The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Orangutan Ternyata Lebih Cerdas Dari Perkiraan Ilmuwan: Induk Ajarkan Mandiri dari Bayi
Induk orangutan ajarkan anaknya mandiri supaya bisa makan. (Foto/Shutterstock)
Life

Orangutan Ternyata Lebih Cerdas Dari Perkiraan Ilmuwan: Induk Ajarkan Mandiri dari Bayi

Sabtu, 01 Januari 2022 16:29 WIB 01 Januari 2022, 16:29 WIB

INDOZONE.ID - Orangutan ternyata hewan primata yang cukup cerdas dibandingkan yang lainnya. Kesimpulan ini merupakan hasil studi kelompok ilmuwan usai mempelajari tingkah laku mereka selama kurang lebih 12 tahun.

Menurut ilmuwan di Jerman, induk orangutan secara bertahap menyesuaikan berapa banyak makanan yang mereka bagikan kepada keturunannya untuk membantu mereka belajar lebih cepat dan mandiri.

Para peneliti dari Max Planck Institute of Animal Behavior di Konstanz, menganalisis perilaku antara induk dan bayi orangutan di Sumatera, Indonesia.

Mereka mengklaim telah menemukan bukti pertama keterlibatan aktif induk orangutan dalam memberikan pembelajaran keterampilan baru keturunan mereka.

Orangutan sumatera di Stasiun Riset Suaq Belimbing yang mudah dilihat. (Foto: Mongabay Indonesia)
Orangutan sumatera di Stasiun Riset Suaq Belimbing yang mudah dilihat. (Foto: Mongabay Indonesia)

Saat induk orangutan mencari makan, mereka 'menyesuaikan perilakunya' dengan usia dan kemampuan anak-anaknya, sehingga membantu anaknya bisa mandiri dan hidup tanpa ketergantungan dari induknya.

Setelah bayi orangutan menjadi mandiri, induknya dapat bereproduksi lagi, jadi menyesuaikan perilaku mereka dengan cara ini juga bermanfaat bagi induknya.

"Orangutan yang belum dewasa memperoleh keterampilan makan mereka selama beberapa tahun, melalui pembelajaran sosial dan mandiri," kata para peneliti dalam makalah penelitian mereka seperti yang dilaporkan Scientific Reports.

"Sejauh ini belum diteliti sejauh mana induk orangutan terlibat aktif dalam proses pembelajaran ini."

"Kami menyimpulkan bahwa induk orangutan memiliki peran yang lebih aktif dalam perolehan keterampilan anak-anak mereka daripada yang diperkirakan sebelumnya."

Melansir Daily Mail, ada empat klasifikasi hidup kera besar atau 'Hominidae' – Orangutan, Gorila, Pan (terdiri dari simpanse dan bonobo) dan Homo, di mana hanya manusia modern yang tersisa.

Orangutan di pusat konservasi Suaq Belimbing. (Foto:Mongabay Indonesia)
Orangutan di pusat konservasi Suaq Belimbing. (Foto:Mongabay Indonesia)

Manusia saat ini pada dasarnya berbeda dari kera besar lainnya, terutama karena kita hidup di tanah, berjalan dengan dua kaki dan memiliki otak yang jauh lebih besar.

Tetapi menurut para peneliti ketika menjadi ibu, orangutan adalah hewan yang istimewa.

Induk orangutan akan tetap berhubungan dekat dengan bayinya hingga sembilan tahun, lebih lama dari hampir semua mamalia selain manusia.

Sama seperti manusia, orangutan bergantung pada ibu mereka untuk mempelajari keterampilan hidup, seperti apa yang harus dimakan dan di mana menemukannya, sebelum mereka akhirnya mencapai kemandirian.

Namun tidak seperti manusia, induk orangutan tidak diketahui berpartisipasi dalam pembelajaran anak-anaknya. Selama ini induk orangutan dianggap sebagai contoh yang pasif daripada guru aktif.

Selama delapan hingga sembilan tahun masa penyapihan, orangutan yang belum dewasa harus belajar mengenali dan memproses lebih dari 200 jenis makanan, banyak di antaranya memerlukan adaptasi sebelum mereka bisa mandiri.

Misalnya, bunga dan daun yang mudah dimakan tidak memerlukan pengolahan, sedangkan kulit kayu harus dilonggarkan dari pohon dan digores dengan gigi untuk menghilangkan bagian nutrisinya.

Makanan yang paling sulit membutuhkan alat, seperti batang kayu yang diubah menjadi alat untuk menggali madu dari sarang lebah.

Cara orangutan yang belum dewasa mempelajari keterampilan mencari makan yang begitu rumit, menurut penelitian sebelumnya, adalah dengan memperhatikan induknya saat dia makan.

Mereka juga akan mengemis atau 'meminta' makanan yang sedang dimakan ibunya, biasanya dengan mencoba mengambil benda itu dari tangannya.

Tapi itu adalah misteri mengapa proses belajar begitu 'sepihak', di mana sang ibu tampak tidak secara aktif 'mengajarkan' anak-anaknya.

"Membingungkan bahwa ibu selalu tampak begitu pasif selama interaksi makan ini," kata peneliti Dr Caroline Schuppli.

"Para ibu memiliki begitu banyak waktu dengan anak-anak mereka, dan memelihara hubungan yang dekat, tetapi mereka tampaknya tidak pernah terlibat secara aktif dalam memberikan makan kepada anak-anak mereka."

Untuk penelitian ini, Dr Schuppli bekerja sama dengan peneliti dari Universitas Zurich di Swiss, Universitas Nasional di Indonesia, dan Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusioner di Jerman untuk mengumpulkan data tentang peran ibu orangutan dalam pengembangan keterampilan anaknya.

Mereka menganalisis data pada 1.300 kasus mengemis, atau 'meminta makanan', bayi orangutan meminta atau merampas makanan dari ibu.

Dari 27 orangutan Sumatera yang belum dewasa yang dikumpulkan selama 12 tahun di daerah penelitian Suaq Belimbing di Aceh Selatan, Aceh, Indonesia.

Untuk setiap peristiwa, mereka nilai apakah orangutan akan membiarkan anaknya yang belum dewasa mengambil makanan atau tidak, dan kemudian menganalisisnya dengan informasi tentang usia individu yang mengemis dan sifat-sifat makanan tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk orangutan merespon anak-anaknya selama menyusui, dan oleh karena itu memberikannya kesempatan belajar.

Ketika anak-anaknya meminta makanan, induk orangutan menyesuaikan 'toleransi' mereka sesuai dengan usia anak mereka dan seberapa sulit makanan itu diproses.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay
JOIN US
JOIN US