Alasan Ilmiah Orang Mudah Dibujuk Untuk Lakukan Bom Bunuh Diri
photo/Ilustrasi/Royal Stampede
Life

Alasan Ilmiah Orang Mudah Dibujuk Untuk Lakukan Bom Bunuh Diri

Rabu, 13 November 2019 14:52 WIB 13 November 2019, 14:52 WIB

INDOZONE.ID - Masyarakat Indonesia kembali digegerkan dengan ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan, Sumatera Utara pada Rabu (13/11). Peristiwa itu diketahui terjadi sekitar pukul 08.45 WIB.

Pelaku bom Polrestabes Medan diduga berjumlah dua orang. Salah satunya tewas karena disinyalir menjadi pelaku bom bunuh diri. Ketika peristiwa terjadi, yang bersangkutan mengenakan jaket ojek online. 

Menurut informasi, pelaku masuk melalui pintu depan menuju Bagian Operasional (Bag Op) Polrestabes Medan. Sesampai di sana, pelaku meledakkan diri dan dinyatakan tewas dengan tubuh hancur. Diketahui, ada enam orang yang menjadi korban bom bunuh diri. Salah satunya dikabarkan seorang warga sipil.

bom bunuh diri polrestabes medan
ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

Lantas, apa sebenarnya yang menjadi alasan orang mudah dibujuk untuk melakukan bom bunuh diri?

Pada dasarnya, pertanyaan di atas masih 'abu-abu'. Dalam artian, masih belum ditemukan penyebab pastinya. Namun, para ahli menyebutkan setidaknya ada dua hal yang menyebabkan seseorang melakukan bom bunuh diri. Pertama, penyimpangan perilaku dan kedua, kecacatan psikologis.

Ada juga pendapat lain menyatakan bahwa tindakan ekstrem itu dilakukan seseorang demi mendapat predikat sebagai pahlawan atau penyatuan jati diri dengan kelompok. Ya, kurang lebih seseorang ingin membuat dirinya bak pahlawan di medan perang yang rela mati demi membela suatu kelompok, negara, dan lainnya.

Peneliti dari Universitas Oxford, Harvey Whitehouse mengatakan penyatuan jati diri (identity fusion) berperan besar mendorong seseorang untuk rela mati demi kelompok dan keyakinan agama mereka. Persamaan pandangan bahwa setiap anggota kelompok adalah saudara sehidup semati, memunculkan keinginan melindungi satu sama lain dengan bentuk pengorbanan diri.

Bom bunuh diri
photo/Ilustrasi bom bunuh diri/gaceta.es

Beberapa teori sebelumnya menjelaskan bahwa motivasi seseorang berperilaku ekstrem adalah identitas kolektif, permusuhan dengan lawan, kedekatan psikologis dengan kerabat, dan pengaruh gangguan mental.

Satu sisi, orang nekat melakukan bom bunuh diri karena berpendidikan rendah, sehingga mudah 'termakan' doktrin dan menerima semuanya secara mentah-mentah. Dalam psikologi, ini dinamakan true believerism atau keyakinan sejati.

True believerism serupa dengan tindakan cuci otak. Seseorang dipengaruhi pola berpikirnya untuk menuruti keinginan suatu kelompok. Entah bagaimana caranya, seseorang itu akan melakukan apa pun yang diminta tanpa melawan.

Awal Bom Bunuh Diri

Dihimpun dari berbagai sumber, awal mula munculnya bom bunuh diri pada tahun 1981. Ketika itu bocah laki-laki berusia 13 tahun bernama Hossein Fahmideh. Ia diketahui menggenggam granat dan melemparkan dirinya ke bawah mobil tank ketika perang antara Iran dan Irak.

bom bunuh diri
photo/Ilustrasi bom bunuh diri/Huffington Post

Sejak saat itu, bom bunuh diri dianggap sebagai cara paling tepat untuk membumihanguskan musuh. Ribuan pemuda Iran pun terinspirasi melakukan hal serupa, namun mereka mengatasnamakan perbuatan jihad di jalan kebenaran.

Namun belakangan ini, kebanyakan kasus bom bunuh diri sering dikaitkan dengan paradoks dalam ajaran Islam. Padahal, semua agama di dunia ini mengharamkan perbuatan bunuh diri. Apalagi, jika berkedok jihad tapi justru menghabisi nyawa orang yang tidak bersalah.

Bom bunuh diri tentu merugikan banyak pihak. Di satu sisi, korban-korban bom bunuh diri bergelimpangan selama ini adalah orang-orang yang tidak melakukan perlawanan, pun tidak tahu-menahu soal motif tertentu si pelaku.

Perkembangan Temuan Ilmiah

bom bunuh diri
photo/Ilustrasi/caminhanteaprendiz.com.br

Menurut temuan dari peneliti Universitas Tel Aviv di Israel, pelaku bom bunuh diri cenderung terintimidasi, mudah dikendalikan, dan depresif. Meski umumnya agama sering dijadikan motivasi dalam tindakan ekstrem ini, namun hal itu tidak berlaku pada semua pelaku.

Seorang psikiater Muslim di Palestina, Dr. Eyad Sarraj mengatakan pelaku bom bunuh diri memiliki karakter penakut, introvert (tertutup), sulit berkomunikasi, dan sama sekali tidak melakukan kekerasan. Mereka kemudian melakukan aksi bunuh diri karena dianggap bisa mengatasi kekurangan mereka tersebut. Mereka ingin menunjukkan keberanian dalam diri dengan sebuah kematian.

Aksi bom bunuh diri juga dipicu oleh taraf kehidupan seseorang atau kemiskinan, serta keinginan balas dendam. Para pelaku bom bunuh diri tidak hanya dari kalangan pria, melainkan mulai dilakukan oleh perempuan juga.

bom bunuh diri
photo/Ilustrasi/Royal Stampede

Berdasarkan laporan ilmiah 2018 oleh Universitas Tel Aviv Israel menemukan fakta bahwa jumlah pelaku bom bunuh diri di seluruh dunia sepanjang 2017 mengalami penurunan. Hanya, pelaku bom bunuh diri dari kalangan perempuan justru meningkat.

Menurut psikoanalis Dr. Nancy Kobrin dari American Center for Democracy, perempuan biasanya dipaksa, tapi tidak menutup kemungkinan pula jika sebagian besarnya melakukan hal itu secara sukarela dan dorongan dari diri sendiri. Beberapa faktor penyebabnya yakni kehidupan menyedihkan, dilecehkan laki-laki, merasa menderita, putus asa, hingga motif balas dendam.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Rizka
Rizka
Rizka

Rizka

Editor
Rizka

Rizka

Reporter

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU