The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Puasa Ramadan Hukumnya Apa Menurut Al-Quran dan Hadis?
Ilustrasi puasa Ramadan hukumnya (freepik/wirestock)
Life

Puasa Ramadan Hukumnya Apa Menurut Al-Quran dan Hadis?

Senin, 14 Maret 2022 12:23 WIB 14 Maret 2022, 12:23 WIB

INDOZONE.ID - Menyambut bulan Ramadan, umat Muslim di seluruh dunia akan mempersiapkan diri menjalankan ibadah puasa.

Tak hanya berpuasa, ketika tiba bulan Ramadan umat Muslim juga sangat dianjurkan melakukan amalan baik lainnya.

Hal ini karena Ramadan merupakan bulan penuh berkah, sehingga amalan yang dikerjakan selama satu bulan tersebut akan dilipatgandakan pahalanya.

Lantas, puasa di bulan Ramadan hukumnya apa menurut firman Allah SWT dalam Al-Quran dan sabda Rasulullah SAW dalam hadis? Simak penjelasan Indozone, ya!

Puasa Ramadan Hukumnya?

puasa ramadan hukumnya
Ilustrasi membaca hukum puasa Ramadan (freepik/wirestock)

Rasulullah SAW mulai melaksanakan ibadah puasa sejak tahun ke-2 Hijriah, saat Allah SWT menurunkan perintah berpuasa untuk pertama kalinya.

Perintah untuk mendirikan ibadah puasa di bulan Ramadan, diturunkan Allah SWT lewat surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Sejak saat itulah, Rasulullah SAW senantiasa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan setiap tahunnya.

Semasa hidupnya, Rasulullah SAW telah berpuasa Ramadan sebanyak sembilan kali dalam sembilan tahun hingga akhirnya beliau wafat.

Berdasarkan firman Allah SWT dalam Al-Quran, maka puasa Ramadan hukumnya wajib bagi umat Muslim, sebagaimana telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah menjawab pertanyaan seorang Arab Badui mengenai hukum puasa Ramadan dalam hadis berikut:

"(Puasa yang wajib bagimu adalah) puasa Ramadan. Jika engkau menghendaki untuk melakukan puasa sunah (maka lakukanlah)." (HR. Bukhari)

Hal ini makin diperkuat dengan Rukun Islam ketiga yang mewajibkan setiap umat Muslim berpuasa di bulan Ramadan.

Oleh karena itu, puasa Ramadan harus dilaksanakan dan tidak boleh ditinggalkan kecuali bagi umat Muslim yang mengalami uzur (halangan).

Sebab, mereka yang dengan sengaja tidak berpuasa di bulan Ramadan akan merugi karena telah melakukan dosa besar, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW:

"Barangsiapa yang tidak berpuasa sehari di bulan Ramadan, tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh Allah, maka dia tidak bisa menggantinya meski dengan puasa setahun." (HR. Abu Dawud)

Golongan yang Boleh Tidak Berpuasa

puasa ramadhan hukumnya
Ilustrasi puasa Ramadan (freepik/rawpixel.com)

Hukum puasa Ramadan adalah wajib, namun ada beberapa golongan umat Muslim yang diizinkan Allah SWT untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan.

Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 184 yakni sebagai berikut:

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 184)

Berdasarkan ayat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa golongan yang boleh tidak berpuasa Ramadan adalah:

1. Jatuh sakit

Umat Muslim yang sakit boleh meninggalkan puasa dan menggantinya dengan qadha atau fidyah berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Apalagi, jika berpuasa dapat menambah tingkat keparahan penyakit dan justru membahayakan nyawa, maka umat Muslim boleh membatalkan puasanya.

2. Bepergian (musafir)

Umat Muslim yang sedang bepergian atau musafir, termasuk golongan orang yang boleh tidak berpuasa Ramadhan, dengan ketentuan:

  • Jarak antara tempat tinggal dengan titik yang dituju tidak kurang dari 84 km.
  • Musafir harus berada di perjalanan dan keluar dari wilayah tempat tinggalnya, saat memasuki waktu Subuh di hari ia tidak berpuasa.

3. Ibu hamil dan menyusui

Baik ibu yang sedang hamil maupun yang tengah memberikan Air Susu Ibu (ASI), tidak diwajibkan berpuasa demi keselamatan janin dan bayinya.

Nantinya, puasa yang ditinggalkan akan digantikan dengan qadha di hari lain atau membayar fidyah.

4. Haid atau nifas

Dalam Islam, perempuan yang mengalami datang bulan atau haid, diharamkan berpuasa di bulan Ramadhan.

Begitu pula perempuan yang sedang nifas setelah melahirkan, haram hukumnya berpuasa Ramadhan.

Kelak, puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadan tersebut, harus diganti dengan qadha di hari lain.

5. Lanjut usia

Orang tua yang lanjut usia (lansia) juga diperbolehkan meninggalkan puasa Ramadan jika memberatkan kondisinya yang sudah lemah dan renta. 

Mereka boleh mengganti puasa tersebut dengan membayar fidyah sesuai dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan.

6. Hilang akal sehat (gila)

Berakal sehat merupakan salah satu syarat sah puasa Ramadan. Sebaliknya, orang yang kehilangan akal sehat, boleh tidak berpuasa.

Namun, bagi yang hilang akal sehat karena disengaja (misalnya mabuk), maka puasanya wajib diganti dengan qadha.

Sedangkan bagi yang hilang akal sehat tanpa disengaja (benar-benar gila), maka utang puasanya tidak perlu diganti.

7. Anak kecil

Golongan yang boleh tidak puasa Ramadan selanjutnya yaitu anak kecil yang belum dewasa (akil baligh).

Anak kecil yang tetap berpuasa namun dapat membedakan mana hal baik dan buruk, maka ibadah puasanya tetap sah meski belum diwajibkan berpuasa.


Demikianlah penjelasan mengenai puasa Ramadan hukumnya apa bagi umat Muslim menurut Al-Quran dan hadis. Semoga bermanfaat, ya!

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Ikhsan
Indriyana
Ikhsan

Ikhsan

Editor
Indriyana

Indriyana

Writer
JOIN US
JOIN US