Singapura Menjadi Kota Terpintar dalam Smart City Index 2019
Singapura (Pexels/Kin Pastor)
Life

Singapura Menjadi Kota Terpintar dalam Smart City Index 2019

Menarik investasi dan bakat

Bela
Sabtu, 12 Oktober 2019 15:15 WIB 12 Oktober 2019, 15:15 WIB

INDOZONE.ID - Singapura merupakan negara terkuat pemegang visa, warga negaranya dapat pergi bebas visa ke 190 negara. 

Bukan hanya itu saja, dari 102 kota di dunia, Singapura secara resmi penempati peringkat kota terpintar 2019 dalam Smart City Index 2019 (SCI).

SCI bekerja sama dengan Smart City Observatory Center IMD World Competitiveness Center pada 3 Oktober 2019 mensurvei negara mana saja yang menjadi indikasi peringkat kota terpintar. 

Dan dari 102 negara, berikut 10 negara yang berhasil menempati Peringkat Kota Terpintar 2019 dalam Smart City Index 2019 (SCI).

  1. Singapura  
  2. Zurich
  3. Oslo  
  4. Jenewa  
  5. Kopenhagen
  6. Auckland  
  7. Kota Taipei
  8. Helsinki  
  9. Bilbao 
  10. Dusseldorf 

Indeks global ini berfokus pada peringkat daerah perkotaan berdasarkan persepsi dari warganya. Bagaimana warga negara merasakan skala dan dampak  untuk membuat kota mereka terlihat 'pintar' dan juga seimbang dengan aspek ekonomi dan teknologi.

Karena itu, sudut pandang warga sangat dipertimbangkan, menyorot dari pentingnya menyelaraskan kebijakan dengan kehidupan dan kebutuhan warga.

SCI menilai upaya dan keberhasilan kota dalam merangkul teknologi pintar untuk meningkatkan kehidupan warganya, dianggap mampu menilai setiap kota pada tingkat 'kecerdasan' tertentu.

Menjadi kota 'pintar' yang diakui secara global memiliki manfaat tersendiri. Hal ini menjadi sangat penting untuk menarik investasi dan bakat, juga menciptakan 'siklus yang baik' dan potensial yang berpihak pada kota maju dunia seperti Singapura, Zurich dan Oslo.

Kota pintar juga menciptakan lingkungan yang optimal bagi kota untuk bereksperimen di area kritis. Area-area ini berkisar dari perencanaan kota, energi berkelanjutan, dan strategi transportasi hingga integrasi sosial dan kemampuan bakat. 

"Kota pintar tumbuh dan berkembang di semua bagian dunia" jelas Profesor Arturo Bris, Direktur Pusat Daya Saing Dunia IMD

Ia menekankan bahwa sebagai hasilnya, kota pintar selaras dengan realitas kemajuan ekonomi untuk warganya. 

Kota-kota di negara-negara miskin menghadapi kelemahan, yang membutuhkan tindakan khusus untuk memperbaiki berbagai permasalahan menuju kecerdasan, dan mengalami kesulitan untuk fokus menjadi kota pintar.

Kualitas hidup seseorang seperti lingkungan, keselamatan, akses ke layanan kesehatan dan pendidikan, juga mobilitas dan interaksi sosial memainkan peranan yang lebih menonjol dalam aspirasi warga untuk 'kota pintar' di seluruh dunia.

Kota pintar dapat lebih fokus untuk menjembatani kesenjangan antara prioritas pemerintah kota dan mereka yang relevan dengan warganya. 

SCI menemukan bahwa banyak teknologi yang sebagian besar masih diabaikan oleh penduduk yang mereka klaim butuh dilayani, yang merupakan area yang membutuhkan perbaikan di banyak negara.

Ringkasnya, Bruno Lanvin, Presiden Smart City Observatory IMD di IMD World Competitiveness Center menyimpulkan 

"Kota-kota pintar menjadi magnet untuk investasi, bakat dan perdagangan." katanya.  

Namun, ia juga mengakui bahwa banyak upaya telah dilakukan ke daerah-daerah yang "terputus dari aspirasi warga dalam jangka panjang."

Di sinilah indeks ini berguna, karena menurut Prof Lanvin, SCI adalah indeks pertama dan unik yang bermaksud untuk mengisi kesenjangan dengan menjadi referensi dan alat untuk bertindak membangun kota yang inklusif dan dinamis. 

SCI telah mengubah cara kota-kota perkotaan akan dilihat, di mana 'kecerdasan' tidak lagi diukur murni oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh persepsi warga itu sendiri.

TAG
Bela
Bela

Bela

Editor
TERKAIT DENGAN INI
ARTIKEL LAINNYA
LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU