yang menempati tingkat rendah, rata-rata, atau tinggi. Dengan menggunakan skala berikut, tolong tunjukkan di mana Anda dapat ditempatkan dibandingkan orang lain." tulis pernyataan dari peneliti yang wajib dijawab peserta.

Para peneliti berhipotesis bahwa orang-orang yang memiliki narsisisme muluk akan melaporkan tingkat kecerdasan persepsi diri yang lebih tinggi dari rata-rata dan bahwa orang yang memiliki narsisme rentan akan melaporkan yang sebaliknya. 

Mereka juga berharap bahwa bentuk narsisme tidak akan secara pasti dikaitkan dengan kecerdasan obyektif, sebagaimana diukur dengan tes kecerdasan.

Tetapi, apa yang mereka temukan sedikit berbeda dari yang mereka harapkan. Narsistik muluk, seperti yang diperkirakan, lebih cenderung memandang diri mereka lebih cerdas daripada yang lain, meskipun tes kecerdasan tidak menunjukkan pola superioritas intelektual yang dapat diandalkan. 

Untuk narsistik yang rentan, tidak ada bukti yang ditemukan untuk mendukung gagasan bahwa mereka memandang kecerdasan mereka sendiri lebih rendah, atau lebih tinggi, dari kecerdasan orang lain. 

Namun, narsistik rentan dilaporkan mengalami lebih banyak kecemasan saat mengambil tes kecerdasan.

Para peneliti menduga bahwa narsistik yang tinggi memandang kecerdasan sebagai bagian integral dari konsep-diri mereka dan menjelaskan mengapa mereka sangat mementingkan pengujian IQ. 

Peneliti menyimpulkan bahwa orang-orang dengan narsisme tinggi mempertahankan pandangan diri positif sekalipun tidak realistis dan berkaitan dengan kecerdasan. 

"Mereka merasa bahwa kecerdasan tinggi adalah sumber daya yang membeli manfaat orang dalam berbagai sektor, dan mereka merasa memiliki sumber daya itu. Dengan demikian, orang yang mencetak angka tinggi tentang narsisme tinggi memang disibukkan dengan topik kecerdasan." tulis peneliti. 

Artikel Menarik Lainnya: 

TAG
Bela
Bela

Bela

Editor
ARTIKEL LAINNYA
LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU