The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Kisah Menyayat Hati Orang Papua Buta Aksara, Sering Kena Tipu Pedagang Hingga Pejabat
Para penari merias wajah di Kawasan Wisata Khalkotte untuk mengikuti Festival Danau Sentani ke-IX di Sentani Timur, Papua. (Antara Foto/Rosa Panggabean)
Life

Kisah Menyayat Hati Orang Papua Buta Aksara, Sering Kena Tipu Pedagang Hingga Pejabat

Senin, 25 Mei 2020 11:39 WIB 25 Mei 2020, 11:39 WIB

INDOZONE.ID - Sudah menjadi rahasia umum bahwa Papua begitu tertinggal daripada kota lainnya di Indonesia. Mulai dari fasilitas teknologi, pendidikan, hingga infrastruktur.

Karena itulah, tidak heran masih ada orang Papua yang buta aksara. Ironisnya, mereka justru kerap ditipu karena tidak bisa membaca.

Seorang guru di Papua baru-baru ini mengunggah kisah yang begitu menyayat hati mengenai kondisi di Papua. Kisah ini diceritakan oleh akun Instagram @merawatpapua.

Pengelola akun itu adalah seorang guru di sebuah rumah belajar di Papua. Dia bercerita suatu ketika pernah ketemu dengan seorang pria yang memakai koteka dan hendak membeli sarden.

Kebetulan, pak guru ini juga ingin membeli ikan sarden. Namun, saat melihat tanggal kadaluarsa, ternyata ikan sarden itu sudah tidak layak dikonsumsi.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Merawat Papua (@merawatpapua) on

Pak guru pun minta ditukar. Melihat itu, pria Papua tadi heran dan bertanya kenapa ditukar. Pak guru pun menjelaskan bahwa ikan sarden itu sudah kadaluarsa dan tidak layak dikonsumsi.

Pria tadi pun meminta kepada pemilik toko, agar ikan sardennya juga diganti. Anehnya, ketika pria itu pergi pemilik toko justru menegur pak guru.

"Kalau mau komplain jangan di depan 'mereka'," tegur pemilik toko.

"Mereka" yang dimaksud di sini adalah orang-orang Papua asli yang masih menjunjung tinggi cara hidup yang diajarkan leluhur.

Tidak hanya itu, Pak Guru juga bercerita saat seorang penjual kayu gaharu seberat 10 kg, malah hanya dibayarkan senilai 7 kg saja.

Di hari lain, seorang tetangga menaruh beras di atas timbangan yang dimiliki Pak guru.

"Beratnya berapa?" tanya wanita itu.

"Satu kilo tujuh ons," jawab Pak Guru.

"Apa artinya?"

"Artinya beras tidak sampai dua kilo."

Mendengar itu, tetangganya marah karena dia sebenarnya membayar beras sebanyak 2 kg, tapi malah diberikan 1,7 kg saja.

Lagi-lagi, keesokan harinya pemilik toko beras menegur Pak Guru dan meminta agar dia tidak mengajari orang-orang tersebut.

"Tidak usah ajar-ajar dia orang, dia orang selama ini buta huruf, tidak tau baca tidak tau berhitung, apalagi timbang menimbang." kata pemilik kios.

Pak Guru pun hanya diam dan mengangguk untuk menghindari keributan. Rupanya, warga Papua yang buta aksara kerap ditipu oleh banyak orang. Mulai dari pengusaha, pejabat, hingga kepala desanya sendiri.

Data dari Kemendikbud pada tahun 2018 menyebutkan bahwa Papua berada di peringkat pertama provinsi di Indonesia yang warganya banyak buta huruf. 22,88% warga Papua masih tidak bisa membaca tulis.

Untuk mengentaskan buta aksara ini, Kemendikbud menggalakkan program pendidikan keaksaraan dasar dan lanjutan. Tentu saja, program ini hanya bisa berjalan lancar dengan bantuan seluruh pihak, tanpa ada yang berupaya membodohi orang lain.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Zega
Zega

Zega

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US